1 Januari 2012

,

[Katalis Waktu] Chapter 1

Di sebuah tanah gersang jauh di negeri-negeri timur, tempat yang dikenal makmur karena sebuah oase yang selalu jadi perebutan berbagai suku di wilayah itu, kini meranggas. Bekas-bekas titik api tak terhitung jumlahnya, menyisakan reruntuhan bangunan-bangunan batu sepanjang mata memandang. Angin kering berhembus cepat, menyebarkan aroma kematian ke sepenjuru daratan tengah. Terlihat empat orang berada di antara puing-puing bangunan, tengah mencari sesuatu. Tiga di antara mereka masih belasan tahun.

Salah satu dari ketiga anak itu menyusuri pinggiran oase, mata hijaunya memandang pilu tiap melewati mayat-mayat yang telah mulai membusuk. Ia tidak lagi bergidik ngeri seperti dulu. Ia telah melihat terlalu banyak kematian, membuatnya terlalu terbiasa akan hal semacam itu. Ia terhenti, menoleh pada orang yang berdiri tegak di atas salah satu reruntuhan yang masih bisa dipijak. Ia mengernyit seketika. Masih teringat olehnya kata-kata orang itu saat pertama kali mereka berempat menemukan tempat yang sudah luluh lantak ini.

Cari yang masih hidup. Kalau tidak ada, bakar tempat ini.

Anak itu menghela panjang. Dalam situasi seperti ini, pasti merupakan sebuah keajaiban kalau ada satu orang saja yang masih hidup. Ia tidak yakin, tapi ia tetap mencari. Ia kemudian menjauhi oase, mulai memasuki bekas desa, dan membongkar tiap puing bangunan yang bisa ia temukan.

Di tengah kesibukan itu, sebuah lemari penyimpanan kecil ambruk karena tidak kuat menyangga puing-puing yang menimpanya. Sebuah teriakan kecil mengiringinya. Tersentak, anak itu langsung berbalik ke arah sumber suara. Ia lantas berlari ke sana dan menyingkirkan puing-puing berat itu seolah tengah menyingkirkan ranting-ranting mengganggu. Setelah puing terakhir berhasil disingkirkannya, ia hanya bisa terperangah. Di hadapannya, seorang gadis kecil seumurnya tengah memeluk seorang bocah laki-laki yang sedang pingsan—mungkin adik gadis kecil itu. Gadis kecil itu gemetar hebat. Mungkin karena luka di sekujur tubuhnya, mungkin juga karena tiba-tiba melihat seorang anak laki-laki memandang kaget padanya.

Anak laki-laki itu berjongkok, refleks membuat gadis itu semakin ketakutan dan mengeratkan pelukannya pada bocah yang tengah tak sadarkan diri itu. Si Anak Lelaki hanya tersenyum. “Tidak apa-apa,” katanya lembut. “Kau akan baik-baik saja. Kami akan merawat kalian.”

Gadis itu tak menjawab, hanya membelalak pada anak lelaki di depannya.

Perlahan, anak lelaki itu mengulurkan tangannya, mencoba memeriksa bocah lelaki di pelukan gadis itu. Tapi, seketika tangannya ditepis.

“Ja—ja—jangan sentuh adikku!”

Anak lelaki itu tetap tersenyum. “Aku hanya ingin memeriksa apa dia baik-baik saja. Boleh?”

Sebagai jawaban, gadis kecil itu mengeratkan pelukannya.

Si Anak Lelaki hanya menghela panjang. “Apa kau ingin adikmu mati?”

Gadis kecil itu membelalak, ada kemarahan dalam tatapannya.

“Kalau begitu, biarkan aku memeriksanya.”

Anak lelaki itu mendekat dan mengulurkan tangannya lagi, tapi gadis kecil itu menyeret dirinya sendiri mundur. Anak lelaki itu hanya mengernyit. Ia kemudian memaksakan diri tersenyum sekali lagi. “Siapa namamu? Aku Ellial.”

Gadis kecil itu masih terlalu ketakutan untuk menjawab, mau tak mau mulai membuat Ellial kesal. Ia kemudian duduk bersila di hadapan gadis kecil itu. “Baik, akan kutunggu. Sampai kau mau membiarkanku memeriksa adikmu. Dasar Monster Kecil, kau mirip sekali dengan adikku. Dia juga benci disentuh. Terutama kalau tubuhnya sedang luka. Nah, bagaimana dia mau diobati kalau tidak mau disentuh, coba?”

Ellial terdiam sejenak, memberi jeda pada gadis kecil itu untuk berpikir. Tapi, sepertinya percuma. “Kau benar-benar tak peduli pada adikmu?”

Ellial mengabaikan mata marah gadis kecil itu. Ia lalu mengangkat sebelah tangannya. Dalam sekejap, tangan itu sudah terbakar, oleh api berwarna putih. Gadis itu membelalak kaget, tapi tak ada ketakutan dalam sorot matanya barusan.

“Aku bisa menyembuhkan adikmu. Kau tahu itu.”

Ellial mencoba mendekat lagi. Ia langsung tersenyum saat gadis kecil itu tak lagi mencoba menjauhkan dirinya. Perlahan, disentuhnya dada bocah lelaki yang pingsan itu. Api putih di tangannya seketika menyebar, melilit luka mana saja yang ada. Agak lama, api putih itu memudar diiringi menutupnya luka-luka di badan si Bocah. “Dia akan baik-baik saja setelah ini. Kau melindunginya dengan sangat baik. Tak ada luka yang serius. Dia hanya terlalu syok sampai membuatnya pingsan.”

Ellial menoleh pada gadis kecil itu. “Kau juga perlu diobati, kau tahu?” katanya sambil mengulurkan tangan kanannya yang segera ditepis gadis kecil itu.

“A—aku—aku baik-baik saja.”

Ellial tak memedulikan tepisan itu, ia mengulurkan tangannya lagi. Gadis kecil itu tetap melawan, tapi seseorang dengan tubuh penuh luka begitu tak mungkin mengalahkan seorang anak lelaki sehat yang punya keinginan besar untuk menolong. Meski dengan paksa, akhirnya Ellial bisa menyentuhkan tangannya ke pipi gadis kecil itu. Api putih yang sempat memudar tadi kembali membesar. Mungkin terpicu oleh banyaknya luka di tubuh gadis kecil itu. Gadis kecil itu memejam keras-keras, sambil memalingkan wajahnya sejauh yang ia bisa.

Segera setelah api putih itu kembali memudar, gadis itu membuka matanya. Pelan, ia menoleh pada Ellial. Matanya masih membelalak, tapi ada air yang menggenang di pelupuk matanya, membuat Ellial langsung menyingkirkan tangannya. “A—apa?! Apa proses barusan sakit?”

Gadis kecil itu menggeleng pelan. Jawaban itu membuat Ellial menghembus napas lega. Ia kemudian berdiri dan berbalik. “Aku takkan memaksamu ikut kami. Tapi, berdiam diri di tempat ini sangat berbahaya, kau tahu?” Setelah mengatakan itu, Ellial beranjak.

“Na—namaku Lan.”

Suara lemah itu membuat Ellial berhenti seketika. Ia segera berbalik. “Kau bilang apa?”

Gadis kecil itu mengangkat wajahnya pelan. “Namaku Lan.”

Ellial tersenyum. Ia kemudian melangkah menuju Lan. Setelah sampai, ia setengah berjongkok setengah berlutut, lalu melepas mantel yang dipakainya. Hati-hati, dipakaikannya mantel itu pada Lan. Ia lantas meraih bocah lelaki yang masih pingsan itu dan menggendongnya di punggung. Sekali lagi, ditatapnya Lan dengan lembut. “Ayo, kakakku akan senang bertemu denganmu.”

Mereka bersitatap lama. Dengan sekali anggukan dari Ellial, keraguan di hati Lan menghilang. Ia berdiri, lantas bergegas mengikuti Ellial.
 

***

Lan terbangun dengan sigap. Napasnya memburu, membuatnya harus menepuk dada untuk meredakannya. Gagal, ia malah tercekat. Begitu napasnya stabil, ia bangkit lalu beranjak menuju jendela. Matahari terbit segera menyambutnya begitu jendela dibuka, yang langsung menyiraminya dengan cahaya lembut yang hangat. Lan memejam, berusaha menikmati keindahan pagi yang jarang sekali didapatkannya.

Hatinya terasa sedikit hangat, namun tetap tak mampu mengatasi kekalutannya karena mimpi yang menghantui tidurnya selama beberapa hari terakhir. Ia mengumpat, bagaimana mungkin kejadian sepuluh tahun lalu masih saja bisa masuk ke dalam mimpinya? Dihantamnya bingkai jendela untuk meredakan rasa kesal. Sia-sia.

Suara ketukan pintu segera membuatnya tersentak. Ia terlalu terkejut untuk bisa bereaksi.

“Kakak sudah bangun?” Suara ringan seorang laki-laki segera saja membuat beban di hati Lan menghilang. Ia tersenyum seketika.

Lan cepat-cepat membuka pintu demi mendapati seorang pemuda belasan tahun tersenyum lebar padanya. Mata cokelat sipit yang sama seperti milik Lan itu menyorot cerah, yang seketika itu juga menghangatkan hati Lan.

Pemuda itu mengangkat sekeranjang roti gandum dan menyerahkannya pada Lan. “Aku mau sarapan bersama Kakak.”

“Tunggu sebentar, Yue. Kau tunggulah di depan.”

Setelah Yue mengangguk, Lan menutup pintu dan bergegas mencuci muka. Ia hanya tinggal merapikan sebentar rambut pendek yang potongannya mirip laki-laki itu, lalu mengenakan setelannya—sebuah pakaian berkerah tinggi lengan panjang berwarna hitam dengan rok pendek yang sama hitamnya.

Lan melangkah keluar menuju beranda tempat adiknya tengah menunggu. Suara lantai kayu yang berdecit karena terpijak sepatu bot mengiringi langkah Lan. Saat ia sampai di beranda, ia terhenti. Ditatapnya sejenak punggung Yue. Ia tersenyum lagi.

Ia mengambil duduk di samping Yue. Belum sempat duduk dengan benar, sebuah roti gandum telah tersodor padanya. Tanpa ragu ia mengambilnya sambil membenahi letak duduknya.

“Kau ingin bicara sesuatu, Yue?”

Yue hanya membelalak, lantas tersenyum ganjil. “Ke—kenapa Kakak tanya begitu? Aku cuma ingin sarapan bersama Kakak.”

“Kau hanya akan menawariku makan kalau sedang ingin bicara.”

Yue terdiam. Tak menyangkal, tak pula mengiyakan.

“Apa ini soal tugas dari Lehen?”

“Tuan Lehen, Kak,” koreksi Yue.

“Aku takkan pernah memanggil orang yang sudah membuatmu menempuh jalan kotor yang sama sepertiku sebagai ‘Tuan’.”

“Kakak hanya marah karena Tuan Lehen mengusir Tuan Ellial pergi.”

Mata Lan menajam. Ia segera membelalak saat menyadari bahwa Yue balas menantang tatapannya. Ini pertama kalinya adiknya itu bertindak seperti itu. Lan seketika membuang muka. “Dia cuma seorang adik yang tidak tahu diri. Kalau saja dia tahu sebesar apa pengorbanan Tuan Ellial untuknya.”

“Kakak lupa, atau pura-pura lupa? Tuan Ellial yang sudah mengkhianati kita.”

“Yue!”

“Dia membuat Tuan Hazel tak sadarkan diri tahun lalu. Bahkan sampai detik ini, Tuan Hazel belum membuka matanya. Katakan padaku, Kak. Bagaimana dia bisa setega itu membuat saudara kembarnya sendiri seperti itu?”

“Yue—”

“Aku akan menerima tugas dari Tuan Lehen. Aku tidak akan mundur.”

Yue berdiri, lantas meletakkan keranjang roti yang sudah berkurang separuhnya itu di bekas tempatnya tadi duduk. “Kakak makanlah. Semalam, Kakak belum makan apa-apa, kan?”

Setelah Yue pergi, Lan hanya mampu terdiam kaku. Benaknya berkecamuk sengit. Pikirannya kembali mengembara ke kejadian sepuluh tahun lalu, saat Ellial menemukannya dan Yue di tengah-tengah reruntuhan desanya. Lan tercenung, bagaimana bisa orang sebaik itu berubah mengkhianati keluarganya sendiri hanya demi seorang wanita? Ia tidak tahu seperti apa atau siapa wanita itu, tapi menggunakan Yue untuk melakukan pekerjaan kotor Lehen hanya demi menyingkirkan wanita itu? Lan semakin tak mengerti. Apa istimewanya wanita itu sampai membuat keluarga tempatnya mengabdi selama sepuluh tahun ini menjadi berantakan? Tapi, bagaimanapun juga, ia tak mungkin bisa membiarkan adiknya menerima tugas itu. Akan jauh lebih baik bila ia yang melakukannya.

Lan memakan habis roti gandum pemberian Yue, lantas berdiri. Ia menengadah, menatap tajam ujung menara sebuah bangunan yang tersembunyi di antara pepohonan tak jauh dari rumah mungilnya. Ia membasahi kerongkongannya demi meredakan gemuruh tak nyaman di dadanya. Ia hafal betul perasaan seperti ini—firasat buruk. Sesuatu akan terjadi. Perlahan, kedua tangannya mengepal. Lan sudah memutuskan.

Lan memantapkan langkahnya menuju ujung menara yang tampak di kejauhan, bersiap menghadapi murka Lehen karena sebuah penentangan. Ia tak peduli. Saat ini, di hatinya hanya terisi rasa takut akan kehilangan adik semata wayangnya.



--------------------------------------
Jumlah kata: 1573 kata
--------------------------------------

Share:

2 komentar:

  1. Menunggu lanjutannya :D Apa iya Elial yg baik itu menjadi jahat dan tega?

    BalasHapus
  2. @Gratcia Siahaya Hahaha, itu jawabannya bakal ada di chapter-chapter pertengahan sih rencananya XD

    BalasHapus