6 Agustus 2018

, , , ,

Decluttering Bookshelf: Part #1

Halo, Guys.

Jadi ceritanya begini.

Sebelumnya saya ingin bertanya dulu. Pernahkah kalian merasa sedang berada di titik "hidup segan mati tak mau", sehingga walaupun tidak punya banyak kesulitan hidup, tapi ternyata kalian tidak bahagia?

Saya sedang berada dalam titik itu sekarang. Saya pun bertanya-tanya, apa yang salah? Padahal cita-cita saya sejak kecil sebagai komikus, sudah setengah terwujud (pekerjaan sebagai comic scriptwriter bisa dianggap cita-cita saya setengah tercapai, kan?). Saya juga punya tiga novel yang sudah diterbitkan dan sedang dalam proses penulisan novel ke-4, yang akhirnya bisa membuat saya dengan yakin berkata, "Saya seorang penulis, bukan pengangguran."

Namun, kenyataannya saya tidak bahagia.

Lalu, apa yang salah?

Nah, intinya setelah perenungan sangat lama, saya menemukan salah satu faktor yang membuat saya merasa stagnan dan begitu-begitu saja, yaitu media sosial. Ya, waktu saya lebih lama saya habiskan dengan memegang dan memelototi ponsel, hanya untuk menelusuri media sosial dengan sangat nirfaedah. Karena itu, saya memutuskan menantang diri sendiri untuk hidup tanpa media sosial selama sebulan, dimulai pada tanggal 24 Juli dan akan diakhiri tanggal 24 Agustus. Ya, saat ini saya sedang dalam masa-masa tanpa sosial media. Lalu, manfaatnya? Nanti, akan saya sampaikan di postingan terpisah.

Sekarang masuk ke inti postingan ini. Mohon maaf sebelumnya karena pendahuluannya kepanjangan.

Jadi, selama masa-masa tanpa media sosial, google chrome saya jadi lebih bermanfaat karena saya alihkan untuk mencari inspirasi-inspirasi hidup bahagia di luar sana. Kemudian, alkisah, sampailah saya pada satu penemuan, yaitu gaya hidup minimalis.


Less is More


Apa itu "less is more"?

"Less is more" biasa digunakan sebagai jargon gaya hidup minimalis. Lebih sedikit lebih baik. Semakin sedikit keterikatan kita pada barang-barang kita, semakin kita bisa hidup tanpa beban.

Nah, dari situlah saya mulai mengurangi barang-barang saya yang sudah tak terpakai lagi. Hal pertama yang saya lakukan adalah menyeleksi isi lemari, mana yang sudah tak terpakai (kalau masih bagus, bisa didonasikan), mana yang sudah rusak, dan akhirnya isi lemari saya sekarang cuma pakaian-pakaian yang masih sering saya pakai. Hasilnya, sepertiga isi lemari saya berhasil saya singkirkan. Sekarang saya tidak merasa sumpek lagi saat membuka lemari. Saya tidak merasa pusing harus pakai baju apa lagi karena terlalu banyak pilihan.

Minimalis artinya menyederhanakan. Simplify your life, and you won't live with burden


Decluttering Bookshelf

Nah, karena lemari sudah, sekarang giliran rak buku saya yang perlu dikurangi.

Pilihan pertama, menjual buku-buku kolpri (koleksi pribadi) dengan harga murah. Saya tidak memilih pilihan ini karena saya hanya akan kecewa jika ternyata tidak ada yang tertarik untuk membeli. Saya juga akan merasa tidak ikhlas untuk menyingkirkan sebagian isi rak buku jika tidak ada bayaran dan itu berpotensi akan mempunyai efek negatif yang berkepanjangan buat saya.

Pilihan kedua, menghibahkan buku-buku kolpri saya kepada siapa pun yang ingin punya. Dan pilihan inilah yang saya pilih.

Jadi begini, Guys

Saya akan memosting foto buku-buku saya di sini. Kalau ada buku yang menarik menurut kalian, jangan ragu hubungi saya di email dyaragil@gmail.com ya. 

Jangan khawatir, bukunya gratis, kok. Paling juga saya hanya akan meminta biaya ongkos kirim saja, karena saya sedang tidak dalam posisi memiliki "kebebasan finansial" yang longgar sehingga bisa memfasilitasi free ongkir.

Edisi pertama decluttering bookshelf ini adalah buku-buku non-fiksi. Apakah buku-buku fiksi pun nantinya akan masuk dalam kategori hibah buku gratis? Oh, jelas. Hanya saja, saat ini buku kategori fiksi sedang saya pilah-pilah, jadi hibah buku fiksi akan menyusul di postingan lain.

So, here we go.

1. Edisi Perkomputeran Part #1

2. Edisi Perkomputeran Part #2

3. Edisi tentang Alqur'an

4. Edisi tentang Fiqih Wanita

5. Edisi tentang Hari Akhir

6. Edisi lain-lain


Nah, seperti itu ya, Guys.

Feel free untuk menghubungi saya lewat email jika tertarik. Berhubung saya sedang puasa media sosial selama sebulan, untuk sementara ini saya tidak bisa dihubungi lewat Facebook, Twitter, dan Instagram. Mohon pengertiannya ya.

Sekian dan terima kasih.

Salam.



P.S. Mohon maaf karena kualitas foto buku-buku saya tidak terlalu baik, karena menggunakan kamera ponsel saya yang seadanya.


Share:

0 komentar:

Posting Komentar