26 November 2016

, ,

[Review] Novel: Geek in High Heels


Penulis: Octa NH
Halaman: 208 halaman, paperback
ISBN: 9876027572

Sinopsis:
Athaya membuka Blog-nya dan membuat sebuah post baru:
Hai…. Nama saya Athaya. Seorang web designer. Yup, saya memang geek, tapi saya juga stylish; suka koleksi high heels dan memadankannya dengan cat kuku. Saya sedang cari pacar, eh calon suami. Kalau kamu tertarik, feel free to comment ya. Oh ya, umur saya 27 tahun. Sekarang kamu ngerti kan kenapa saya membuat iklan cari jodoh seperti ini? Yes, I’m absolutely pathetic. Problem?! Oke, saya mencari cowok ganteng—

Athaya melirik ke arah cowok berkacamata yang duduk jeda beberapa meja darinya. Cowok itu kelihatan seperti cowok canggung yang manis.

Oke, saya mencari cowok ganteng, berkacamata, menarik, usia tidak boleh lebih dari 35 tahun dan bukan duda, bukan suami orang, bukan selingkuhan orang, dan straight.
Athaya menghela napas, menyesap kopinya, dan meng-klik tombol: Publish! 


Review: 


Hmm, agak merasa bersalah juga karena sudah lama banget saya beli novel ini sejak awal-awal novel ini terbit, tapi baru selesai baca setelah beberapa lama dan baru diulas sekarang.

Yah, spoiler yang saya baca di review-review lain benar-benar menghalangi saya membaca novel ini. Dan, setelah akhirnya menguatkan diri baca, novel ini sesuai sama ekspektasi saya berdasarkan review-review itu: karakter utamanya hateable. Titik.

Plotnya sederhana dan nggak istimewa. Eksekusinya juga biasa saja sih. Padahal premisnya bagus. Geek in high heels gitu, jadi saya sempat berharap karakter geek-nya benar-benar digambarkan dengan baik, tapi yah, itu akan saya bahas nanti deh.

Soal narasi dan gaya bahasa, Mbak Octa sukses menuliskannya secara asyik. Serius, saya sudah kenal tulisan Mbak Octa yang memang selalu santai dan asyik dibaca. Saya lega keasyikan itu nggak berkurang di sini. Masalah typo ada beberapa yang saya temukan sih, tapi bisa dibilang sangat minimal, jadi nggak mengganggu acara membaca saya.

Sebenarnya ada banyak adegan manis di situ, kalau saja saya nggak keburu hilang respect sama si Athaya. Mungkin saya bahkan bisa menikmati ending-nya yang manisnya pas itu. Hanya saja, saya sudah mati rasa sejak sepertiga buku. Well, yah, si Athaya ini niat banget mempermainkan perasaan orang ya? Jadian sama orang yang nggak disuka cuma karena patah hati. Oke, itu sering terjadi di keseharian, tapi tetap saja respect saya langsung hilang sih. Faktor itu juga yang bikin saya nggak bisa menikmati adegan-adegan manis di keseluruhan buku. Bukan salah penulisnya, salahkan saja selera saya hahaha.

Faktor yang paling saya soroti di sini adalah perkara judulnya yang mengambil kata geek. Bahkan si Athaya ngaku sendiri kalau dirinya seorang geek yang fetish sama sepatu. Saya rasa, Mbak Octa salah kaprah sama istilah satu ini. Geek itu seingat saya mendefinisikan tentang seorang yang anti-sosial atau punya masalah dalam bersosialisasi dengan orang-orang di sekitarnya, berpenampilan cupu pula, nggak peduli apa pun pekerjaannya. Tapi di sini justru digambarkan sebaliknya, bahwa Athaya itu seorang yang—saya lihat—nggak punya masalah sama sekali dalam hal sosialisasi. Anaknya gaul banget, malah, dan modis. Satu-satunya hal yang bikin dia ngaku sebagai geek adalah pekerjaannya sebagai Web designer. Well, menurut saya, dia sama sekali nggak geek. Cuma sekadar orang yang ngaku-ngaku geek. Dan itu nggak bikin respect saya bertambah buat dia.

Faktor kedua yang saya soroti itu… soal pekerjaan Kelana. Yah, serius keren banget loh ada penulis selaris itu yang bahkan tiga kali mengadakan meet and greet buat novelnya di kota yang sama dalam waktu berdekatan. Oke, mungkin salah satu atau salah duanya adalah launching novel baru. Bisa dipahami kenapa sampai ada meet and greet. Cuma, secepat itukah? Tiap novel baru terbit, langsung launching gitu ya? Bahkan di kota yang sama terus-terusan, beruntung banget fans-nya di kota itu, tapi sial buat fans-nya di kota lain. Mungkin penulis yang memang benar-benar laku memang bernasib seoke itu kali ya. Saya sendiri nggak pernah nemu penulis yang dalam waktu dekat mengadakan acara di kota yang sama beberapa kali. Adanya kan biasanya si penulis bakal ngadain acaranya lintas-kota. Mungkin itu terjadi sama Kelana juga sih, tapi nggak disebut di novel kalau dia pernah sekali saja pergi ke luar kota buat acara begituan. Beberapa kali memang dia menghilang nggak ada kabar, tapi itu juga cuma gara-gara dia ingin fokus nulis, bukan hal lain.

Ibra yang justru paling normal dan paling bisa berpikir dewasa di sini. Dia memang workaholic yang nggak asyik, tapi itu wajar sih. Soalnya dia mengurusi hajat hidup orang banyak, jadi nggak bisa asal-asalan. Sejak awal saya sudah nebak kalau ini orang bakal oke-oke saja di ending novel. Dan ya, tebakan saya tepat. Dia tetep konsisten dan nggak berubah jadi childish dengan masalah yang dihadapinya. Itu satu-satunya hal yang bikin saya lega waktu merampungkan novel ini. Reaksinya alami, dan nggak dibuat maksa. Dan apa pun ending bagus tentang Athaya di akhir-akhir buku, itu sudah nggak penting lagi buat saya.

Novel ini cocok buat bacaan ringan sih, karena novelnya sendiri juga ringan dan tipis, kecil seukuran novel-novel-nya Enid Blyton yang Lima Sekawan itu lho (Saya punya bukunya Enid Blyton, jadi saya bandingin deh ukuran dan tebalnya—dan memang sama, bahkan novel Lima Sekawan beberapa halaman lebih banyak). Bisa dibaca sekali duduk. BTW, font novel ini ukurannya terlalu kecil, sakit buat mata saya yang minus. Jenis font-nya juga nggak nyaman dibaca. Mungkin penerbit perlu memikirkan untuk mengganti jenis font di proyek novelnya yang lain.

So, saya kasih bintang 3 dari 5 deh. Seharusnya 2,75 sih, tapi saya buletin ke atas buat reaksi Ibra di ending yang tetep dewasa itu.


Share:

0 komentar:

Posting Komentar