18 Maret 2015

[Review] Film: Run All Night

So, ceritanya nih ya, saya lagi kesal karena nggak bisa nonton film 2014 gara-gara bioskop di Jogja udah keburu nggak nayangin lagi. Padahal film itu sudah saya tunggu-tunggu sejak 2 tahun lalu. Bioskop di Jogja memang rese nih. Film yang buat saya nggak penting malah dipajang lama-lama, tapi film yang sudah saya nantikan lama banget malah cuma ditayangin sebentar.

Ah, malah curcol, kan?

Ya sudah, akhirnya saya balas dendam harus bisa nonton film-nya Liam Neeson. Memang saya sempat kecewa sama "Taken 3" yang cuma gitu doang, tapi karena "Run All Night" ini sutradaranya si Oom Jaume Collet-Serra yang menukangi "Non-Stop"-nya Liam Neeson juga--film "Non-Stop" itu keren, btw--jadi saya sempat berharap.

Terbukti sih, bahkan film ini melebihi harapan saya.




Inti ceritanya menurut trailer dan Tante Wiki: si Jimmy Conlon (Liam Neeson), mantan pembunuh, terpaksa menghabisi nyawa Danny, anaknya si Bos Shawn Maguire (Ed Harris), gara-gara si Danny ini pengin bunuh anaknya Conlon, Michael, yang jadi saksi mata pembunuhan yang dilakukan Danny. Ceritanya biar nggak lapor polisi. Gara-gara itu, si Bos Maguire ini memburu bapak-anak Conlon, sampai mengutus pembunuh ulung bernama Price agar bapak-anak ini dihabisi sebelum matahari terbit. Jadilah bapak-anak Conlon dipaksa melarikan diri semalaman dari orang-orang yang pengin bunuh mereka. Apalagi polisi pun nggak ada yang beres, polisi yang bisa dipercaya cuma satu, bok. Untungnya si polisi jujur ini yang memimpin kasus. Kalau yang jujur itu cuma polisi yang nggak punya kekuasaan, mampuslah si bapak-anak ini.

Premisnya itu yang bikin saya pengin banget nonton. Hasilnya, sama sekali nggak mengecewakan.

Aksinya bisa dibilang badass. Mungkin sejak "The Raid" merambah bioskop Amerika Serikat, mereka jadi nggak takut lagi bikin film aksi yang rada-rada brutal dan kickass. So, saya nggak protes. Dari segi drama, ini drama keluarga yang bagus. Di sela-sela aksi, diperlihatkan banget gimana besarnya kasih sayang bapak ke anak, nggak peduli segimanapun si anak bikin kesalahan, atau sebenci apa si anak ke bapak. 

Tapi, yang pengin saya soroti lebih dari apa pun, adalah loyalitas pertemanan yang bisa begitu kuat digambarkan oleh dua simbah-simbah ini, Liam Neeson dan Ed Harris. Serius, chemistry mereka perfect. Sesuatu yang berkesan dari film ini bukan pertarungan satu lawan satu antara dua simbah itu di rel kereta api, tapi obrolan di rumah makan di mana keduanya saling menantang demi anak mereka masing-masing. Top notch pokoknya.




Intinya, silakan ditonton, film ini serunya dapet, tegangnya dapet, dramanya dapet, aksinya dapet, sedihnya dapet (keponakan saya sampai nangis pas adegan terakhir), dan asyiknya semua itu dipadu dengan sempurna. Porsi setiap adegan, karakter, dan dialognya pas, nggak lebih nggak kurang.

Well, akhirnya saya kasih film ini nilai 4,5 dari 5. Kenapa bukan 5 penuh? Karena saya nggak pernah ngasih rating penuh ke apa pun, baik film atau novel. Nilai 4,5 itu penghargaan terbaik yang bisa saya kasih ke sebuah karya.

Yah, selamat menonton :D



Share:

0 komentar:

Posting Komentar