4 April 2016

[Cerpen] Titik Balik

Sebelas #Spin-off: Titik Balik
by Dya Ragil




Seperti pungguk merindukan rembulan. Peribahasa terkenal yang menggambarkan kekurangajaran seseorang yang tidak sadar posisinya dan memimpikan sesuatu yang terlalu besar untuk bisa ditanggung kapasitas kemampuannya. Di saat para motivator menggembor-gemborkan ide agar orang-orang memiliki harapan tidak masuk akal tentang impian, peribahasa itu mementalkan semua orang kembali pada kenyataan. Anak laki-laki itu salah satunya.

Aku tidak mengenalnya. Aku hanya sering melihatnya duduk sendirian di tepi lapangan sepak bola dengan ditemani dua buah tongkat kruk penyangga yang tergeletak di kedua sisi tubuhnya. Setiap kali aku lewat lapangan, tampak punggungnya yang selalu melengkung dengan bahu merosot. Rambutnya yang berantakan selalu dipermainkan angin, membuatnya semakin kusut dan tidak keruan. Kedua kakinya selalu dijulurkan dengan posisi aneh. Aku tidak tahu kaki mana yang terluka. Mungkin kanan, mungkin kiri, atau keduanya.

Aku memiliki seorang teman sekelas di ekskul sepak bola SMP yang selalu berlatih di lapangan itu. Maka aku menanyakan mengenai anak laki-laki berkruk itu padanya. Anak laki-laki itu ada di sana setiap latihan ekskul. Tidak pernah sekali pun absen. Mungkin temanku mengenalnya. Bukan apa-apa, aku hanya penasaran.

“Namanya Danang, anak kelas VIII D. Dia anggota ekskul juga, kok. Tapi karena kakinya cedera waktu bertanding, dia nggak bisa ikut latihan.”

Terkadang, jika kita penasaran lalu mendapatkan jawaban, yang datang berikutnya bukanlah kepuasan. Itu terjadi padaku. Jawaban yang kuperoleh dari seorang teman itu justru menimbulkan pertanyaan baru. Bagaimana kakinya bisa terluka seperti itu? Bukankah biasanya pesepak bola selalu berhati-hati dengan kakinya?

Aku seolah termakan giringan kelinci untuk ikut masuk ke dalam lubangnya. Sekarang aku terjebak. Sekalinya menemukan jalan keluar, terpampang dunia asing penuh hal baru di hadapanku. Aku terpukau. Pikiran untuk kembali ke dunia asalku yang sempat terlintas, akhirnya sirna perlahan.

Seperti Alice di Wonderland.

***

Aku mengikutinya dari belakang, menjaga jarak setidaknya lima meter. Di tengah-tengah keramaian anak-anak sekolahku yang berbondong-bondong pulang, kehadiranku tidak akan mencurigakan. Saat menyadari bahwa kami mengambil jalur angkot yang sama, aku tahu keberuntungan belum meninggalkanku.

Angkot yang penuh hanya menyisakan kami berdua di dekat gerbang sekolah. Awalnya dia ingin naik angkot yang baru saja lewat itu, tapi terdorong oleh banyaknya orang yang bergelantungan di pintu. Kondektur sempat membantu untuk menjejalkannya naik, tapi gagal dan membuat dia terjatuh. Sebelah tangannya berpegangan pada salah satu kruk, sementara kruk satunya teronggok di tanah. Menyerah, kondektur memukul badan angkot, mengisyaratkan sopir untuk melajukan angkot. Belum sempat aku bergegas menolong, dia sudah meraih kruk yang teronggok lalu berdiri dengan payah-payah. Aku hanya bisa terpaku dan menggigit bibir. Dadaku mendadak nyeri tanpa alasan.

Aku menengadah, menatap langit mendung yang perlahan menjatuhkan rintiknya. Dalam sekejap, udara menjadi basah dan lembab. Hawa dingin juga mulai menyerang. Aku menoleh padanya. Meski matanya memperlihatkan ekspresi kosong seakan tak peduli, sikap berdirinya tampak goyah dan kakinya mulai gemetar. Kakinya pasti terasa ngilu lebih dari apa pun.

