27 Desember 2013

,

[Review] Manga: 5 Centimeter per Second





Setelah nge-rant gajebo di status, chat Facebook, WhatsApp, dan sebangsanya, akhirnya saya putuskan buat memuntahkan semuanya di sini saja. Hitung-hitung sekalian menyalurkan rasa frustrasi saya setelah baca manga satu ini.


Judulnya "5 Centimeter per Second", dan manga itu sama sekali tidak buruk. Mungkin gara-gara bertabur angst dan no-hope-LDR dan endingnya yang benar-benar bitter, saya jadi frustrasi akut bacanya. Saya sudah download novelisasinya, tapi belum saya baca. Saya juga sudah download anime-nya, tapi rasanya ditonton segera setelah baca manga-nya kemungkinan besar bakal bikin saya brokenheart dan brokenmind. Otomatis bakal bikin kamar saya jadi banjir bandang. So, baru akan saya tonton weekend ini. Kata temen yang sudah nonton anime-nya, plot ceritanya nggak se-deep manga-nya, tapi pemandangannya imba.


Semuanya bermula ketika saya jalan-jalan ke toko buku dan ada diskonan 25% di bagian manga. Sebenernya saya ingin cari novel hari itu, tapi setelah dipikir-pikir, sudah lama saya tidak baca manga. Akhirnya terliriklah manga satu ini, yang memang tamat cuma dalam 2 volume. Jujur saja, saya sudah dengar judulnya entah sejak kapan taun. Teman-teman yang merekomendasikannya selalu menyeliwerkan bisikan-bisikan setan pada saya soal judul animanga ini. Jadi, mungkin tidak ada salahnya saya beli.

Judul asli manga ini adalah "Byōsoku Go Senchimētoru", dalam bahasa Inggris menjadi "5 cm per second". Ya, 5 cm per detik, yang kata Akari (karakter yang jadi penyebab si tokoh utama nge-angst tingkat dewa, dan bikin saya frustrasi setengah hidup) itu adalah kecepatan jatuh kelopak bunga Sakura, yang sering dijadikan analogi untuk perputaran waktu dalam kehidupan manusia. Bahwa meski awalnya menjalani hidup bersama-sama sebagai satu Sakura utuh, pada suatu titik setiap kelopaknya akan luluh satu demi satu, lalu menempuh jalan sendiri-sendiri.

Saya tidak akan cerita soal plot di kisah ini. Karena ini adalah animanga legendaris sejak tahun 2007, yang pasti sudah dikenal banyak orang yang mengikuti animanga. Lagi pula, kalau dicari dengan kata kunci yang tepat, Mbah Gugel dan Tante Wiki sudah pasti bakal langsung ngasih gambaran besar jalinan ceritanya. Jadi ya, yang belum tahu, silakan berburu sendiri.

Jadi, apa kesimpulannya?

Animanga ini menyajikan realitas, bukan sekadar kisah cinta yang too good to be true. Sering kali, manusia berubah ketika dewasa. Janji murni yang dipegang ketika anak-anak, menghilang begitu saja. Pudar dibawa angin waktu yang melampaui jarak yang sanggup ditempuh. Cita-cita ketika kecil, keinginan kuat untuk terus menyimpan perasaan yang sama, selalu lenyap saat manusia tumbuh besar. Mungkin tergantikan oleh kesadaran manusia akan makna kehidupan itu sendiri.

Memang animanga ini ending-nya terbuka, kita bisa menginterpretasikannya jadi benar-benar sad ending atau bitter-sweet. Jujur saja, saya menginginkan konklusi yang kedua.

***

"Sosokmu menjauh. Suatu hari kelak, aku pasti akan kalah oleh waktu dan jarak yang tak terlampaui. Hingga melupakan suara dan wajahmu. Bagaimana aku bisa mendapatkan kekuatan untuk melawan hal itu? Bagaimana aku bisa bertemu denganmu lagi?" ~Toono Takaki

Share:

0 komentar:

Posting Komentar