15 November 2016

,

[Review] Novel: Pay It Forward



Penulis: Emma Grace
ISBN13: 9786020315010
Halaman: 256 halaman, paperback

Sinopsis:
Tedjas

Astaga, gadis itu sudah gila. Pasti! Gue nggak pernah berminat untuk komentar di status orang di Facebook, apalagi ikut-ikutan dalam permainan apa pun. Tapi, gadis itu bilang apa tadi? Pay It Forward? Cih, permainan apa itu?
Gitta
Aku nggak pernah mengira bisa membenci seorang pria, seperti aku membenci Tedjas. Sejak pertama bertemu, dia selalu bersikap menyebalkan. Seakan belum cukup, dia juga menghinaku habis-habisan di depan banyak orang. Semakin jauh jarak terbentang di antara kami, itu semakin baik!
Itu yang Tedjas dan Gitta pikirkan. Tapi ketika rasa cinta menggedor semakin kuat, sanggupkah mereka berdua tetap berpura-pura bahwa kedekatan itu tak pernah nyata?


Review:

Oke, mulai dari mana, ya?
 
Saya nggak akan membahas ceritanya, karena sudah banyak dibahas reviewer lain. Jadi langsung saja deh.

1. Premis dan Plot

Sejujurnya, premisnya sangat menarik dan cara penulis menggulirkan plotnya pun cukup fresh buat saya. Tidak ada masalah dalam hal ini, saya cukup menyukai jalinan ceritanya.

2. Karakter

Entah ya, somehow saya merasa karakter-karakter di sini hateable. Serius. Yah, ini selera saja sih. Bukan mengenai karakternya sendiri, melainkan cara penulis menggambarkan karakternya. Terlihat memaksakan sekali, seolah pengen bilang, “ini lho karakter cewek kaya itu nggak semuanya manja, dia juga bisa beradaptasi sama kehidupan rakyat jelata.” Atau, “ini lho, preman kampus yang berandal sangat itu juga bisa sangat bertanggung jawab.”

Sekali lagi, bukan karakternya yang jadi masalah. Tapi, setiap kali habis adegan yang menggambarkan si karakter cewek itu ternyata nggak manja dan si karakter cowok itu ternyata nggak badung, penulis perlu dan amat sangat butuh memberikan kesimpulan itu kepada pembaca. Serius, itu sangat mengganggu. Saya sudah sukses menebak, oh anak ini begini ternyata, anak itu begitu ternyata. Tiba-tiba, di akhir ada narasi yang menjelaskan bahwa si cowok sangat bertanggung jawab. Iya, literally beneran ditulis begitu. Bayangan saya langsung hancur lebur, dan buku pun lepas dari tangan saya dan sukses terbanting ke lantai. (Maafkan saya, Mbak Emma :P)

Mungkin perlu digarisbawahi. Pembaca itu tidak bodoh. Mereka bisa mengira-ngira bagaimana karakter seseorang dalam sebuah cerita tanpa perlu ditegaskan dengan kesimpulan di akhir adegan. Mungkin kalau kesimpulan itu hanya sekali-dua kali, saya bisa menolerir. Tapi ini terjadi di sepanjang buku. Kesimpulan itu benar-benar merusak suasana hati saya ketika membaca. Otomatis membuat saya malah benci setengah mati sama karakternya. (Sekali lagi maafkan saya, Mbak Emma :P)

3. Narasi

Penulis benar-benar menuliskan setiap adegannya dengan narasi yang apik, lugas, dan tidak berputar-putar. Itu poin plus. Tapi sekali lagi, kesimpulan di akhir adegan itu merusak segalanya. Itu poin minus.

4. Fakta dan Istilah

Fix. Istilah di sini sangat mengganggu. Bab awal yang saya baca itu ada kalimat “Masa Orientasi Siswa”. Oke, berarti flashback-nya masa SMA. Lalu di bawahnya ada penjelasan soal jurusan dan kampus dan segala aktivitas perguruan tinggi lain. JDERRR!!

Reaksi saya: WTF ini yang nulis anak SMA yang lagi ngebayangin masa-masa kuliah kah!?

Lalu, sering banget saya nemu “mata pelajaran” alih-alih “mata kuliah”. Padahal sudah semester tiga kan ya? Nyebut kuliah kok masih ala anak SMA? Masih gagal move on dari masa-masa indah di SMA, ya, Mbak?

Intinya, banyak (BUANGET) istilah yang seharusnya sudah ditinggalkan di bangku sekolah, masih terpakai buat bangku kuliah. Well, bener-bener melatih kesabaran saya banget sih buku ini.

5. Plot twist

Plot twist menjelang ending itu saya nggak suka banget. Datangnya ujug-ujug, mendadak, dan tanpa pemanasan. Satu-satunya yang mengindikasikan karakter tambahan di plot twist itu cuma adegan seuprit di awal bab. Lalu, tanpa tedeng aling-aling, nggak ada angin nggak ada hujan, tiba-tiba muncul di akhir dan jadi penggerak menuju konflik yang bisa dibilang penting. Di sini, saya seriusan ingin banget menutup buku, meletakkannya di rak, dan tak lagi membukanya. Tapi saya selesaikan karena sebentar lagi memang sudah selesai ceritanya. Well, konflik penting terakhir itu pun agak gimana ya… Saya nggak suka, itu aja. Terlalu mendadak dan saya nggak nyangka reaksi para tokohnya bakal seperti itu, cuma gegara tokoh nggak penting. Ya, plot twist-nya sukses bikin saya terkejut, in a bad way.

Well, buku ini pantes banget dapet bintang 4, sebenarnya. Tapi, beberapa bagiannya benar-benar bukan selera saya banget, jadi saya potong satu bintang. Harusnya 2,5 kalau mau jujur, tapi saya bulatin ke atas.

Intinya, bakal ada banyak yang suka sama buku ini kok. Sayanya aja yang kelewat maniak detail sehingga ada sedikit saja detail yang salah akan jadi masalah buat saya.

Sekali lagi, ini soal selera. Dan setengah bagian dari buku ini benar-benar bukan selera saya. Itu saja.


Share:

0 komentar:

Posting Komentar