Gaya Hidup Minimalis adalah tentang Mindset - Dya Ragil

Breaking

5 Juli 2019

Gaya Hidup Minimalis adalah tentang Mindset

Apa yang terbayang saat membaca sebaris kalimat: gaya hidup minimalis?



Memiliki rumah kecil serba minim, baik desain maupun perabotan? Punya barang kepemilikan yang sangat sedikit? Selalu mengenakan pakaian yang hanya satu warna seperti yang biasa dilakukan Steve Jobs atau Mark Zuckerberg?

Nope.

It's all about mindset.

Sejatinya, gaya hidup minimalis bagi tiap-tiap orang bisa sangat berbeda. Hal yang paling penting bukanlah berlomba-lomba hidup serba kurang dan menarget harus punya maksimal sekian barang saja. Bukan itu.

Minimalis bukan tentang angka. Seberapa sedikit kamu punya ini? Seberapa sedikit kamu punya itu? Bukan. Minimalis bukan tentang hidup serba kekurangan. Minimalis adalah tentang "cukup" dan fokus pada apa yang kamu butuhkan, bukan pada apa yang kamu inginkan.

Berarti jika kita hidup dengan hanya memiliki apa yang kita butuhkan karena alasan finansial, itu juga bisa disebut gaya hidup minimalis, dong.

Nope. Itu namanya gaya hidup terpaksa #justkidding

Minimalis adalah tentang kesukarelaan. Esensi hidup minimalis adalah sekaya dan sesanggup apa pun kamu hidup mewah, kamu tetap memilih hidup sederhana dan tidak berlebihan.

What's so special about minimalist lifestyle, then?


Pernahkah kamu menonton sinetron atau FTV yang selalu menekankan bahwa penanda kesuksesan seseorang adalah pindah rumah ke rumah yang lebih mewah, punya mobil, dan segala tetek bengek horang kaya lainnya?


Ask yourself. Benarkah gaya hidup serba mewah adalah penanda kesuksesan? Benarkah kita akan lebih bahagia dengan punya rumah lebih besar dan lebih mewah, punya mobil bagus, punya segala hal? Mungkin benar untuk sebagian orang. Namun, sebagian yang lain justru berpendapat sebaliknya.


Keterikatan kepada benda duniawi adalah sesuatu yang dihindari oleh para pelaku gaya hidup minimalis. Bukan berarti tidak butuh. Para minimalist sengaja memilah mana yang benar-benar esensial dalam hidup mereka. Kalau bisa tinggal di rumah sederhana ukuran 36, kenapa harus repot-repot keluar uang banyak untuk membeli rumah mewah bertingkat yang bahkan tidak semua ruangan akan terpakai? Uang banyak itu bisa dipakai untuk hal lain, semisal pengalaman.


Yap. Pengalaman.


Liburan, ilmu, rekreasi, bersedekah. Memang wujudnya tak terlihat, tapi manfaatnya akan terasa nyata jika kita mau menelisiknya ke dalam diri kita sendiri. Kepuasan batin jauh lebih berharga daripada kepuasan material, kan?


Tell me your thoughts in the comment. It's okay if you don't agree with me. Everyone are allowed to have a different opinion.


Salam~


Tidak ada komentar:

Posting Komentar