Aku mengambil payung dari dalam tas lalu membukanya. Menghela napas sejenak, aku pun beranjak maju dan berhenti tepat di depannya. Kusorongkan payung agar dia terlindung dari gerimis. Menyadari itu, dia menatapku. Ekspresinya tak terbaca.

Keheningan yang datang setelahnya membuat kami sama-sama memalingkan pandangan. Aku pun bergeser ke sebelahnya. Tangan kiriku memegang payung untuk menaungi kami berdua.

Saat kupikir situasi itu akan bertahan sampai angkot berikutnya datang, terdengar suara ringan yang berasal darinya.

“Aku sering lihat kamu nonton latihan ekskul sepak bola. Suka sama sepak bola?”

Aku ingin mengoreksinya. Bukan latihan yang selalu kulihat, tapi dia.

Pada akhirnya, aku hanya bisa mengangguk. “Iya,” kataku berbohong.

Dia menoleh dan tersenyum manis. Senyum pertama yang pernah kulihat darinya, yang bahkan tidak sanggup kubalas. Entah kenapa kedua sudut bibirku tak bisa terangkat meski sekeras apa pun aku mencoba. Aku mencengkeram gagang payung keras-keras. Lantas mulai menekuni kerikil-kerikil kecil di dekat sepatuku tanpa berani menatapnya balik.

***

“Siapa namamu?”

Aku membulatkan mata dan menoleh. Wajahnya terteleng padaku penuh rasa ingin tahu. Meski pertanyaan itu datang sangat terlambat, aku tetap senang mendengarnya. Aku berpaling ke arah lapangan dan tersenyum.

“Kinan,” sahutku sambil meluruskan kaki sama sepertinya.

“Aku Danang,” katanya kemudian. “Makasih buat payungnya kemarin.”

Tak menjawab, aku mengangguk.

Dulu, aku takkan pernah berpikir untuk bisa duduk-duduk di pinggir lapangan sepak bola seperti ini. Aku bukan tidak menyukai sepak bola, juga bukan menyukainya. Aku hanya tidak peduli. Satu bola yang diperebutkan dua puluh dua orang di lapangan tidak cukup penting untuk membuatku peduli. Danang berbeda. Sorot matanya yang sangat cerah ketika menonton latihan di depan sana sudah menunjukkan bahwa dia menyukai sepak bola.

Tak berselang lama, sebuah bola mental ke arah kami. Aku berpaling pada sumber datangnya bola. Seorang anak laki-laki bertubuh pendek yang memiliki rambut seperti bulu landak berjalan gegas sambil melambai pada Danang, mungkin meminta bola. Danang hanya terdiam menatap bola di depan. Saat dia memandangi kakinya kemudian, sorot matanya terlihat putus asa. Seketika aku sadar. Dia bukan menyukai sepak bola. Perasaannya lebih dari itu. Dia menganggapnya sangat berharga seperti harta karun.

Tanpa sadar aku berdiri dan menghampiri bola. Aku hendak mengambilnya dengan tangan, lantas terhenti. Aku menoleh pada Danang sejenak. Kedua tangannya meremas celana di bagian lutut. Ketika itu aku tahu. Dia sangat ingin menendang bola melebihi apa pun.

Aku mengangkat kaki, lalu menendang bola itu sekuat tenaga menuju anak laki-laki berambut bulu landak. Dia membusungkan dada untuk menerima bola. Saat operanku sampai, entah kenapa rasanya sangat menyenangkan. Refleks, aku tersenyum ketika anak laki-laki itu mengucapkan terima kasih. Sebelum kembali pada teman-temannya, dia berpaling pada Danang dan menghela napas cepat.

Aku berbalik, mendapati Danang memandangku dengan mata membulat. Tak lama, dia mendengus geli. “Rasanya nyenengin, kan?”

“Apanya?”

“Waktu kamu nendang bola, terus operannya sampai, itu nyenengin, kan?”

Aku berjongkok menghadapnya. “Iya, rasanya kayak habis ngomong absurd sama orang lain, terus orang itu bisa ngerti sama apa yang kita omongin. Obrolan yang nyambung kan selalu nyenengin.”

Danang menyeringai kecil mendengar tanggapanku. Entah kenapa, itu membuatku lega.

***

“Maaf, aku bohong.”

Danang menaikkan sebelah alis, bingung dengan ucapanku yang tiba-tiba begitu kami tidak sengaja bertemu di perpustakaan berkat jam pelajaran kosong. Dia melipat kembali koran olahraga yang dibacanya, lalu menatapku penuh.

“Kamu ingat waktu dulu itu nanya apa aku suka sepak bola?”

“Ingat.”

“Aku bohong waktu jawab ‘iya’. Sebenarnya aku nggak peduli soal itu.”

Danang terdiam sejenak, lalu mendadak saja dia tergelak. Dia melirikku geli sambil berusaha menahan senyum. “Kita sama, berarti. Dulu aku juga nggak peduli soal sepak bola.”

“Kamu nggak kesal kubohongi?”

Dia bersedekap di atas meja lalu menarik sudut bibir sampai maksimal. “Kesal.”

“Terus?”

“Memangnya itu penting sekarang?”

Aku menggeleng cepat, membuatnya tersenyum kecil. Aku pun beranjak duduk di depannya dan menyambar koran lain yang menganggur di meja.

Tiba-tiba seseorang sudah berdiri di sebelah Danang. Aku menengadah, mendapati anak laki-laki berambut bulu landak yang dulu itu kuoperkan bola sudah memberikan tatapan menusuk pada Danang. Dia pun melemparkan sebuah amplop putih di atas meja.

“Ini maksudnya apa?”

Aku melirik amplop itu. Sebuah tulisan penuh huruf kapital berbunyi “SURAT PENGUNDURAN DIRI” tertera pada amplop. Terkejut, aku berpaling pada Danang.

Danang hanya memandangi amplop itu dengan mata kosong. “Kamu nemu itu di mana?”

“Di lemari ruang ekskul. Kalau kamu memang mau ngundurin diri, bukan gini caranya. Jangan ngendap-endap kayak maling buat naruh surat itu di lemari tanpa ketahuan. Kamu harusnya ngomong langsung ke Kapten!”

“Kalau aku ngomong langsung, surat itu bakal langsung ditolak.”

“Jadi kamu lebih milih cara pengecut kayak gini?!”

Danang tak menjawab, membuat anak laki-laki berambut bulu landak itu mencibir kesal. Tanpa mengambil lagi amplop putih itu, dia meninggalkan Danang yang hanya terpaku di tempat.

Setelah hening yang terasa seperti selamanya, Danang menghela napas panjang. Dia menatapku dan tersenyum hambar. “Maaf ya, kamu jadi harus dengar obrolan nggak ngenakin barusan.”

Aku menggeleng cepat. “Nggak apa-apa. Tapi, kalian pasti deket banget sampai dia semarah itu.”

Danang mengangguk. “Dia sepupuku, namanya Bayu. Dia orangnya memang keras. Aku maklum kenapa dia semarah itu, sih. Dia cuma nggak bisa terima aku nyerah kelewat cepat.”

“Kelewat cepat?” Aku menaruh koran kembali, lantas bersedekap. “Nggak peduli sekarang atau nanti, yang namanya nyerah tetap aja nyerah. Baru kepikiran buat nyerah aja... sama artinya kamu udah kalah sama diri kamu sendiri, kan?”

Danang menatapku.

Aku tersenyum simpul. “Kamu benar-benar ingin berhenti?”

Tak menjawab, dia menunduk memandangi amplop putih di atas meja.

***

Hari itu lapangan kosong. Latihan baru saja berakhir. Seharusnya semua orang sudah pulang, tapi Danang masih berada di sana. Dia berdiri menghadap gawang. Kedua tangannya mencengkeram tongkat kruk dengan erat.

Aku yang sebenarnya terburu-buru pulang karena hari sudah hampir petang, langsung berhenti di pinggir lapangan. Aku meremas tali tas selempang ketika melihatnya menyingkirkan kedua tongkat kruk dengan hati-hati. Perlahan, dia mencoba berdiri tegak dengan kedua kakinya. Perlahan itu juga, jantungku berdebar kencang, paduan rasa waswas dan penasaran.

Danang mencoba berjalan, lalu berjingkat, lalu melompat, lalu terjatuh. Di saat yang sama, jantungku rasanya ikut terjatuh ke dasar perut. Aku segera berlari ke arahnya. Dia melihatku dan tersenyum. Aku pun berhenti untuk mengambil napas. Dia perlahan berdiri lantas menghampiriku dengan terpincang.

“Jam segini kamu harusnya udah pulang.”

Aku menggeleng cepat, masih terengah-engah dengan tangan meremas lutut. Begitu bisa berdiri dengan benar, aku melirik dua buah tongkat kruk di dekat gawang, lalu padanya. “Kamu gila, ya? Kalau mau sembuh, lakuin secara bertahap, jangan sekaligus begini. Mau bikin aku kena serangan jantung?”

Dia menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya lalu nyengir tanpa merasa bersalah. “Aku bukan orang yang sabar, jadi,” dia melirik bola yang teronggok di dalam gawang, “aku harus terus nyoba. Sekarang atau nggak sama sekali. Dengan begitu, aku akan tahu apa aku ingin berhenti apa nggak.”

Dia berbalik hendak menghampiri bola. Begitu sadar, tanganku sudah meraih lengannya. Saat dia menoleh, aku langsung menggeleng. Dia tersenyum, lalu menggenggam tanganku dan pelan-pelan melepaskannya.

Danang berjalan pelan sambil menyeret kaki menuju bola, lalu membawa bola itu ke titik penalti. Bergantian, dia melihat bola dan gawang. Kurasa dia sedang bertaruh. Masuk atau tidaknya akan menentukan apakah dia akan menyerah atau tidak. Aku tahu aku harus menghentikannya. Namun kakiku tidak mau menuruti perintah otakku, seolah sudah ditambatkan tanpa bisa bergerak maju.

Dia bergerak, menjadikan kaki kirinya yang cedera sebagai tumpuan. Bola itu berhasil tertendang, tapi arahnya melenceng ke atas hingga membentur tiang gawang. Sesaat berlalu, Danang ambruk dan memegangi lutut kaki kirinya dengan raut wajah kesakitan. Aku mencelos. Seketika aku bergegas dan membantunya duduk. Dia masih memegangi lutut saat aku mengambil ponselnya dari dalam tas ransel dan mencari nama Bayu. Dalam situasi seperti ini, aku terlalu panik untuk berpikir jernih. Aku tidak tahu harus menghubungi siapa lagi.

Aku terus mengiyakan saat Bayu menyuruhku diam dan menunggu. Dia akan datang secepat mungkin, jadi aku harus memastikan kalau Danang tidak melakukan hal bodoh lagi. Aku menoleh pada Danang. Dalam kondisi seperti itu, bahkan untuk bergerak pun dia tidak sanggup.

Setelah menutup telepon, aku beranjak ke sisinya. Meski masih meringis kesakitan, dia memaksakan diri tersenyum padaku.

“Aku nggak apa-apa.”

Ucapan sok kuat itu sudah lebih dari cukup untuk membuat mataku panas. Aku menggigit bibir, berusaha mati-matian untuk tidak memukul kepalanya. “Udah kubilang ‘jangan’, kan?”

“Hmm.”

“Kenapa kamu harus bersikeras melukai diri sendiri kayak gitu, sih?”

“Hmm.”

“Apa sepenting itu buat ngebuktiin kamu bisa apa nggak?”

Danang memandangku. “Hal yang menurutmu nggak penting, itu penting buatku. Aku ingin tahu sampai di mana batasanku kalau aku ngeluarin semua yang aku bisa. Sekarang, aku tahu aku sudah sampai batasnya.”

Dia menatap lututnya dengan pandangan terluka. Entah bagaimana, melihatnya seperti itu juga membuatku terluka.

“Kinan, kadang aku berpikir... kalau aku nggak bisa nendang bola lagi, aku nggak butuh kaki ini.”

Kami bertukar pandang. Kemudian hening.

***

Tanpa kehadirannya, lapangan terlihat lebih sepi dari seharusnya. Aku sampai bertanya-tanya sendiri. Kenapa aku masih saja mendatangi lapangan untuk menonton latihan ekskul sepak bola meskipun dia tidak ada?

“Ke sini lagi?”

Aku menengadah. Bayu sudah berdiri di hadapanku sambil menggamit sebuah bola di bawah lengannya. Aku pun mengangguk cepat. “Aku nggak ganggu, kan?”

Dia menggeleng, lalu duduk di sampingku. Bola ditaruhnya di depan kami.

“Danang apa kabar?” tanyaku lagi.

“Duduk diam di rumah sakit. Butuh beberapa hari lagi biar dia bisa keluar rumah sakit. Lagian juga dia terluka di tengah-tengah masa rehabilitasi. Dia nggak akan dibiarin bertingkah seenaknya lagi sekarang.”

Aku tertunduk mendengarnya. “Maaf.”

“Buat apa?”

“Waktu itu aku ada di sana, tapi nggak bisa ngestop dia.”

“Kalau bisa distop segampang itu, bukan Danang namanya. Walaupun misalnya aku yang ada di sana waktu itu, dia juga nggak bakal berhenti.” Bayu berdiri dan mundur beberapa langkah. “Ngomong-ngomong, tendanganmu waktu itu lumayan. Kupikir kamu ke lapangan cuma buat ketemu Danang.”

“Memang.”

“Tapi kamu bisa main juga.”

Aku menggeleng. “Aturannya aja aku nggak ngerti.”

Bayu berkacak pinggang dengan sebelah tangan, lalu menggerak-gerakkan tangan satunya yang bebas seakan menyuruhku berdiri.

“Tendang lagi,” katanya.

Aku langsung berdiri dengan kedua alis terangkat. Pandanganku beralih dari dia ke bola di depanku. Tanpa menunggu diminta dua kali, aku menendang bola. Bayu menerimanya dengan kaki, lalu menginjak bola sambil kembali berkacak pinggang. “Kalau kamu mau nyari tahu soal sepak bola, mempelajari aturannya, nyoba main, mungkin kamu bakal lebih tertarik.”

“Lebih tertarik? Memangnya aku pernah tertarik sebelumnya?”

“Lalu, kenapa kamu terus-terusan datang ke sini biarpun Danang nggak ada?”

Tanpa menunggu jawabanku, dia berlalu begitu saja sembari menggiring bola menuju lapangan. Aku diam di tempat, masih memikirkan bagaimana harus menjawab.

***

Ruangan itu terdiri dari dua tempat tidur, terpisah oleh sebuah tirai putih yang besar. Salah satu tempat tidur kosong, sedangkan penghuni satu-satunya tempat tidur yang terisi tengah membaca sebuah buku tebal.

Bayu menepuk punggungku terlalu keras, sampai-sampai aku terlempar ke depan. Kalau saja keseimbangan tubuhku tidak bagus, aku pasti sudah jatuh.

Keributan itu membuat Danang menoleh. Mendapatiku masuk ruangan dengan cara aneh, dia tersenyum geli. Pelan-pelan aku berjalan mendekatinya. Dalam sekejap, Bayu sudah bergegas mendahuluiku dan duduk di pinggir tempat tidur. Dia pun merebut buku yang Danang baca, lalu menimpukkan pada kepala Danang. “Singkirin bukunya. Ada tamu, juga.”

Masih mengusap-usap kepala yang sakit, Danang mencibir pada Bayu. Dia pun berpaling padaku. “Naik apa ke sini? Sendirian?”

Aku menggeleng, lalu menunjuk Bayu. “Bareng dia, kok.”

“Sejak kapan kalian sedekat itu?”

Sekali lagi Bayu menimpuk kepala Danang. “Apanya yang dekat? Kinan maksa buat bonceng sepedaku sampai sini. Ngayuh sepeda dari sekolah ke sini sambil boncengin karung beras lebih mending daripada boncengin dia.”

“Hei!” protesku.

Belum sempat aku membalas ucapannya, Bayu sudah melemparkan buku kembali ke pangkuan Danang dan melambai pergi. “Mau cari makan. Tenagaku habis di jalan.”

Seiring dia pergi, aku mencibir kesal. Ketika aku berbalik, raut wajah Danang berubah gelap. Apa tadi dia bersikap sok riang agar sepupunya tidak khawatir?

Aku pun berjalan mendekat dan berpegangan pada tepi tempat tidur. “Kok sendirian? Bukannya keluarga tetap boleh di sini biarpun bukan jam besuk?”

