6 September 2011

Silence - 5 - Promise

“Oh, Dear, it’s okay. It’ll be okay. I promise you.”

Sambil mengatakan itu, wanita ini tersenyum sayu. Pandangannya hangat dan begitu lembut, seolah menyihirku. Parasnya yang teduh, bibir yang selalu melengkungkan senyum lembut, dan kata-katanya itu…. Rambut cokelatnya dimainkan angin dengan anggun. Di sini, dengan air asin terhampar bermil-mil di hadapan kami, ia merangkulku erat sekali. Perlahan, ia menyeka air mataku. Tatapan lemah itu malah membuatku ingin makin menangis.

“We’ll be together forever. You promised.”

“I did.”

Apakah ia menganggapku tak tahu apa-apa hanya karena aku masih kecil? Aku tahu ia bohong. Nada suaranya, tatapannya, dan caranya bicara mengindikasikan semua itu. Sampai kapan ia akan terus menganggapku gampang dibodohi? “Liar.”

“I’m not lying. We’ll be together here forever.”

Jemari yang terarah tepat di dadaku itu membuatku mulai mengerti. Air mataku menderas. Aku tahu apa maksudnya. Bagaimanapun, ia akan selalu di hatiku. Sampai kapan pun. Tapi, meskipun begitu, aku tak ingin ia pergi ke mana pun. Tidak ke tempat yang tak bisa kuraih. Tidak ke tempat yang tak bisa kutuju.

“Take care of your sister for me. Will you?”

Aku diam. Aku hanya makin terisak. Ia bahkan tak perlu memintaku melakukan itu. Ia tak perlu bertanya, dan aku tak perlu menjawabnya. Ia sudah tahu jawabanku. Mana mungkin aku tak menjaga Akari. Mana mungkin. Ia tahu itu. Kata-kata ini pasti hanya formalitas. Ucapan terakhirnya untuk memastikan kami akan baik-baik saja. Ucapan perpisahan darinya.

“And please, Hikaru. Don’t be mad at him anymore. I beg you.”

***

Begitu terbangun, yang kutemui hanyalah langit-langit kamarku. Tak ada lagi laut terhampar di hadapanku. Tak ada lagi bau harum wanita itu yang tercium olehku. Bahkan tak ada lagi paras teduh itu. Yang tersisa hanyalah air mata yang saat ini mengalir deras di wajahku. Aku langsung bangkit. Kusingkirkan selimut dan bersandar di dinding kamar.

Apa yang terjadi? Setelah hampir 3 tahun hidup tenang di sini, kenapa mimpi itu mendatangiku lagi? Kenapa di saat-saat seperti ini?

Aku tak menyeka air mataku. Kubiarkan saja seperti ini. Lagi pula, tak semua air mata itu buruk. Dengan begini, mungkin aku bisa melepaskan semuanya. Ya, semua beban di bahuku ini, aku mulai tak kuat lagi menopangnya. Akari … kalau saja dia ada di sini. Dia akan bilang bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dia akan bilang bahwa dia akan melakukan segalanya agar semua beban itu berpindah ke bahunya. Tapi aku tahu, itu hanya terjadi di benakku sendiri. Saat menyadarinya, aku akan mulai menangis lagi. Jadi, aku berusaha keras untuk tidak memikirkan apa pun tentang Akari.

Akhirnya, kuraih ponsel dan menelepon sebuah nomor. Aku tahu ini berbahaya. Mungkin bukan orang yang kuharapkan yang akan mengangkatnya.

“What is this? Apa kau sedang mengibarkan bendera putih?”

Suara dalam dan berat itu. Dugaanku rupanya benar. “Onegai, Ojiisan. Tolong biarkan aku bicara pada Arthie. I beg you.”

“Ada apa denganmu? Suaramu terdengar bergetar.”

“Daijoubu desu. I’m fine.”

Lama, tak terdengar suara apa pun. Tapi, sambungannya belum terputus. Aku mulai putus asa. Apakah Ojiisan masih akan menahan ponsel itu dari Arthie?

“Hey, What’s up?” Akhirnya, suara Arthie terdengar dari seberang sana. Aku hanya tersenyum. Ternyata Ojiisan tidak sekejam itu.

“Nee, semuanya akan baik-baik saja. Iya kan?”

“What? A nightmare? Are you crying right now? Again?”

Dia selalu tahu. Ini menyebalkan, sekaligus juga melegakan. Si bocah laut itu selalu saja bisa menebak apa yang sedang terjadi padaku.

“Apa Aunt Ema mendatangimu lagi lewat mimpi? Kali ini tentang apa?”

“Tentang Akari. Agar aku terus menjaganya. Tapi, aku—” Aku terbungkam. Udara tiba-tiba saja mencekik leherku. Kata-kata itu tertahan. Tak bisa keluar.

