21 November 2012

Dampak Sistem Ranking pada Siswa

Manusia itu unik karena di dunia ini tidak ada dua orang yang benar-benar sama. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Begitu pula dengan siswa. Mereka memiliki potensi berbeda-beda yang seharusnya dapat dikembangkan melalui pendidikan formal bernama sekolah. Guru seharusnya menyadari bahwa setiap siswa memiliki kualitasnya masing-masing yang tidak bisa begitu saja disamaratakan. Mereka berbeda, maka perlu penanganan yang berbeda pula.

Pada kenyataannya, sistem ranking di Indonesia membuat siswa tidak dapat mengembangkan potensi mereka. Sebab, sekolah hanya menilai siswa dari segi akademisnya saja. Peringkat membuat setiap siswa dicap berdasarkan pintar atau tidaknya. Masalahnya, pintar atau tidaknya siswa dilihat melalui hasil belajar yang dilambangkan dengan angka-angka, bukan pada proses bagaimana siswa memahami suatu materi yang diajarkan.

Bila siswa memiliki nilai akademis bagus, belum tentu nilai non-akademis mereka juga bagus. Begitu pula sebaliknya. Tak jarang siswa dengan nilai akademis tidak bagus justru memiliki potensi yang luar biasa di bidang non-akademis. Tetapi, dengan adanya sistem ranking, siswa dengan nilai akademis tidak bagus akan dicap sebagai siswa bodoh, tidak peduli sejenius apa siswa tersebut dalam bidang non-akademis. Guru perlu menyadari bahwa tidak ada yang namanya siswa yang bodoh, yang ada adalah mereka yang pintar dalam bidangnya masing-masing.

Sistem ranking yang notabene menyamaratakan kemampuan siswa juga berdampak dalam hal evaluasi terhadap hasil belajar mereka. Soal-soal yang diujikan biasanya tidak terlalu sensitif dalam menguji kemampuan masing-masing siswa. Karena kemampuan mereka dianggap sama rata, soal yang diberikan pun disamaratakan. Padahal, sudah jelas bahwa setiap siswa berbeda dalam menangkap materi yang diajarkan. Ibaratnya, mereka dituntut untuk menempuh garis finish yang sama, tidak peduli meskipun mereka memulai dari garis start yang berbeda-beda.

Penyamarataan kemampuan siswa pada akhirnya akan melahirkan suasana kompetisi. Kompetisi memang tidak sepenuhnya buruk jika dikelola dengan baik karena dapat memotivasi siswa untuk berusaha lebih keras untuk mencapai target yang diharapkan. Tetapi, tak jarang muncul suasana kompetisi yang tidak sehat. Sadar atau tidak sadar, kompetisi akan menciptakan sebuah situasi di mana setiap orang yang terlibat di dalamnya mengenal kata “musuh”. Menilik dari segi evaluasi hasil belajar, kompetisi mengajarkan siswa untuk berlomba menjadi peringkat pertama. Terkadang melebihi kemampuan mereka sendiri. Bila mereka tidak mampu meraih standar yang ditetapkan, akan timbul dampak negatif yang tidak diinginkan, antara lain bertindak curang saat ujian atau siswa merasa tertekan karena takut dimarahi orang tua jika gagal dalam ujian dan menyebabkan peringkatnya turun.

Oleh karena itu, sistem pemberian ranking sewajarnya dikaji ulang untuk terus diterapkan di Indonesia. Bila kegiatan belajar-mengajar tidak lagi berorientasi kepada hasil, melainkan lebih berorientasi kepada proses pengkajian ilmu, guru memiliki kesempatan lebih besar untuk mengarahkan siswa kepada cara belajar yang sesungguhnya menurut potensi mereka masing-masing. Karena sebagai seorang pengajar sekaligus pendidik, guru memiliki kewajiban untuk bisa memandu siswa mengembangkan potensi mereka semaksimal mungkin. 
Share:

3 komentar:

  1. Love your amazing and very interesting blog . I am also crazy of cats :)

    xoxo
    http://singingthumbelina.blogspot.com

    BalasHapus
  2. thanks :)
    I've seen your blog ... it's nice :D

    BalasHapus