4 Januari 2012

,

[Katalis Waktu] Chapter 2

Lan tepekur di depan sebuah ruangan yang dikelilingi oleh kaca. Ruangan itu luang dan gelap. Satu-satunya penerangan hanya berasal dari sebuah tabung perak seukuran manusia di tengah ruangan. Pelan, Lan membuka pintu. Bulu kuduknya berdiri seketika karena hawa dingin yang menusuknya tiba-tiba. Ia mendekati tabung itu. Tak sepenuhnya tabung itu berwarna perak, ada bagian yang dipasangi kaca tepat di tempat wajah seseorang berada. Lan memandang pilu wajah seseorang yang berada di dalam tabung penuh air itu. Lubang pernapasan orang itu terhubung ke selang yang menyambung menembus ke dasar lantai. Lan sendiri tidak tahu ke mana selang itu menuju.

Wajah itu begitu pucat. Lan bisa membayangkan mata hijau cerah di balik kelopak yang tertutup itu tengah menyorot kosong. Lan bahkan tak tahu apakah jiwa orang yang selama ini sudah jadi mentornya selama bertahun-tahun itu masih tersisa di raganya. Tanpa terasa, tangannya mengepal. Ada sorot kemarahan di dalam matanya. Ia masih tidak mengerti. Apa yang dipikirkan Ellial saat dulu membuat Hazel menjadi seperti ini? Sampai-sampai Hazel terkurung di dalam sebuah tabung pemulihan semacam ini.

“Tuan Hazel,” bisiknya parau. “Apa Tuan tahu kenapa Tuan Ellial mengkhianati kita seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi hari itu? Kenapa dia menyerangmu?”

Lan tahu bahwa tuannya itu hanya akan tetap diam, tanpa bisa bereaksi sedikit pun. Tapi, tetap saja matanya mulai menghangat. Saat pandangannya mulai mengabut, ia memejam keras-keras.

“Kau masih di sini?”

Suara berat dan dalam itu seketika membuat Lan tersentak. Ia mengenali suara itu. Ia segera berbalik dan menunduk hormat. Ia pun menjauh dari tabung perak.

Seorang lelaki pertengahan tiga puluhan dengan rambut hitam sebahu yang diikat ke belakang itu berjalan melewati Lan menuju tabung perak. Mata hijaunya menatap lembut wajah pucat Hazel. Seringai kesedihan terlukis di wajahnya, melengkapi sorot matanya yang mulai berubah sayu. Tak lama, ia berpaling pada Lan.

“Lehen memberitahuku bahwa kau ingin pergi mengikuti Ellial. Kenapa masih di sini?”

Lan diam. Ia bahkan tak berani mengangkat wajah. Di antara empat bersaudara yang menjadi majikannya selama sepuluh tahun, hanya lelaki yang sekarang berdiri di hadapannya itulah yang selalu membuatnya merasa sungkan. Bahkan cenderung waspada. Bukan karena dia adalah yang tertua di antara keempatnya, namun karena aura berat yang terasa oleh Lan tiap ia berada di dekat lelaki itu.

“Baru setahun kutinggalkan tempat ini, kau sudah mulai tidak sopan, Lan?”

Terkejut, Lan seketika menengadah. “Tuan?”

“Siapa yang mengajarimu untuk tidak menjawab kalau ditanya?”

“Maafkan saya, Tuan. Saya hanya terkejut melihat Tuan Zerua tiba-tiba pulang setelah pergi tanpa kabar.”

Keduanya terdiam. Tapi, fakta bahwa Zerua tak memarahinya lagi membuat Lan merasa sedikit lega. “Tuan kapan sampai?”

“Baru saja.”

Lan hanya mengernyit. Ia ingat, Zerua pernah bilang padanya kalau hendak pergi demi mencari tahu sesuatu. Tapi, ia tak yakin apakah yang dicari Zerua itu berhubungan dengan Ellial atau tidak. “Apa Tuan menemukan apa yang Tuan cari?”

“Kau ingin tahu?”

“Kalau Tuan mau memberitahu saya.”

Zerua tersenyum. Ia lantas menepuk-nepuk kepala Lan. “Mungkin kau memang perlu tahu beberapa hal.” Setelah mengatakan itu, Zerua beranjak keluar dari ruangan. Lan mengikutinya.

“Lalu, apa yang Tuan cari?” tanya Lan sesudah mereka berada di koridor utama.

“Kau ingat saat pertama kali Ellial menemukan kalian?”

Lan mengangguk.

“Dia melakukan sesuatu saat mengobati kalian, kan?”

Lan mengangkat kedua alisnya. Maksudnya api putih yang membakar tangan kanan Ellial? Lan tahu kalau memang suatu yang ganjil mendapati seorang anak kecil bisa mengendalikan energi murni semacam itu. Tapi, itu bukan alasan untuk menjadikan api putih itu sebagai masalah, kan?

“Apakah api putih itu jadi masalah, Tuan?”

Kedua alis Zerua menyatu. Sorot matanya berubah suram. “Ellial tak seharusnya menggunakan energi terkutuk itu.”

“Bagaimana Tuan bisa mengatakan energi kehidupan sebagai sesuatu yang terkutuk?”

“Untuk mendapatkan energi murni sebesar itu, seseorang harus menukarkan hal yang sebanding besarnya. Aku penasaran, apa yang dikorbankan Ellial? Bertahun-tahun aku mencari, tak pernah kutemukan jawabannya.”

“Kenapa Tuan tidak menanyakannya sendiri kepada orangnya langsung?”

“Kau menanyakan itu seolah-olah kau tidak tahu seperti apa sifat Ellial.”

Kata-kata itu sudah lebih dari cukup untuk membungkam Lan. Ellial memang tipe orang yang sangat suka menyimpan rahasia. Sekali ia memutuskan untuk menyimpan rahasia itu seumur hidupnya, tak ada seorang pun yang akan bisa membongkar apa yang disembunyikannya. Lan menghela panjang. Kalau bukan karena ancaman Lehen yang akan menjadikan Yue sama seperti dirinya, ia takkan mau tinggal. Tapi, apa bedanya sekarang? Toh, ancaman itu tetap dilaksanakan. Apa sebenarnya istimewanya wanita yang menjadi target Yue itu?

“Apakah Tuan tahu tentang wanita yang menjadi target Le—maksud saya, Tuan Lehen?”

Lan bersumpah ia bisa melihat seringai kesedihan itu mampir kembali ke wajah Zerua. Lan semakin penasaran, bagaimana bisa pembahasan tentang wanita itu memicu reaksi yang jarang sekali dilihatnya dari Zerua itu.

“Dia bungsu dari tiga bersaudara, berasal dari klan Arinaz.”

Lan membeliak seketika. Ia pernah mendengar nama klan itu disebut-sebut. “Bukankah klan Arinaz itu musuh bebuyutan klan Verellin, Tuan?”

Anggukan kecil dari Zerua segera membuat Lan diam. Verellin adalah nama klan keempat majikannya. Dan Ellial mengkhianati klannya sendiri demi wanita dari klan musuh? Lan semakin tidak mengerti jalan pikiran majikannya yang satu itu.

“Aku tahu Ellial adalah majikanmu yang berharga, Lan. Tapi, cobalah kaulihat dari sisi yang berbeda. Kau tahu betul, di keluarga ini, pengkhianatan adalah sesuatu yang tak termaafkan. Sekali kau menginjakkan kaki di pihak musuh, tak ada lagi tempat kembali bagimu.”

“Kenapa Tuan mengatakan semua itu pada saya?”

Zerua berbalik menghadapi Lan. Mata tajamnya tertubruk lurus ke arah mata cokelat Lan. “Terlalu cepat sepuluh tahun untuk bisa mengelabuhiku, Lan. Aku tahu kau masih ingin pergi mengikutinya. Hanya keberadaan Yue yang menahanmu tetap di sini.”

Lan tidak menyangkal, meskipun juga tidak mengiyakan. Tapi, diamnya itu sudah lebih dari cukup untuk dianggap sebagai jawaban. Lan sendiri pun tahu bahwa tak satu pun kata-kata Zerua yang keliru.

“Tapi, kenapa Tuan Lehen menyuruh Yue untuk tugas penting ini? Dia bisa menyuruh saya.”

“Kau tahu sendiri, aku jarang sekali bisa sependapat dengan apa pun keputusan yang dibuat bocah itu. Tapi, kali ini aku setuju dengannya.”

“Apa maksud Tuan?”

“Kaupikir kami tidak tahu kepada siapa kesetiaanmu tertuju?”

Lan sudah membuka mulut hendak menjawab, tapi ditutupnya kembali. Ia tak bisa menyangkal.

Zerua beranjak meninggalkan Lan yang masih terpaku di tempat. Baru beberapa langkah berjalan, ia berhenti lagi. “Apa kau hendak protes pada Lehen?” tanyanya tanpa menoleh.

“Ya, Tuan,” sahutnya lirih. “Saya tidak bisa membiarkan Yue menjalankan misi ini.”

“Kau cari penyakit saja.”


***

Lan berdiri kaku menghadapi sebuah pintu besar berukirkan bunga es. Suatu aura yang lebih berat dari yang dirasakannya saat berada di dekat Zerua muncul entah dari mana. Ia ragu sejenak. Bayangan adik laki-lakinya yang tengah tertawa muncul sekilas, membuatnya memantapkan diri. Bagaimanapun juga, Lan tak ingin kehilangan tawa itu. Ia menarik napas cepat, lalu menghembuskannya perlahan. Didorongnya pintu itu. Pelan, tapi tetap menghasilkan bunyi berdecit yang membuat kuduk Lan berdiri. Lan mengabaikannya.

Ruangan yang dimasuki Lan itu berbentuk silinder karena memang berada di lantai paling atas menara. Terlihat atapnya yang tajam meruncing ke atas dengan cahaya redup yang terjebak dalam kaca-kaca kecil yang menggantung dari pusat runcingan atap. Membuat cahaya yang melumuri wilayah di bawahnya terlalu lemah untuk menjangkau sudut-sudut yang tersembunyi hingga batas antara yang tersinari dan bayangannya menjadi bias.

Lan selalu merasa penasaran kenapa tak pernah ada satu pun perabotan di ruangan itu—kecuali kaca-kaca kecil berisi cahaya redup yang tergantung di atap. Hanya ada sebuah lingkaran sewarna darah di pusat ruangan. Dekorasi yang gagal jika diniatkan sebagai lelucon. Tapi, Lehen bukan tipe yang menyukai lelucon, jadi lingkaran itu berada di situ pastilah bukan tanpa alasan. Lan yakin itu.

Lan mengalihkan pandangannya dari lingkaran di lantai ruangan. Fokusnya kini tertuju pada lelaki yang usianya hanya terpaut setahun di bawahnya itu, yang berdiri membelakanginya tepat di depan satu-satunya jendela di ruangan itu. Cahaya matahari membuat siluetnya tercetak jelas di mata Lan. Cara berdiri kaku lelaki itu meyakinkan Lan bahwa ia tak salah ruangan.

“Sepertinya kakakku sudah pulang,” katanya dengan suara dalam yang selalu membuat Lan bergidik.

Dalam hati, Lan mengumpat. Meskipun Lehen merupakan yang termuda di antara empat saudara itu, tapi dialah yang sekarang menjadi pemimpin klan Verellin. Ya, pemimpin klan Verellin tak pernah dipilih berdasarkan senioritas, tapi berdasarkan kemampuan. Sialnya, kemampuan Lehen dipandang dari segala sisi memang mengungguli ketiga kakaknya. Lan tak pernah menyukai fakta itu. Hal itu karena seringkali Lehen menganggap anak buahnya tak lebih dari sekadar alat.

“Ya, Tuan Zerua memang sudah kembali.”

“Bagaimana Hazel?”

“Belum ada perkembangan.”

“Tak ada lagi berita apa pun?”

Lan diam. Memang tak ada berita apa-apa lagi. Lagi pula, kedatangannya ke sini bukan untuk menyampaikan berita. “Tidak ada.”

Saat Lehen berbalik, Lan bisa melihat kilatan berbahaya dari mata hijaunya. Dan itu selalu merupakan pertanda buruk. Mau tak mau, gadis itu mengalihkan pandangannya dari mata Lehen.

“Lalu, untuk apa kau ke sini? Yue lagi?”

Lan mengepalkan tangannya, mencoba meredakan rasa tak nyaman yang dirasakannya saat ini. Perlahan, ia mengangkat wajahnya, meneguhkan hati menatap langsung mata hijau yang terlihat kejam itu.

“Biarkan aku yang melakukan misi ini. Jangan libatkan Yue.”

“Dia menerimanya dengan senang hati.”

“Yue masih anak-anak.”

“Yue lebih tua tiga tahun dibanding denganmu saat kau pertama kali menerima misi, Lan. Lagi pula, usia tujuh belas sudah tak bisa digolongkan sebagai anak-anak lagi.”

Lan tak menjawab. Ia tahu itu. Tapi, tetap saja ia menginginkan adiknya melakukan sesuatu yang jauh dari apa pun yang melibatkan senjata. “Tugas apa yang sebenarnya kauberikan padanya? Aku bisa melakukannya dengan jauh lebih baik.”

Lehen berjalan mendekati Lan, lalu berhenti tak sampai semeter dari Lan. Mata hijaunya mulai menyala merah, membuat jantung Lan berdegup kencang dalam artian buruk. Tanpa sadar, Lan mundur selangkah. Tangannya gemetar tanpa ia kehendaki. Akhirnya ia hanya bisa mengepal keras-keras.

“Aku sudah lama tidak mempermasalahkan ketidaksopananmu,” kata Lehen dingin. “Tapi, menentang keputusanku adalah masalah lain. Apa kau begitu inginnya mati cepat?”

Lan tahu sesuatu semacam ini akan terjadi. Tapi, ia tetap tersentak dengan teguran barusan. Lan menggigit bibirnya keras, coba meredakan ketakutannya sendiri. Tak terlalu berhasil.

“Aku tahu setelah ini kau takkan menurutiku lagi. Dan aku tidak butuh bawahan yang tidak patuh. Dinginkan kepalamu dan pikirkan baik-baik. Kalau kau masih ingin mengabdi pada keluarga ini, turuti perintahku. Kalau tidak, mulai sekarang aku tidak mau melihat wajahmu lagi.”

“Aku takkan ke mana-mana tanpa Yue—”

“Yue sudah pergi.”

“Apa?”

“Baru saja.”

Lan seketika membeliak. Yue baru tadi pagi sarapan bersamanya, dan sekarang sudah tidak ada lagi di rumah ini. Lan hanya bisa menatap Lehen tak percaya. “Kau sudah mengutusnya?!”

“Itu bukan urusanmu.”

“Dia adikku. Tentu ini jadi urusan—”

Kata-kata itu tak pernah selesai. Lan terlalu terkejut oleh lantai di depannya yang retak seketika. Sesaat kemudian, sebuah sulur hitam raksasa mencuat dari lantai dengan diiringi suara gemuruh yang menakutkan. Dengan kecepatan tinggi, sulur itu bergerak menuju leher Lan, melilitnya erat, dan mendorongnya ke arah dinding. Suara benturan keras terdengar saat punggung Lan bertemu dinding dan meretakkannya.

Lan nyaris tak bisa bernapas. Kalau lilitan itu mengencang sedikit saja, ia sudah akan mati. Sambil menahan rasa sakit, ia coba memicingkan mata. Lehen sudah berbayang dua di matanya. Sinar matahari yang menyilaukan dari jendela hanya membuat penglihatannya makin buyar.

Tak lama, lilitan sulur itu mengendur. Sulur hitam itu pun tertarik lagi ke dalam bumi lewat lantai berlubang tempatnya tadi masuk. Tanpa sulur yang melilitnya, Lan jatuh. Untungnya ia cukup siaga untuk mendarat dengan kedua kaki dan sebelah tangannya, sementara sebelah tangan yang lain melonggarkan kerah bajunya agar udara masuk ke paru-parunya. Masih terengah-engah, ia menengadah. Ada kemarahan dalam mata cokelat sipit yang tertuju langsung pada mata hijau dingin di depannya itu.

“Ini peringatan terakhir, Lan. Enyah dari hadapanku, atau kubekukan jantungmu itu saat ini juga.”

Lan tahu Lehen tidak main-main, apalagi dengan tangan kanan terangkat dan kelima jarinya yang terentang. Pose itu hanya berarti satu hal. Kalau Lan tidak segera pergi, ancaman barusan akan berakhir lebih dari sekadar ancaman.

Meski payah-payah, Lan berhasil berdiri tegak. Sebelum pergi, mereka sempat bersitatap sebentar. Atmosfer yang pekat semakin memperburuk tatapan permusuhan di antara mereka.

Lan berbalik dan berjalan dengan agak terseok ke arah pintu. Lan membuka pintu itu. Sebelum keluar, ia menoleh pada Lehen sekali lagi. “Aku akan mengejar Yue. Takkan kubiarkan dia berakhir menjadi sepertiku.”

“Lakukan apa maumu. Tapi, Yue punya ambisi besar. Beda denganmu, dia tak punya keraguan.”

Lan mengabaikan kata-kata itu dan keluar. Begitu pintu tertutup, matanya seketika mengabut. Ambisi besar dan tak punya keraguan. Lan sudah tahu sejak lama, kedua sifat Yue itu suatu saat bisa mengarahkan adiknya jatuh pada kegelapan sama sepertinya. Tangannya mengepal kencang sampai buku-buku jarinya terasa sakit. Lan tak peduli.

Lan bergegas kembali ke rumah mungilnya untuk bersiap-siap. Ia memang tak tahu ke mana perginya Yue. Tapi, kalau targetnya adalah putri bungsu klan Arinaz, ia takkan terlalu kesulitan mencari.

Kau tahu betul, di keluarga ini, pengkhianatan adalah sesuatu yang tak termaafkan. Sekali kau menginjakkan kaki di pihak musuh, tak ada lagi tempat kembali bagimu.

Kata-kata Zerua terngiang-ngiang kembali di benak Lan. Ia memang bukan ingin memihak musuh, tapi keluar dari rumah ini untuk menggagalkan misi klan Verellin tidak lebih baik dari memihak musuh. Lan mengambil napas panjang. Cap sebagai pengkhianat tidak terlalu buruk jika dibandingkan kemungkinan adiknya jatuh ke kubangan lumpur yang sama dengannya. Lan tahu, itu pertukaran yang cukup adil.

-------------------------------------------------------
Jumlah kata: 2155 dari total 3728.
-------------------------------------------------------

Share:

2 komentar: