8 November 2016

, ,

4 Kesalahan Awal Ketika Pertama Kali Menggeluti Bullet Journal

Well, untuk suatu alasan, saya memanfaatkan Bullet Journal sebagai sarana agar NaNoWriMo saya tetap berada pada jalan yang benar. Pertama-tama, apa itu Bullet Journal (BuJo)?


Menurut Ryder Carroll, pencetus pertama BuJo, pada situs bulletjournal.com, tertulis tagline "the analog system for the digital age". You know-lah, intinya sih BuJo adalah semacam gabungan dari to-do-list dan planner (bisa bulanan, mingguan, atau bahkan harian). Hal yang paling menyenangkan tentang BuJo adalah kita bisa menambahi berbagai hal di sana, seperti tracker (habit tracker, weather tracker, water tracker, chores tracker, dan sebangsanya), buku yang ingin dibaca dalam sebulan, film yang ingin ditonton dalam sebulan, doodling di sana-sini, mendekorasinya dengan washi tape atau fancy tape untuk membuatnya lebih personal. Banyak deh, tergantung kreativitas kita masing-masing. Mau dibikin sesimpel mungkin tanpa banyak warna dan dekorasi dan hanya digunakan sebagai to-do-list dan planner doang juga bisa. Mau digabung dengan diary juga bisa.

Set your own rules

Semuanya tentang BuJo bisa kamu temukan di situs bulletjournal.com, jadi saya tidak akan bicara tentang itu kali ini.

Beberapa kesalahan awal yang saya lakukan saat saya menggunakan BuJo:



1. Memakai spidol untuk membuat halaman-halaman BuJo colorful.

Seperti yang kita semua tahu, ketebalan kertas pada sebuah buku jurnal yang beredar di pasaran paling mentok adalah 80 gsm (Walaupun Rhodia menyediakan kertas 90 gsm pada jurnal-jurnal yang mereka jual, tapi harga jurnalnya sendiri bisa membunuh dompet saya. Jadi tidak, terima kasih).

Nah, 80 gsm tidak cukup tebal untuk menahan tinta spidol tidak menembus halaman selanjutnya. Itu tidak akan menyenangkan untuk dilihat. Jadi, saran saya, kalau ingin membuat halaman BuJo colorful, gunakan pulpen warna atau pensil warna saja, jangan spidol.

2. Terlalu banyak tugas harian.

Kadang kita ingin menyelesaikan banyak hal dalam satu hari, tapi sebaiknya untuk awalan, tidak perlu mencantumkan terlalu banyak tugas dalam to-do-list. Secara tidak langsung, itu akan terasa memberatkan lebih daripada yang seharusnya. Cantumkan banyak tugas saat kita sudah terbiasa menggunakan BuJo saja. Istilahnya, step by step. Semua hal butuh dilakukan secara bertahap, apalagi jika hal itu memaksa kita untuk mengubah kebiasaan kita.

3. Membuat jadwal mingguan sampai sebulan penuh.

Lebih baik membuat jadwal mingguan satu per satu. Misal untuk minggu pertama, ya buatlah untuk minggu pertama dulu, minggu berikutnya kerjakan pada minggu berikutnya juga. Kenapa? Karena kebanyakan orang biasanya mudah bosan.

Saya selalu mendekorasi atau paling tidak, bermain-main dengan font tulisan tangan dan desain jadwal mingguan. Kadang untuk minggu berikutnya, saya ingin desain yang berbeda. Kalau dalam beberapa minggu, desainnya sama terus, saya akan mudah bosan dan jadi malas untuk mengisinya. Itulah kenapa planner yang biasanya sudah default dalam buku-buku planner yang banyak beredar di pasaran tidak pernah saya isi, apalagi patuhi. Saya lebih suka bermain-main dengan daya kreativitas saya, sekalian melatihnya, begitu.

4. Menyobek lembaran yang salah.

Serius, jangan sekali-kali melakukan hal ini, kalau bisa. Apakah kita akan membuang bagian hidup kita yang gagal? Tentu tidak, bukan? Bagian hidup yang gagal akan tetap ada sebagai pengingat agar tidak melakukan kesalahan yang sama dua kali. Begitu pula lembaran pada buku jurnal yang salah tulis. Tidak perlu disobek, biarkan tetap di sana agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama lagi. Yah, kalau bisa diperbaiki justru lebih bagus kan?


Nah, itu adalah empat kesalahan yang saya lakukan saat pertama kali menggunakan BuJo. Saya belajar dari semua itu dan sekarang menjadi lebih baik dalam menggunakannya.

Bagaimana denganmu? Kesalahan apa yang pernah kamu lakukan berkaitan dengan BuJo dan pelajaran apa yang bisa kamu ambil darinya?


Share:

0 komentar:

Posting Komentar