Samar, aku bisa melihatnya agak terkejut dengan pertanyaanku yang tiba-tiba. “Ah, itu... orangtuaku kerja sampai malam. Jadi, biasanya juga aku sendirian kayak gini.”

“Oh....”

Canggung. Kurasa kami berdua sama-sama kehabisan kata-kata.

Aku mengambil buku di pangkuan Danang dan membaca judulnya: Focused for Soccer karya Bill Beswick. Aku iseng membuka-buka halaman, mendapati ternyata buku itu berbahasa Inggris. Aku lemah dalam mata pelajaran satu itu. Tapi dari beberapa kata yang sanggup kumengerti di buku itu, aku bisa menyimpulkan bahwa isi bahasannya mengenai kepelatihan dalam sepak bola.

“Kamu kenapa baca-baca soal kepelatihan?” tanyaku akhirnya.

“Nggak cuma kepelatihan kok. Di situ juga ada bahasan soal psikologi sepak bola, soal mental pemain juga. Terus masih banyak banget hal menarik yang sebelumnya nggak pernah aku tahu soal sepak bola.”

“Tapi tetap aja berhubungan sama kepelatihan, kan? Kamu nyerah buat terus main?”

“Aku,” dia terdiam sejenak, seolah memikirkan kata-kata yang tepat untuk menjawab, “mungkin nggak akan bisa main lagi. Aku bukannya nyerah. Maksudku, biarpun kakiku sembuh nanti, belum tentu aku bisa main lagi kayak dulu. Lagian, kepelatihan nggak buruk juga. Tantangannya jauh lebih banyak dan lebih menarik. Mungkin aku bisa mikirin itu sebagai alternatif rencana jangka panjang.”

Aku memeluk buku itu dan menggigit bibir. Menghela napas panjang, aku meletakkan buku kembali ke pangkuan Danang. “Kalau begitu, ayo bikin kesepakatan.”

Danang mengangkat sebelah alis, bingung.

“Maksudku, anggap ini sebagai latihan. Soalnya, aku juga ingin tahu lebih banyak soal sepak bola.” Aku mengambil jeda, membiarkannya perlahan mencerna ucapanku. “Aku ingin tahu gimana rasanya bisa bener-bener main di lapangan. Jadi, aku ingin kamu ngajarin aku.”

“Eh? Dengan kaki begini?”

“Makanya kamu harus sembuh total. Soalnya, aku juga ingin lihat kamu ada di lapangan dan main bola lagi.”

“Kinan—”

“Aku dengar, kamu cedera waktu bertanding, kan? Bukannya itu artinya kamu cukup hebat karena bisa masuk tim inti?”

Seolah tidak tahu harus berkata apa, dia mendengus.

“Aku nggak akan nyerah soal ini. Jadi mendingan kamu yang nyerah dan berhenti bersikap keras kepala. Bukannya sepak bola berharga buatmu? Jangan dilepasin segampang itu kalau masih bisa berusaha. Makanya cepat sembuh!”

Danang akhirnya tersenyum simpul. “Kenapa kamu sampai segitunya soal ini?”

“Mungkin karena aku mulai suka—”

“Sama aku?”

Aku menyambar buku di pangkuan Danang dan langsung menimpukkan pada kepalanya. “Sama sepak bola,” sergahku.

Mengusap bagian kepalanya yang sakit, Danang tertawa.

“Oke,” katanya kemudian. “Aku akan sembuh, main bola lagi, terus ngajarin kamu.”

Aku mengangguk senang. “Kalau gitu... janji?”

Setelah terdiam sejenak, Danang tersenyum lebih lebar. “Janji.”

Seperti pungguk merindukan rembulan. Peribahasa itu bukan tentang kekurangajaran seseorang yang memimpikan sesuatu yang mustahil. Tidak ada salahnya menjadi pungguk. Impian—meskipun terlalu tinggi untuk dicapai—membuat seseorang sanggup bertahan saat menghadapi kesulitan dalam hidupnya. Ketika seseorang memeluk erat impiannya, dia bisa berusaha keras dan menguji dirinya sendiri sampai batas akhir kemampuannya. Danang membantuku menyadari itu. Jadi, aku selalu merasa berterima kasih.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar