7 Februari 2012

[Katalis Waktu] Chapter 3

Lan meraih sebuah mantel cokelat kusam yang terlipat rapi di dalam lemari. Ia ragu sejenak. Apakah ia akan membawa mantel itu serta? Lan ingat, itu adalah mantel yang diberikan Ellial padanya saat pertama kali mereka bertemu. Lan mengambil napas cepat, lalu menghembuskannya perlahan.  

Dipakainya mantel itu, lantas beranjak keluar dengan langkah yang dimantapkan. Sebelum ia meninggalkan rumah, ia sempat membuat guratan kecil yang membentuk segitiga di dalam lingkaran di palang pintu. Ditatapnya sebentar guratan itu, dalam hati ia berharap adiknya bisa melihat guratan itu bila kembali nanti. Itu pun jika mereka tidak bertemu di tengah pencarian Lan.

Lan berjalan perlahan dari tepi hutan, menuju kota. Hanya ada satu tempat yang harus dituju jika ia menginginkan informasi. Lan menghentikan langkah sebentar. Ia sudah berada di tebing tepi hutan, pandangannya lurus ke bawah, ke tempat ribuan rumah hunian tersusun teratur di atas dataran yang diapit dua bukit batu. Lan akhirnya berjalan memutar melewati jalan setapak yang melingkar spiral di sekeliling salah satu bukit—satu-satunya jalan penghubung antara kediaman klan Verellin dan kota kecil Regal.

Butuh sehari-semalam perjalanan kaki untuk sampai kota. Hal itu memaksa Lan bergegas. Kalau hari sudah gelap, ia mungkin kesulitan mencari Lubang Temu tempat ia biasanya bermalam. Dalam hati, Lan mengumpat. Ia sama sekali tak terpikir untuk mencari kuda sebelum berangkat tadi. Paling tidak, dengan begitu ia akan membuat perjalanannya lima kali lebih cepat. Ia merutuki diri dan berjanji dalam hati, ini akan jadi kali terakhir ia bertindak gegabah seperti ini.

Seperti dugaan Lan, hari sudah gelap saat ia nyaris mencapai Lubang Temu. Kini, ia hanya bisa mengandalkan matanya untuk menemukan gua kecil itu. Ia membuang napas, bersyukur karena bulan sedang purnama hingga dapat membantunya menyimak jalan. Tak lama berjalan, ia akhirnya bisa menemukan bayangan agak lebar yang lebih gelap dari bebatuan di sekelilingnya, tapi juga samar-samar terlihat berpendar. Hanya ada satu alasan. Lan pun bergegas ke sana.

Lan tersenyum saat menemukan sebuah gua kecil dengan tanaman rambat yang berpendar aneh di atap gua. Pendarannya sudah lebih dari cukup untuk bisa membuatnya melihat sisi-sisi gua, menyadarkannya bahwa gua itu tidak sekecil kelihatannya. Tapi, pendaran itu pun cukup remang untuk membuat Lan tak sadar bahwa ada sesuatu di lantai gua yang membuatnya terjungkal saat ia melangkah masuk.

Lan mengumpat. Ia terlalu terkesima memandangi atap untuk bisa memperhatikan sesuatu yang tergeletak di lantai yang membuatnya terjerembab. Ia segera bangkit dan menghampiri sesuatu itu.

Sesuatu itu tertutup mantel putih gading kehijauan—akibat pendaran cahaya hijau dari tanaman rambat aneh di atap—yang sudah sobek di sana-sini. Wujudnya sendiri tak tampak, hanya menyisakan surai-surai hijau kehitaman—Lan tak yakin, di bawah pendaran remang cahaya hijau itu, semuanya tampak berwarna kehijauan atau semacamnya. Lan kemudian sadar. Itu bukan surai, tapi rambut. Itu juga bukan sesuatu. Itu seseorang.

Lan langsung jatuh pada kedua lututnya. Cepat, dibalikkannya sosok itu. Lan membelalak saat menemukan bahwa sosok itu adalah seorang gadis belasan tahun. Disingkirkannya rambut panjang yang menutupi leher jenjang gadis itu. Lan cepat-cepat menyentuhkan jemarinya ke leher itu. Ia seketika menghela lega ketika jemarinya masih merasakan denyut nadi dari balik kulit pucat itu. Kening mengerut gadis itu meyakinkan Lan bahwa gadis itu tidak sedang tidur. Gadis itu pingsan.

Lan lalu menepuk-nepuk pipi gadis itu. Keras. Tak lama, gadis itu membuka mata. Lan seketika membelalak. Pendar kehijauan tanaman rambat di atap tak mengubah keyakinan Lan soal warna mata gadis itu. Kelabu gelap. Hidung gadis itu juga kecil, dengan dagu agak panjang.

“Hei, apa kau orang selatan? Bagaimana kau bisa ada di sini?”

