[Review] Series: Brata, Drama Kriminal Lokal dengan Nuansa Kelam yang Nyata - Dya Ragil

Breaking

13 Juli 2019

[Review] Series: Brata, Drama Kriminal Lokal dengan Nuansa Kelam yang Nyata


Seorang polisi yang memiliki gaji pas-pasan dengan hutang menumpuk dari rentenir jahat, tiba-tiba mendapatkan kasus yang bisa membuatnya mendapat "tambahan uang" jika mau menyelewengkan jabatan. Pertanyaannya, apakah si polisi bersangkutan akan melakukan hal itu atau tetap menjadi polisi jujur seperti prinsipnya?

Dialah Brata, tokoh utama dalam serial Brata yang merupakan produksi original dari HOOQ. Serial kriminal buatan anak negeri ini terdiri dari enam episode. Karena saya berlangganan MaxStream meski hanya demi mendapatkan akses ke Bein Sport dan Discovery Channel, akhirnya bisa juga menonton Brata. Kebetulan serial-serial HOOQ bisa ditonton via MaxStream. Kebetulan yang menyenangkan, ya?

Saya tahu serial ini dari pembicaraan ngalor-ngidul di grup chat teman-teman penulis. Entah bagaimana, pembicaraan menyasar ke arah serial besutan HOOQ ini. Barulah akhir-akhir ini saya bisa maraton menontonnya. Patut disayangkan karena promosi Brata tidak cukup gencar sampai-sampai saya terlambat tahu kabarnya. Padahal produksi Brata sendiri tidak main-main.

Ya, produksi yang tidak main-main.

Saya langsung tertarik begitu tahu HOOQ menggandeng E.S. Ito sebagai penulis ceritanya. Saya mengenal E.S. Ito dari novel Negara Kelima. Seketika itu juga ekspektasi saya pada serial ini naik. Paling tidak, E.S. Ito adalah jaminan bahwa serial kriminal ini tetap setia pada jalur misteri, tidak berbelok mendadak ke arah cerita roman picisan. Sesuai ekspektasi saya, memang itulah yang terjadi.

Kita akan disuguhi tentang karakter Brata, diperankan oleh Oka Antara, yang ternyata bukanlah seorang polisi "hitam-putih" dan murni baik seperti khas protagonis sinetron Indonesia. Brata adalah karakter abu-abu. Sejak awal, dia ditampakkan sebagai polisi yang tidak ragu menggunakan kekerasan dalam investigasi agar kasusnya cepat selesai. Sedikit banyak, Brata ini vibe-nya mengingatkan saya pada Jack Bauer yang diperankan Kiefer Sutherland di serial Twenty Four. Dan saya suka. Saya memang beberapa kali kesal dan marah pada karakter Brata, tapi justru di situ menariknya, kan? Tokoh utama--apalagi polisi--yang baik dan patuh di sepanjang serial itu membosankan.

Sejak episode pertama, kita juga akan langsung berhadapan dengan kasus pembunuhan mutilasi di gedung kosong. Darah dan potongan tubuh diperlihatkan dengan jelas, tanpa sensor. Mungkin karena itu juga, serial ini tidak memungkinkan tayang di TV nasional. Kekerasan dan umpatan yang muncul pun tidak tanggung-tanggung dan tidak coba diperhalus. Kasar, menohok, dan apa adanya. Serial ini juga dibuat agar tone-nya terkesan noir, gelap, dan kelam. Meskipun ada sedikit romantisme, itu hanya pelengkap dan bukan penghalang alur ceritanya untuk terus maju.

Laura Basuki, Yayu Unru, bahkan Bisma SMASH, memerankan tokoh pendukung dengan sangat baik. Terkhusus Bisma yang memerankan karakter Teja. Saya butuh waktu sangat lama untuk menyadari bahwa aktor yang memerankan tokoh OB di kepolisian itu adalah Bisma SMASH. Saya suka sekali aktingnya di serial Brata, pokoknya top notch.

Ada dua hal besar yang membuat saya terganggu selama menonton Brata. Bukan tentang tingginya tingkat kekerasan yang tidak coba ditutup-tutupi di serial ini, tentu saja. Justru itu adalah sesuatu yang bagus dan nyata untuk sebuah drama kriminal. Saya lebih terganggu dengan hadirnya unsur perdukunan. Saya suka cerita fantasi, tapi harapan saya untuk Brata adalah cerita kriminal murni tanpa merembet ke arah perdukunan.

Hal kedua yang mengganggu saya adalah mudahnya saya bisa menebak sejak awal siapa pelakunya. Saya berharap serial ini mampu membawa saya ke dalam misterinya dan pada akhirnya membuat saya terkejut akan twist-nya. Beberapa twist kecil memang diolah bagus sehingga berhasil mengejutkan saya. Namun, Brata justru gagal menyembunyikan twist terbesarnya. Bahkan sejak kemunculan pertama si pelaku, saya selalu berkata, "Jangan bilang, dia pelakunya." Sepanjang serial, saya selalu mencari-cari bukti untuk meyakinkan diri bahwa dia bukan pelakunya. Namun, semakin banyak bukti terkumpul dan fakta terungkap, semakin saya yakin bahwa dia adalah pelakunya. Dan ketika identitas pelaku dibeberkan, saya kecewa karena tebakan saya ternyata benar.

Secara keseluruhan, Brata merupakan drama kriminal lokal yang digarap dengan baik. Para cast yang terpilih pun sanggup secara mumpuni menghidupkan para karakter sehingga menimbulkan dinamika yang menarik di sepanjang serial. Kalau kamu suka drama kriminal luar negeri seperti Twenty Four, CSI, True Detective, atau bahkan Sherlock BBC, tidak ada salahnya untuk mencoba tontonan serial misteri dalam negeri semisal Brata, sebagai alternatif lain.

Rating: 7/10


Berikut saya sertakan trailernya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar