12 November 2016

,

Fiksinfo #5 ~ Kebiasaan Baik untuk Seorang Penulis

Sebuah ide cerita mendadak memenuhi otak dan jari-jemari begitu gatal ingin menuliskannya. Namun, pada suatu titik, kamu berhenti menulis. Entah karena kebingungan mengolah ide yang begitu banyak dan mengalir deras, entah karena malas, entah kehilangan motivasi, atau bahkan terkena writer's block.

Semua penulis pernah mengalaminya. Namun hanya yang bisa konsisten dengan kegiatan menulisnya-lah yang bisa bertahan. Menjadi penulis itu tidak dibutuhkan bakat. Hanya satu hal yang dibutuhkan: kemauan keras, baik untuk menyelesaikan naskah maupun untuk terus belajar dari kesalahan. Jujur saja, saya tidak pernah punya sesuatu yang bernama "bakat". Saya hanya orang sains yang keranjingan dengan artikel-artikel kepenulisan di internet dan terperosok dalam hobi menulis. Dan Alhamdulillah, dua naskah yang sudah selesai cukup beruntung untuk bisa terbit. Itu saja.

Nah, itulah masalahnya. Untuk bisa terbit, sebuah naskah harus sudah selesai. Namun, tidak sedikit yang terhenti di tengah jalan. Karena itu, ada sedikit saran yang mungkin bisa membantu kamu untuk bisa setia dengan naskah kamu sampai kelar, bukannya putus di tengah jalan lalu selingkuh dengan naskah baru. Oke, itu garing. Maafkan urat humor saya yang sudah putus ini. Let's begin.



1. Ciptakan area kerja yang baik dan benar.

Namanya menulis, semua orang pasti berharap bisa lancar menulis di mana saja, tidak peduli bising atau tidak. Namun setiap penulis berbeda-beda. Ada yang suka menulis saat sunyi senyap, ada yang suka menulis di kafe, di taman, bahkan di minimarket (saya salah satunya, bisa numpang colokan gratis).

Area kerja bisa di mana saja, asalkan kamu nyaman saat menulis. Dulu, saya pernah menggunakan area kolong meja (iya, ini saya serius) sambil bawa laptop, bantal, dan lampu belajar, lalu sekeliling meja saya tutup selimut agar tidak ada yang mengalihkan fokus saya dari naskah yang sedang saya tulis. Tak lupa siap sedia headphone untuk menyambi dengar musik. Dan itu efektif (sayangnya saya kena marah orang rumah karena area kerja seperti itu bisa membuat mata saya makin rusak, jadi saya terpaksa mengungsi kembali ke tempat yang lebih beres). Sekarang saya suka menulis di kafe atau minimarket atau di mana pun saya bisa menumpang colokan gratis. Walaupun sejauh ini, tempat paling favorit saya adalah kasur, sih. Saya tipe yang tidak suka menulis dalam keheningan. Rasanya jadi seperti di pemakaman. Maka saya selalu membawa earphone ke mana-mana.

Nah, bagaimana dengan kamu? Punya tempat khusus untuk menulis? Atau bisa menulis di mana saja? Apa pun itu, pastikan situasinya pas dengan apa yang kamu inginkan, memberikan rasa nyaman dan aman untuk kamu menulis. Jangan paksakan diri untuk menulis saat kondisinya tidak memungkinkan. Sekali-kali, coba juga tempat baru, suasana baru, hitung-hitung refreshing. Kalau kamu tidak nyaman di tempat baru, tinggalkan.

2. Tentukan jam kerja kamu sendiri.

Masalah jam kerja ini tricky sekali, salah satu penyebab utama saya menjadi makhluk nocturnal. Salahkan otak saya yang memilih untuk menjadi kreatif pada saat seharusnya saya tidur lelap dan mimpi indah. Sering kali ide mengucur deras benar-benar tepat setelah saya menutup mata. Sering kali pula saya memaksakan diri untuk berpikir bahwa saya harus tidur dan pasti akan ingat ide itu keesokan harinya. Apakah itu terjadi? Tidak. Ide itu menguap dan terlupakan, entah terbuang ke antah-berantah otak saya yang bagian mana. Insiden kehilangan ide itulah yang membuat saya terbiasa terjaga sepanjang malam. The end.

Nah, pesan moral dari cerita itu adalah kamu mungkin (dan sangat mungkin) akan menemukan jam kerja yang pas untuk kamu di saat yang benar-benar aneh dan tak terduga. Lalu, solusinya apa? Kalau kamu seperti saya yang tidak bisa mengontrol kemauan otak sendiri, pasrah saja. Nrimo. Makin cepat kamu menerima kenyataan, makin bagus. Dekaplah momen itu erat-erat, lalu menulis secara gila-gilaan. Welcome to the dark side.

Tapi.

Iya, tapi.

Kalau kamu tipe orang yang bisa kapan saja menulis tanpa hambatan berarti, menulislah saat matahari masih di atas kepala dan gunakan malam hari untuk istirahat total. Kalau kamu bisa menulis di pagi, siang, atau sore, jangan memaksakan diri begadang. Jagalah kesehatan, jangan diforsir. Menjaga tubuh yang diberikan oleh Tuhan juga merupakan salah satu bentuk bersyukur.

Lalu, apa para makhluk nocturnal itu tidak bisa bersyukur karena memilih begadang? Yah, itu sih pintar-pintarnya kita saja menjaga diri. Bisa kok memperbanyak tidur siang, atau tidur lebih awal baru nanti tengah malam bangun lagi untuk menulis. Yes or no?

3. Ayo, disiplin!

Kamu seorang pekerja kantoran yang berangkat kerja pagi-pagi dan pulang menjelang petang? Kamu anak sekolah yang sibuk dengan ekskul? Kamu anak kuliah yang jadwalnya tidak menentu? Atau kamu mahasiswa bangkotan seperti saya yang punya waktu luang terlalu banyak sampai kebingungan harus diisi dengan apa tapi senantiasa frustrasi karena dihantui tugas akhir yang tak kunjung selesai?

Take it easy, guys. Dinginkan kepala dan cari pencerahan. Coba deh sediakan waktu barang sejam atau cuma lima belas menit pun tak masalah. Rutinkan, menulislah setiap hari di waktu yang sama. Tidak masalah jika hanya mendapatkan satu halaman, satu paragraf, atau bahkan hanya satu kalimat. Tidak masalah sama sekali. Yang terpenting adalah cerita kita tidak berhenti di tempat. Meski lambat, lebih baik berprogres daripada tidak sama sekali, bukan? 

4. Siapkan catatan di mana pun kamu berada.

Sedia payung sebelum hujan. Sedia buku catatan atau notes ponsel sebelum ide menghilang tak tahu rimbanya. Ya, belakangan ini buku catatan menjadi benda favorit yang saya taruh di sebelah bantal saat menjelang tidur. Jadi, ketika saya benar-benar lelah dan tidak punya kekuatan untuk menulis tapi ide datang tanpa diundang, buku catatan itu menjadi penyelamat bagi saya. Kalau terlalu malas mencatat, notes di ponsel juga bisa menjadi kuda hitam yang bisa diandalkan. Begitulah, ide-ide saya terselamatkan berkat kedua benda itu.

Alat pencatat seperti itu juga bisa benar-benar berguna jika tiba-tiba kamu menemukan suatu informasi yang cukup berguna, siapa tahu bisa jadi ide untuk naskah. Buru-burulah mencatatnya sebelum terlupakan, sesepele apa pun itu. Percaya deh, suatu saat, catatan gaje-mu itu pasti bisa termanfaatkan. Mungkin sekarang, mungkin nanti. Who knows?

5. Tendang Inner Editor jauh-jauh.

Write first, edit later.


Apakah kamu pernah tergoda untuk mengedit naskah sewaktu-waktu? Semisal baru menulis beberapa paragraf, lalu entah mendapat inspirasi dari mana, kamu balik ke paragraf sebelumnya untuk mengubah atau memperbaiki beberapa hal? Yah, sebisa mungkin, jangan lakukan itu. Saat kamu sedang menulis, usir inner editor-mu jauh-jauh, kalau perlu tendang sampai ke Pluto. Saya serius. Sebentar-sebentar mengedit itu adalah salah satu faktor utama yang menyebabkan naskah kamu tidak selesai-selesai.

Tidak pernah ada yang namanya naskah draft pertama yang sempurna. Draft pertama itu pasti berantakan, tapi paling tidak, sudah selesai. Karena itulah ada yang namanya draft kedua, draft ketiga, draft kesekian, hingga draft final.

Saat kamu sedang menulis, menulislah dan hanya menulis, jangan mengedit. Menulislah hingga kamu mencapai kata "TAMAT", tak peduli sekacau apa pun tulisanmu. Hal yang paling pertama, paling utama, dan paling penting adalah naskah kamu selesai. Itu dulu. Kekacauan yang kamu buat di naskah, bisa diperbaiki setelah kamu masuk ke tahapan revisi. Pada saat revisi itulah, kamu harus bin wajib menjemput kembali inner editor yang sudah kamu tendang ke Pluto. Oke?

6. Baca keras-keras.

Nah, pada masa revisi, coba deh sekali-kali kamu baca keras-keras naskah kamu. Eh, maksud saya, baca pakai suara, bukan dalam hati, juga jangan pakai teriak, nanti dilempari sandal sama tetangga.

Mungkin saja apa yang sudah kita tulis terlihat baik-baik saja di kertas atau layar laptop, tapi sangat bisa menjadi terdengar aneh dan ganjil begitu kita mulai menyuarakannya. Banyak yang seperti itu, terutama bagian dialog. Menyuarakan tulisan kita bisa meminimalisir narasi ataupun dialog yang tidak wajar. Di saat kita sudah mulai bereaksi "hah?" atau mengerutkan dahi ketika menyuarakan tulisan kita, itu artinya memang ada bagian yang perlu dikembalikan ke jalur yang benar.

7. Kamu bukan robot, istirahatlah.

Apa kamu pernah merasa begitu frustrasi saat tulisan kamu sudah mencapai suatu titik dan sulit untuk melanjutkan? Seperti saat kamu ingin mengutarakan sesuatu yang sudah sampai di ujung lidah tapi kamu tidak bisa mengingat apa itu?

Solusi terbaik untuk mengatasinya cuma satu: tinggalkan.

Kalau saya mendapati hal serupa terjadi (yang mana sering sekali terjadi), saya akan tinggalkan naskah saya barang sehari, atau sampai beberapa hari kalau memang benar-benar parah. Kelanjutan naskah memang penting, tapi kesehatan mental dan otak kamu lebih penting. Jangan sampai stres. Kamu bukan robot. Capek dengan segala hal yang ada di hadapanmu membuktikan bahwa kamu memang manusia. Karena itu, tidak apa-apa beristirahat barang sejenak.

Seperti seorang pemanah yang harus menarik mundur anak panahnya sebelum melepaskannya untuk melesat lebih cepat dari angin, menulis juga seperti itu. Kadang kala, kamu harus mundur sejenak, mengambil jeda untuk bisa bernapas lebih baik, untuk kemudian melampiaskan segalanya dalam tulisan, membuatnya menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya.

Selama jeda yang kamu ambil, kamu bisa memikirkan apa masalahmu, lalu mencari tahu bagaimana memperbaikinya.

***

Tegaslah pada dirimu sendiri, tapi jangan keterlaluan. Seperti para orangtua yang mendidik anak mereka dengan ketat, penuh disiplin, tapi juga penuh kasih sayang, berlakulah seperti itu pada dirimu sendiri. Berbuat baiklah pada dirimu sendiri, tapi jangan berleha-leha. Apa pun yang terlalu banyak atau terlalu sedikit tidak pernah bagus. Seperti juga dalam kehidupan sehari-hari, menulis pun membutuhkan keseimbangan.

Good luck.



Share:

0 komentar:

Posting Komentar