Gadis itu hanya menggumam kecil. Terlalu lemah untuk sampai ke telinga Lan. Ia pun menunduk, mendekatkan telinganya ke mulut gadis itu.

“Aku lapar,” bisik gadis itu lemah.

Lan seketika mengangkat kepalanya lagi. Tentu saja. Gadis itu pasti pingsan karena kelaparan. Lan kemudian membantu gadis itu bangun dan menyandarkannya di dinding gua. Ia segera meraih tas butut yang tersampir di samping tubuhnya, mengambil roti gandum yang sempat disambarnya dari rumah sebelum pergi, lalu menyodorkannya pada gadis itu. Hanya butuh beberapa saat untuk roti itu raib. Lan lalu mengambil kantong air dari dalam tas dan menyerahkannya pada gadis itu. Lan yakin gadis itu baru saja menghabiskan separuh isi kantong itu.

“Terima kasih. Kau baik sekali.”

Lan seketika mengernyit. “Kau … fasih sekali bahasa kami. Logatmu juga tak seperti orang selatan.”

Lan mengamati gadis itu lagi. Ia tak mungkin salah mengenali orang. Bahkan gadis itu pun masih mengenakan pakaian orang selatan—kerah baju rendah dengan memperlihatkan belikat, juga rompi luar tanpa lengan berkerah rendah membentuk kotak. Satu hal yang menarik perhatian Lan. Baju itu berlengan panjang sampai mendekati buku jari. Lan kembali mengernyit. “Kau bukan dari keluarga miskin. Lengan bajumu menunjukkan kalau paling tidak kau adalah bawahan seorang bangsawan. Apa aku salah?”

“Tidak, kau benar. Aku di sini mencari majikanku. Dia kabur dari rumah. Entah bagaimana, aku sampai di sini dan ambruk karena kelaparan.”

“Siapa namamu?”

“Sua. Kau siapa?”

“Namaku Lan.”

“Lan?” Mata Sua seketika membulat. Ia lalu mencondongkan tubuh ke arah Lan. Diamatinya Lan dari atas hingga bawah, mau tak mau membuat Lan risih. Sua kemudian tersenyum. “Kau juga bukan orang utara. Nama dan perawakanmu tidak seperti mereka. Padahal, kau begitu fasih bahasa utara.”

“Sepuluh tahun hidup di keluarga bangsawan kuno negeri ini sudah lebih dari cukup untuk membuatku terbiasa dengan adat sini.”

“Kalau begitu, kau berasal dari mana?”

Lan hanya memandangi gadis di hadapannya itu tajam. Dilihat dari perawakannya, gadis itu seumuran dengan adiknya. Ia lalu menghela panjang dan bangkit menjauhi Sua. Ia kemudian bersandar ke dinding di seberang tempat bersandar Sua. Diabaikan seperti itu, Sua hanya memajukan bibirnya dengan alis menyatu. Sua kemudian bangkit dan duduk di samping Lan. Lan bergeser menjauh, tapi Sua kembali memepetnya, membuat Lan tak punya pilihan lain kecuali kembali menatap gadis itu tajam.

“Apa yang kaulakukan?”

“Dingin,” jawab Sua singkat. “Kita bisa saling berbagi kehangatan dengan berdekatan seperti ini.”

“Aku tidak ingin berbagi kehangatan,” kata Lan sambil beranjak menuju sisi seberang.

Mereka kini berhadapan. Lan seketika membuang muka saat menangkap senyuman Sua. Lan berbaring, berusaha memejam. Ia melirik ke seberang, demi menemukan Sua yang juga berbaring sambil menatap lurus padanya. Senyum simpul kembali menghiasi wajah Sua, yang seketika itu juga mengingatkan Lan pada Yue. Ia pun cepat-cepat berbalik memunggungi Sua. Matanya menatap kosong ke arah dinding gua. Sesuatu tentang Yue menggelitik benaknya, membawanya kembali ke masa lalu.

“Ini adalah ikatan kita,” kata seorang anak laki-laki sambil menggurat sebuah lingkaran di atas tanah dengan patahan ranting. “Lalu, ini,” lanjutnya sambil kembali memberikan guratan membusur di dalam lingkaran, “adalah fondasinya.”

Si Anak Lelaki mendongak, menatap senang saat seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki yang lebih muda darinya itu menatanya bingung. Ia lalu menoleh pada anak perempuan itu. “Itu kau, Lan.”

“Aku … fondasinya?” tanya Lan bingung.

Anak lelaki itu hanya mengangguk. Ia kemudian kembali memberi guratan membusur di dalam lingkaran. Dua kali, hingga ketiga guratan di dalam lingkaran itu membentuk segitiga. “Dua sisanya adalah bangunannya. Aku dan Yue,” katanya sambil mengacak-acak rambut anak lelaki yang lebih muda darinya. Anak lelaki yang lebih muda itu hanya tertawa senang.

Si Anak Lelaki mengikuti guratan melingkar dengan jemarinya. “Takkan terpisah selamanya.” Jemarinya lalu beralih ke guratan segitiga. “Kita … saudara sampai mati.”

Ketiganya pun tertawa, seolah itu adalah tawa terakhir mereka di dunia ini.

Lan menghela cepat. “Kenapa aku yang jadi fondasinya? Kakak … aku tak pernah punya kesempatan untuk bertanya.”

“Kau bicara padaku?”

Tersentak, Lan bangkit dari tidurnya dan berbalik demi menemukan tatapan penasaran dari Sua. Lan benar-benar lupa kalau ia tidak sedang sendirian di Lubang Temu. Ia hanya mendengus kesal. “Sudah, tidurlah.”

Lan kembali berbaring, lalu memejam. Kali ini benar-benar berusaha untuk tidur. Sementara, Sua tak sebentar pun memejam. Matanya tertuju langsung pada Lan. Sorot mata kelabunya mengelam, dan senyumnya hilang.

***

Matahari sudah tinggi saat Lan nyaris mencapai kaki bukit. Ia berhenti sejenak, mengambil napas. Kehadiran orang lain di dekatnya membuat Lan menyatukan alis. Ia lalu berbalik, demi mendapati senyuman Sua di hadapannya.

“Berhenti mengikutiku!”

“Di tempat ini, hanya kau yang kukenal. Aku tidak tahu wilayah sini. Kalau sembarangan berkeliaran, aku pasti tersesat.”

“Kalau begitu, cari kenalan lain.”

“Ayolah,” kata Sua sambil beranjak lebih dekat ke hadapan Lan. “Aku juga ingin ke kota. Kita bisa ke sana bersama.”

Lan menatap tajam gadis itu. Sua bergeming, dan masih tetap tersenyum. Lan kesal sekali melihatnya. “Sesampainya di kota, menyingkirlah dariku.”

Lan berbalik dan menjauh dari gadis itu dengan cepat. Tak lama ia berhenti, lalu berbalik lagi. “Sebelum itu, tutupi dulu lehermu dengan sesuatu.”

“Apa?”

“Apa kau tidak tahu? Di sini, perempuan yang begitu berani mempertontonkan lekukan leher dan tulang belikatnya … itu menjijikkan.”

“Itu peraturan dari mana? Konyol sekali.”

Lan bergegas menuju Sua, lantas berhenti tak sampai semeter dari gadis itu. “Peraturan yang membedakan tinggi-rendahnya kasta seseorang berdasarkan panjang-pendeknya lengan baju justru jauh lebih konyol lagi, kan?”

Sua tak menyangkal. Ia hanya menggigit bibir bawahnya. “Aku tak punya apa pun lagi untuk menutupi leherku.”

Lan mendengus kesal. Ia lalu menarik semacam kain panjang dari dalam tas buntutnya. Pelan, ia mengalungkan kain itu di leher Sua. Hati-hati, Lan mengikatkan kain itu sedemikian rupa hingga menutupi leher dan belikat Sua. Sua tersenyum setelah Lan menyelesaikan pekerjaannya. “Kau berubah lembut. Kalau kau sedikit lebih baik lagi, aku pasti menyukaimu. Kita bisa jadi teman, Lan.”

“Aku tidak butuh uluran pertemanan dari anak ayam yang sedang kehilangan induknya. Kau seharusnya fokus saja menemukan majikanmu itu.”

“Kalau begitu, apa kau tahu tempat yang cocok untuk mencari informasi?”

Lan hanya bisa mengerang cepat. Seketika, ia merutuki dirinya sendiri. Membuat gadis itu mencetuskan ide semacam itu hanya akan membuatnya repot sampai seterusnya. Karena tempat tujuan mereka sama. Lan sepertinya memang harus bertahan dengan gadis itu lebih lama lagi. Ia sebelumnya berharap bisa menyingkirkan benalu secepat mungkin setelah mereka tiba di kota. Tapi, ia masih harus menunggu sampai mereka bertemu Nulla.

“Kita harus menemui Nulla. Dia informan paling bisa dipercaya di sepenjuru daratan utara.”

“Kita? Apa kau juga mencarinya?”

Bukannya menjawab, Lan justru mendengus kesal. Ini perjalanan keduanya ditemani benalu. Lan masih ingat, perjalanan pertamanya ditemani orang lain tidak berakhir baik, terutama untuknya. Sebuah kota kecil hancur, dan ia dicari-cari pemerintah setempat. Beruntung, nama klan Verellin membuatnya tak jadi kehilangan kepala. Sejak saat itu, ia lebih suka bekerja sendirian.

Lan cepat-cepat beranjak dari tempat itu, menuju kota. Di belakangnya, Sua berlari-lari kecil menyeimbangi langkah Lan.
Share:

2 komentar: