17 Desember 2011

,

[CERBUNG] Secret Admirer - 1

Apakah kaupikir aku sedang kurang kerjaan? Berdiri di sini beberapa lama hanya demi menemukan sosok berkacamata itu duduk di bangku pojokan taman dengan laptopnya? Aku selalu sembunyi di sini, satu-satunya tempat di mana aku bisa memperhatikannya tanpa ketahuan siapa pun. Letaknya di lantai dua, terhalang pagar tinggi bercelah yang bisa dengan segera menyembunyikanku bila ketahuan melihatnya. Gedung lama ini sudah jarang sekali dipakai kuliah. Jadi, ini tempat yang tepat untuk menyembunyikan diriku dari siapa pun.

Tak jauh dari taman, kulihat seseorang melangkah mantap. Langkah yang panjang, tidak cepat dan tidak lambat. Sedang-sedang saja. Ia mengenakan hoodie hitam kali ini. Aih, masih dengan rambut yang berantakan itu. Ya, tudungnya tidak dipakai, jadi aku bisa lihat rambutnya yang sudah melewati tengkuk itu. Ia berjalan menuju bangku itu. Lagi. Ia duduk di sana, lalu membuka laptopnya. Tidak ada buku-buku atau kertas-kertas bersamanya. Ia pasti hanya ingin browsing.

Sejenak aku tersenyum. Kau mungkin penasaran kenapa aku begitu tertarik padanya. Mau kuberitahu? Sebenarnya sederhana saja. Aku menyukainya. Yah, meskipun mungkin dia tidak mengenalku. Mungkin kau akan menyebutku secret admirer? Stalker? Aku tidak menyalahkanmu. Karena sejak hari itu, aku memang terus menyelidiki segala hal tentangnya. Tapi, kurasa aku bukan secret admirer, karena perasaanku lebih dari sekadar kekaguman.

Ah, mungkin kau bertanya-tanya “sejak hari itu” itu kapan?

Hari itu, setahun yang lalu—ya, aku sudah men-stalk dia selama setahun—kami tak sengaja bertemu di dekat jembatan. Dia tampak berantakan, celananya bagian lutut ke bawah basah kuyup. Dia sedang menggendong seekor kucing waktu itu, yang sama-sama basah. Awalnya aku heran, hingga kusadari bahwa kucing itu sekarat. Warnanya hitam pekat, jadi aku tak bisa melihat luka-luka di tubuhnya. Dia lalu menghampiriku karena aku yang berdiri paling dekat dengannya, menanyakan letak klinik hewan.

Dari bisik-bisik orang-orang yang lebih dulu di sana, belakangan aku tahu bahwa dia tiba-tiba masuk ke sungai saat melihat kucing hitam itu terbawa arus. Sepertinya dia pecinta binatang. Hanya orang seperti itu yang mampu terjun ke sungai demi seekor kucing.

Kautahu? Waktu itu, aku panik sekali. Saat melihat kucing itu, dadaku berdebar tak karuan—dalam artian buruk, tentu saja. Aku cemas. Maka diam-diam kuikuti mereka sampai ke klinik hewan di wilayah Kuningan. Untung aku punya teman yang sedang magang di sana. Kebetulan temanku kenal mahasiswa koas yang menangani kucing itu. Dari dia jugalah aku tahu bahwa orang yang kuikuti itu adalah calon maba di tempatku kuliah. Calon adik tingkatku. Aih, ternyata masih bocah.

Begitulah. Sejak saat itu, aku penasaran orang seperti apa dia.

Konyol, bukan? Aku sering merasa begitu. Bagaimana aku bisa menyukai seseorang yang tidak mengenalku seperti ini? Aku dua angkatan di atasnya. Beda fakultas, pula. Aku MIPA, dia Teknik. Tepatnya, jurusan Teknik Elektro. Murni, bukan pendidikan. Namanya? Reza Putra Pamungkas. Hmm, Pamungkas? Dia pasti anak terakhir. Tapi, entahlah.

Sesuatu membuatku mundur seketika. Mataku membulat saat menyadari matanya yang menemukan kehadiranku. Aku bergegas sembunyi di balik pagar tinggi bercelah di samping pagar rendah ini. Dari celahnya, aku bisa melihatnya menutup laptopnya, bangkit, dan menatap bingung ke arah bekas tempatku berdiri. Pandangannya seketika beralih ke pagar tinggi bercelah, membuatku segera berbalik karena panik. Aku tahu pagar ini tinggi, tapi celah-celah ini tetap saja bisa membuat seseorang melihat bayangan orang yang bergerak-gerak panik sepertiku, kan? Apa dia melihatku?

Aku membasahi kerongkonganku yang kering. Suara saat ludahku tertelan makin membuatku merasa tegang, belum lagi dengan degup jantung yang iramanya menyihirku untuk bergeming. Aku tak berani beranjak ke mana pun. Aku merasa keberadaanku akan ketahuan jika aku bergerak sedikit saja.

Setelah beberapa lama yang terasa selamanya, aku akhirnya berani berbalik. Seketika aku mendengus kecewa. Dia sudah pergi. Aku langsung tersenyum. Tentu saja, apa yang kuharapkan?

Aku kemudian menyusuri beranda menuju tangga. Tiap suara benturan sepatu ketsku pada ubin membuat rasa tak nyamanku menjadi. Apakah aku serindu itu ingin berinteraksi dengannya lagi setelah pertemuan pertama kami di jembatan dulu? Aku tidak tahu. Tapi, kurasa seperti ini pun tak masalah. Refleks, aku tersenyum.

Belum sampai aku mencapai tangga, kulihat seseorang berdiri agak jauh di depanku. Aku berhenti seketika. Aku hanya bisa mematung saat melihat lelaki berhoodie hitam yang sedang menenteng laptop itu tersenyum lega.

Aku masih diam. Mulutku sedikit terbuka, tapi tak satu suara pun sanggup keluar. Aku tercekat.

Share:

5 komentar:

  1. wah bersambung nih..nice story penasaran ending nya.

    BalasHapus
  2. ini harusnya bisa sampe lebih dari 5 bagian :D

    BalasHapus
  3. @meutia: ditunggu saja deh XD *Eh?
    @Nur: Lebih dari 5 bagian?
    Let's see XD <-- sebenernya gak mau bikin panjang-panjang ... paling cuma dua atau tiga bagian totalnya XD *mintadirajam*

    BalasHapus
  4. Sekalian bikin novel ya, kalo itu mah :p hheheheee :)

    BalasHapus
  5. @Nur Muchamad
    Novel? eh, mungkin suatu saat ... tapi, agak susah ini dibikin cerita panjang :D

    BalasHapus