13 Desember 2011

, , , ,

Momentum untuk Menulis Kembali

Terkadang, sebuah proyek coba-coba tanpa kita sadari, akan menghasilkan sesuatu apabila mampu kita selesaikan. Mungkin, itulah yang terjadi pada naskah novel pertama saya, yang kebetulan bergenre teenlit. Novel itu awalnya hanyalah proyek coba-coba, sebagai medan latihan saya menulis teenlit. Medan latihan? Ya, karena selama ini saya tidak pernah berhasil menulis teenlit. Mungkin karena gaya bahasa saya yang sama sekali tidak remaja.

Ya, karena itu hanya proyek coba-coba atau proyek eksperimen atau proyek latihan, saya sama sekali tak berniat serius memikirkan mau seperti apa kelanjutan kisah yang sempat saya posting di situs Kemudian sebanyak 3 chapter itu (yang kemudian saya hapus lagi).

Lalu, saat saya hendak melupakan saja proyek itu, saya menemukan sebuah pengumuman yang dishare entah oleh siapa saya lupa, tentang event dari penerbit Bentang Pustaka berupa lomba novel dan kumcer bertema remaja.

Nah, lalu saya kepikiran. Masa' iya naskah yang dulu pernah saya bikin dan saya telantarkan itu mau terus terpendam di dasar peti dalam loteng PC komputer saya? Kok rasa-rasanya sia-sia saja dulu saya bikin dan tak diteruskan lagi?

Jadilah, saya membuka lagi loteng PC dan membongkar peti folder yang sempat terlupakan, lalu menyusun ulang plot dan menulis ulang ceritanya. Ya, hanya butuh sebuah momentum bernama "lomba novel" untuk bisa menggerakkan passion menulis saya kembali. Tentunya, ditambah sepercik keyakinan bahwa saya bisa menyelesaikan kisah ini sebelum 15 Desember. Kenapa 15 Desember?

Sebab, itu adalah tanggal jatuh tempo untuk mengirim naskah novel yang diniatkan untuk diikutkan pada event Bentang Pustaka. Maka, di sela-sela menyusun bab-bab akhir skripsi, saya sempatkan untuk menulis kilat kisah ini yang jumlah chapter keseluruhannya sebanyak 15 chapter.

Hmm, entah kenapa saya jadi ingin cerita soal novel ini.

Oke, begini. Pertama, judulnya. Awalnya, novel ini berjudul "Persimpangan". Tapi, untuk tipe-tipe novel remaja, kok saya merasa judul itu tidak catchy sama sekali. Jadi, saya mengganti judulnya menjadi "A.K.A". Lebih tidak catchy lagi? Hmm, paling tidak, judul itu memiliki arti yang berhubungan dengan inti cerita novel saya. Apa hubungannya? Yah, teman-teman baru bisa mengetahuinya setelah membaca novel saya itu. Hahaha, itu pun kalau lolos ke meja editor, ya? Ah, saya bukannya pesimis. Saya optimis kok. Kalau gagal di satu penerbit, masih banyak penerbit lain. Hahaha, ikan di laut tidak cuma satu, kan?

Oke, tentang apa kisah ini?

Ini adalah kisah tentang seorang anak perempuan kelas 1 SMP yang kata teman saya, dia itu brocon, alias brother complex. Saya langsung terbahak mendengar pendapat itu. Yah, tidak salah juga sih. Karena saya memang mengangkat tema persaudaraan, walaupun aroma persahabatan dan keluarga sama pekatnya. Romance? Ada. Siapa bilang tidak ada? Hanya saja saya buat tersirat, tidak gamblang saya sampaikan. Karena sejujurnya saya tidak terlalu suka mengangkat romance sebagai unsur utama pembangun cerita.

Yah, begitulah. Saya cuma bisa mengucapkan selamat berjuang buat teman-teman yang juga sedang menghadapi deadline menulis. Keep writing, Friends. Kata adalah rohnya penulis. Kalau kita berhenti menjalin kata menjadi kisah yang utuh, bisakah kita masih menyebut diri sebagai penulis? Saya tidak. Karena itu, saya tidak akan berhenti menulis.

Salam :)

Share:

0 komentar:

Posting Komentar