5 Januari 2012

,

Setan Merah: The Fallen Devil?

Kalau ada istilah The Fallen Angel untuk penyebutan malaikat yang jatuh dari surga, apakah setan juga memiliki istilah yang sama untuk menyebut keterpurukannya? Entahlah. Apakah setan bisa lebih jatuh lagi? Hahaha, kenapa saya jadi berpusing-pusing ria soal itu, ya?

Saya hanya sedang ingin menulis soal BPL. Apa itu BPL? Euh, masa' harus tanya lagi, sih? Barclays Premier League, nama untuk liga utama di Inggris. Entah kenapa, saya suka sekali menonton BPL, mungkin karena jarak kemampuan tim papan atas dan tim papan bawah tidak terlampau jauh, sehingga kompetisi tetap terjaga baik meskipun pertandingan sedang menghadapkan tim papan atas dan tim papan bawah. Itulah menariknya. Lalu apa hubungannya dengan setan merah?

Saya tidak akan malu untuk bilang bahwa saya fans Manchester United. Saya bukan fans fanatik tentu saja. Tapi, saya sudah menyukai MU sejak SMA (kira-kira tahun 2003), apalagi sejak saya mempelajari tentang tragedi Munich. Saya semakin kagum, karena setelah kehilangan lebih dari separuh anggota tim karena kecelakaan pesawat di Munich. Beberapa luka parah, sebagian besar meninggal dunia. Saya tidak bisa membayangkan keterpurukan yang dirasakan orang-orang yang berkaitan dengan MU saat itu. Tapi, pertandingan tingkat Eropa yang dalam waktu singkat harus dilaksanakan, memaksa MU bangkit dan mengumpulkan kembali anggota tim dari sana-sini. Membeli pemain baru..., membakar kembali semangat tim..., menekan kesedihan karena kematian rekan-rekan mereka.... Dalam waktu tak terlalu lama, mereka bisa bangkit lagi. Kejadian itulah yang membuat saya ingin mengikuti bagaimana perkembangan permainan MU ke depannya. Tanpa terhindari, makin lama saya makin menyukai MU.

Oke, cukup curcolannya. Saya hanya merasa bahwa akhir-akhir ini MU kehilangan tipe permainan aslinya. Entahlah. Saya bukan pengamat sepak bola. Saya hanya terlalu sering menonton permainan MU selama 8 tahun untuk tahu apakah permainan mereka sama seperti biasanya atau tidak. Mungkin saya salah. Tapi, rasanya mengganjal saja kalau saya tidak menuliskan uneg-uneg saya setelah melihat pertandingan dini hari tadi dengan kemenangan Newcastle United 3-0 atas MU.

Mungkin ini perasaan saya saja, tapi sejak dikalahkan City di kandang sendiri dengan beda skor jauh itu, permainan mereka tidak setaktis biasanya. Setelah kalah 1-6 itu memang tak terlalu tampak. Tapi, di dua pertandingan terakhir ini, saat melawan Blackburn Rovers dan Newcastle United, mereka jelas kehilangan tipe permainan mereka. Mereka tidak main buruk, tentu saja, tapi tetap saja jauh dari ekspektasi saya soal permainan Setan Merah. Maka dari itu, saya berusaha keras untuk tidak menjadi penggemar fanatik. Penggemar fanatik hanya akan melihat keburukan lawan dan menyalahkan wasit saat tim kesayangan mereka kalah, tanpa sadar kalau kesalahan utama terletak pada tim itu sendiri. Ini yang saya rasakan dini hari tadi, karena Newcastle United memang main jauh lebih bagus. Saya angkat topi buat mereka. Mereka memang pantas menang dini hari tadi.

MU tak pernah main dengan membiarkan lini belakang, tengah, dan depan tak terhubung sama sekali. Mereka biasanya main cepat dan taktis dengan memanfaatkan lebar lapangan dan space sekecil apa pun untuk bisa menyerang pertahanan lawan. Tapi, saya salut pada Newcastle United. Sejak awal pertandingan sampai peluit tanda pertandingan berakhir dibunyikan, tak sekali pun mereka melonggarkan man mark mereka. Tiap pemain MU dapat bola, mereka selalu konsisten melakukan tekanan pada pemain yang memegang bola, tanpa membiarkan mereka bebas untuk saling mengoper. Taktik mendasar itu berjalan sangat efektif, saya rasa. Hubungan antarlini terputus. MU seperti kehilang penghubung antara lini pertahanan dan lini tengah, begitu pula dengan penghubung lini tengah dan lini depan. Mereka terisolasi. Itu yang membuat mereka tidak bisa main bebas.

Bahkan, Giggs yang biasanya main cepat, terarah, dan tidak serampangan itu, entah kenapa tidak bisa main optimal. Biasanya saya langsung tahu kalau Giggs main tanpa melihat daftar pemain yang selalu dimunculkan sebelum pertandingan dimulai karena permainannya yang memang khas sekali. Tapi, dini hari tadi, kalau saya tidak melihat angka 11 di punggung seragamnya, saya pasti tidak tahu apakah dia dimainkan atau tidak.

Yang paling menarik perhatian saya adalah komunikasi antara kiper dan para defender. Entahlah, mereka seperti hilang komunikasi, sering sekali terjadi salah pengertian antara kiper dan defender. Entah apa, tapi saya tahu ada yang salah. Penjaga gawang MU sekarang bukan lagi Van der Saar, sih, apa yang bisa saya harapkan? Bukan berarti saya bilang kalau permainan Lindegaard buruk. Paling tidak, dia sudah berusaha keras. Tapi, pemain yang paling menarik perhatian saya adalah Jones. Sejak awal babak kedua, permainannya yang sangat emosional dan serampangan itu sudah langsung membuat saya berpikir bahwa pemain yang satu ini cepat atau lambat pasti akan membuat masalah di pertandingan ini. Ide terjauh yang terpikir oleh saya adalah dia akan melakukan pelanggaran di kotak penalti. Saya tak pernah membayangkan sesuatu seperti "gol bunuh diri" darinya. Yah, ini memang bukan harinya.

"This is not MU. There's something wrong with them." Itulah yang terpikir oleh saya setelah pertandingan dini hari tadi. Entahlah. Mereka serasa tidak bisa main kolektif. Teamwork mereka beberapa kali terpecah. Salut untuk taktik man mark yang berhasil dari Newcastle United.

Yah, roda memang selalu berputar. Kadang di atas, kadang di bawah. Saya hanya berharap Sir Alex bisa membawa tim untuk memutar roda kembali menuju ke permainan asli mereka. Saya tidak terlalu peduli skor sih. Mungkin saya memang kecewa tiap kali mereka kalah, tapi permainan bagus mereka lebih dari cukup untuk bisa menghilangkan kekecewaan saya. Tapi, memang begitu kan sebuah pertandingan itu? Selalu ada drama dalam setiap pertandingan. Mungkin itulah yang dinamakan "drama tanpa skenario".

Well, semoga mereka bisa bangkit lagi dan kembali ke permainan biasanya mereka di pertandingan berikutnya. Keterpurukan semacam ini malah bisa jadi pelajaran yang amat berharga daripada kemenangan yang wajar mereka dapatkan, bukan? Hehehe, ambil saja hikmah positif dari semua ini. Kita memang seringkali lebih banyak belajar dari kegagalan daripada keberhasilan.

Ganbatte, Red Devil! XD

Salam :)

Share:

2 komentar:

  1. haaaaaaaa? Dya Ragiiiiiil? Ada apa gerangan sampai menulis tentang MU? :DDD

    BalasHapus
  2. @Ayu Welirang Wkwkwkwk, karena saya fan MU *digampar*

    Yah, sekali-kali menulis sesuatu yang gak ada hubungannya sama tulis-menulis gak apa-apalah *plak*

    Lagian, kalau uneg-uneg ini gak dikeluarin, bisa menghambat ide novel saya >.<

    BalasHapus