3 Desember 2012

,

Awan Senja #1 ~ Akhirnya Ketemu Juga

"Kenapa enggak mau?!" Senja cuma bisa melotot. Dia tidak terima permintaannya ditolak. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. "Temen-temen udah pada ngumpul di halaman belakang sekolah. Awan, cuma kamu yang enggak mau!"

"Bosen ah. Enggak di rumah, enggak di sekolah, mainnya petak umpet mulu."

Sadar kalau Awan tidak bisa dibujuk lagi, Senja hanya cemberut sambil menendang kaki bocah lelaki itu. Gadis kecil itu menjulurkan lidahnya, lalu bergegas pergi menuju halaman belakang dengan dagu terangkat. Meninggalkan Awan yang tengah meringis kesakitan.

Petak umpet dimulai. Senja dan teman-temannya menyebar. Di tembok dekat pagar, tampak punggung seorang bocah lelaki kurus. Memejam sambil menghitung.

Senja tidak khawatir. Dia selalu jago bersembunyi. Dan dia selalu keluar terakhir, setelah yang jadi pencari menyerah. Dia hanya pernah kalah sekali, saat Awan yang menjadi pencarinya. Karena Awan tidak ikut kali ini, Senja yakin bakal menang lagi.

Dia pun bersembunyi di drum besar yang kosong dekat kantin. Drum itu biasanya tak tersentuh, jadi Senja tak khawatir bakal ketahuan. Dari dalamnya, dia bisa mendengar satu per satu teman-temannya ditemukan. Entah sudah berapa lama waktu berlalu, dia masih dicari. Bahkan sekarang yang bukan pencari pun juga mulai berspekulasi di mana keberadaan Senja. Gadis kecil itu terkikik lirih. Dia akan menang lagi.

Lama, masih belum ada yang membuka tutup drum. Dan dia mulai mengantuk. Lalu terdengar suara keras di atasnya. Ah, apakah dia ketahuan? Dia pun diam. Tapi suara itu lalu menghilang. Dia penasaran.

Coba dibuka tutup drum untuk mengintip. Tetapi tutupnya tidak mau terangkat!

Senja panik. Dicobanya berulang kali. Masih tidak mau terangkat. Dia menggedor-gedor drum, berharap ada seseorang yang mendengar. Tetapi karena terlalu lelah, lapar, dan hari sudah sore, teman-temannya sudah pulang dari tadi. Tanpa ingat bahwa Senja belum ditemukan.

Senja lapar, mengantuk, dan ketakutan. Dia tidak berani tertidur. Dia hanya bisa menangis. Lama. Mungkin seharian. Tapi baginya, ini terasa seperti selamanya.

Ketika dipikirnya dia takkan ditemukan lagi, tutup drum terbuka. Dia menengadah. Hanya satu hal yang tampak olehnya: senyum di wajah Awan.

"Akhirnya ketemu juga. Susah nih nyingkirin pohon tumbang dari atas drum. Kamu berhutang sama aku, Senja."

Dan Senja langsung memanjat drum dan melompat keluar, memeluk Awan sampai bocah lelaki itu terjengkang dan membuat keduanya terjatuh. Senja tidak peduli. Ia hanya ingin menangis sepuasnya sekarang. Awan pun hanya bisa menepuk-nepuk kepala gadis kecil itu.

Share:

0 komentar:

Posting Komentar