“Ya, ya, aku tahu. Aku tahu kau gagal. Kau tak bisa menepati janjimu pada ibumu.”

Janji … janji apa? Secara teknis, aku tak pernah menjanjikan apa pun, karena aku memang tak pernah mengatakannya. Tapi, hatikulah yang berjanji. Dan Okaasan selalu tahu itu. Menjaga Akari adalah janji seumur hidupku. Tapi, sekarang?

“Juga … tentang Otousan. Okaasan memohon padaku agar tak marah lagi padanya.”

“You are such an idiot. Just drop it, you moron.”

Ini … entah untuk keberapa kalinya ia mengataiku bodoh. Tapi, mungkin itu benar. Aku mulai bersikap tidak rasional. Aku mulai bersikap bahwa aku yang paling menderita dengan semua ini. Otousan juga pasti sama. Kenapa aku tak pernah menyadarinya selama ini? Ah, tidak. Aku sudah menyadarinya sejak awal. Aku hanya tak ingin peduli.

“Terima kasih. Dan aku minta maaf—”

“Sekali lagi kata ‘maaf’ keluar dari mulutmu, kau mati! Kaudengar itu?!”

Aku tersenyum lagi. Pelan, aku mengangguk. “Yeah, thank you.”

***

Entah bagaimana, berdiri di sini membuatku lebih tenang. Mungkin sebaiknya aku masuk, tapi aku tak punya hak untuk itu. Memandanginya lewat celah kaca di sela-sela pintu ini sudah cukup bagiku. Aku ingin bilang begitu, tapi aku tak bisa bohong pada diriku sendiri. Melihatnya tengah tertidur dengan wajah sayu itu … rasanya aku ingin datang kepadanya dan meraihnya, menyingkirkan semua hal tentang Sagawa-san yang membuatnya seperti ini. Lalu, menggantinya dengan diriku sendiri di hati dan benaknya. Apakah salah aku berpikiran seperti itu? Mungkin ini terdengar jahat, tapi aku ingin membuatnya lupa pada sosok itu. Siapa yang tahu gadis mana yang ada di hati Sagawa-san? Mungkin itu bukan Miyazaki-san. Aku berharap itu bukan Miyazaki-san.

“Apa yang kaulakukan di sini?”

Mungkin aku terlalu tenggelam dalam diriku sendiri, hingga tak terlalu terkejut melihat Miyazaki Akina sudah berdiri di sampingku sambil menyentuh lenganku lembut. Seharusnya aku panik, kan? Saat ini tak ada Seiji yang akan memberikan ribuan alasan pada gadis ini. Tapi, aku tidak panik. Aku hanya terkejut dengan cara yang sama sekali berbeda.

Ia tersenyum sayu padaku, mungkin karena adiknya. Senyuman yang mengingatkanku pada Okaasan. Itulah yang membuatku terkejut. Bagaimana dia bisa meniru cara Okaasan tersenyum sesempurna ini? Dadaku bergemuruh tak nyaman. Aku pasti sedang dihukum karena sudah meninggalkan Otousan.

Akhirnya, aku hanya menggeleng pelan. “Tidak apa-apa. Aku hanya sedang lewat daerah sini, dan entah kenapa aku ingin mampir.”

“Kau tertarik pada Hana, ya?”

Aku hanya membelalak padanya. Bagaimana mungkin gadis ini bisa seceplas-ceplos ini? Tak lama, ia hanya tertawa kecil. “Tak perlu seterkejut itu, Hayakawa-kun. Aku tahu, kok. Aku selalu tahu, Hana selalu saja bisa dengan mudah membuat orang di sekelilingnya bersimpati padanya. Bahkan sebelum kecelakaan itu. Mungkin karena itulah, Sagawa-kun tak bisa meninggalkannya sendirian.”

Entah ini hanya perasaanku atau bukan. Tapi, saat Miyazaki-san menyebut nama Sagawa-san, ekspresinya berubah. Aku sulit menjelaskannya. Tapi, aku merasa ada suatu ikatan khusus antara mereka berdua, yang tak diketahui adiknya.

“Kau mau masuk?”

“Kurasa tidak.” Aku terdiam, lantas tertawa kecil. “Aku kan tidak dikenal olehnya sama sekali. Jadi, aku—”

“Ayo cari udara segar sebentar,” katanya sambil mengulurkan tangannya padaku. Ia tersenyum lagi. Astaga, sebisa mungkin aku ingin menghindari senyum itu. Tapi, untuk apa ia mengulurkan tangannya padaku?

Tanpa sadar, tanganku bergerak sendiri. Aku merasa seperti Okaasan yang saat ini tengah mengulurkan tangan padaku. Jadi, aku meraihnya. Dunia ini benar-benar kejam. Bagaimana mungkin ada orang yang semirip ini dengan Okaasan? Maksudku, bukan dalam hal wajah, karena wajah mereka berbeda jauh.

***

“Aku sering melihatmu berdiri seperti tadi di depan pintu ruang rawat Hana.”

Aku hanya menatapnya bingung. Ke mana arah pembicaraan ini? Angin bertiup sepoi di atas sini, membuat rambut Miyazaki-san bergoyang lembut saat ia menoleh padaku.

“Maaf baru menyapamu sekarang. Aku hanya tak ingin mengganggu. Tapi, aku penasaran. Kenapa kau selalu berdiri di sana? Kenapa kau selalu memandangi Hana dengan tatapan seperti itu? Aku ingin tahu. Bolehkah aku tahu?”

Aku terdiam. Tatapan seperti itu? Tatapan seperti apa? Tak mungkin Miyazaki-san tahu apa yang ada di dalam benakku saat itu kan? Tapi, entah bagaimana aku tahu bahwa gadis ini hanya ingin memastikan dugaannya. Ia sudah tahu. Ia sudah tahu kenapa aku berdiri di sana. Ia sudah tahu kenapa aku menatap adiknya seperti itu. Ia hanya ingin memastikan.

“Aku tak perlu menjawabnya, kan?”

“Apa?”

“Karena kau sudah tahu.”

Kami terdiam. Aku menyandarkan bagian depan tubuhku pada pagar atap rumah sakit, menatap lurus ke arah deretan gedung-gedung bertingkat di hadapanku. Meski aku tak melihatnya, aku bisa merasakan tatapan Miyazaki-san. Mungkin ia menatapku kasihan? Atau bingung dan tak mengerti? Entahlah, saat ini, aku hanya ingin menikmati angin sepoi ini.

“Bolehkah aku meminta sebuah janji padamu, Hayakawa-kun?”

Aku menoleh padanya seketika. Kenapa akhir-akhir ini hidupku selalu berkaitan dengan ‘janji’?

“Maukah kau berjanji untuk menjaga adikku? Akhir-akhir ini, aku mungkin akan sangat sibuk. Dan Hana akan kesepian jika ditinggalkan sendirian. Ia benci sendirian. Aku takut meninggalkannya. Tapi, studiku akan berantakan kalau tak kulakukan ini. Kalau ada seseorang yang bisa menjaga dan mengawasinya untukku, aku akan merasa tenang. Apa kau mau?”

Kata-kata itu menghantamku telak. Itu hanya sebuah permintaan kecil, tapi entah kenapa aku merasa takut. Tiba-tiba saja kata-kata Okaasan menggema di benakku. Terdengar pilu dan menyakitkan.

“Take care of your sister for me. Will you?”

Tanpa sadar, mataku memanas. Buku-buku jariku terasa sakit saat aku mengencangkan peganganku pada pagar hanya untuk mengatasi jari-jemariku yang gemetar. Sejak kapan aku merasa setakut ini? Apa aku takut gagal lagi? Apa aku takut kalau kondisinya bisa memburuk hanya karena aku yang menjaganya? Kenapa tiba-tiba aku tak bisa mempercayai diriku sendiri? Apa aku takut kalau dia akan pergi selamanya seperti Akari, terutama dalam penjagaanku? Aku tidak tahu. Benar-benar tidak tahu.

Pelan, tapi mengejutkan, kurasakan sentuhan lembut di pipiku. Perlahan mengusap air mataku. Aku menengadah demi menemukan ekspresi cemas milik Okaasan. Ia hanya diam, tapi aku tahu arti pandangan itu: semuanya akan baik-baik saja.

Apa yang kulakukan? Bodoh sekali. Okaasan sudah meninggal. Saat ini, hanya ada Miyazaki-san di hadapanku. Ia diam saja, masih terus menyeka air mataku. Ia mungkin tak berani bertanya ada apa. Aku juga belum berniat memberitahunya apa pun. Lebih tepatnya, aku belum sanggup. Mungkin takkan pernah sanggup. Entahlah. Ia seolah mengerti kalau aku tak ingin bicara. Jadi, kami masih tetap diam selama beberapa lama.

Aku bahkan belum menjawab pertanyaannya. Tapi, seperti halnya Okaasan dulu, Miyazaki-san juga sepertinya sama. Tanpa aku mengatakan apa pun, sepertinya ia sudah tahu kalau aku akan tetap menjaga dan mengawasi adiknya. Sama seperti saat aku tak pernah lepas dari sisi Akari.

Apa ketakutan itu sudah hilang? Tidak. Aku masih sangat takut. Tapi, aku tak ingin lari lagi. Aku ingin menghadapi ketakutan itu bagaimanapun caranya. Demi seseorang yang penting bagiku. Kurasa alasan itu cukup kuat untuk membuatku terus maju. Kuharap begitu.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar