15 September 2011

[Cerpen] Karena Dia, Aku Baik-Baik Saja

Ini aneh. Sudah sejak pagi kepalaku pening. Bahkan seluruh badanku pegal-pegal. Padahal, semalam masih baik-baik saja. Ah, nafasku jadi berat. Apakah aku sakit?


Aku merangkak—ya, merangkak, tenagaku rasanya habis hanya untuk berdiri dan berjalan—menuju rak di pojok kamar kosku. Semoga masih ada mie instan atau sekadar camilan juga tidak apa-apa. Aku benar-benar lapar. Sejak semalam. Aku terlalu meremehkan kondisi perutku. Kupikir tak masalah semalam tak makan, toh pagi ini aku bisa makan. Tapi, siapa menyangka kalau aku bakal jatuh sakit?

Ah, sial! Tak ada makanan apa pun. Bahkan persediaan air galonku juga habis. Aku juga tak punya tenaga untuk cari makan di luar. Kos juga kosong, beberapa penghuninya masih belum kembali dari mudik, beberapa yang lain punya kesibukan di luar—kuliahlah, kerjalah, apalah. Aduh, perutku. Sakitnya, jangan-jangan gejala maag.



Setelah bisa meraih kasur kembali, aku tiduran. Kuambil ponselku di atas meja dan mencoba menuliskan SMS. Ah, apa aku harus minta tolong padanya ya? Aku menggeleng seketika. Kos kami jaraknya dari ujung ke ujung. Terlalu jauh untuknya ke sini. Bagaimana aku bisa minta tolong padanya. Ah, inilah susahnya jadi mahasiswi tahun pertama. Teman masih belum banyak. Kalaupun ada, aku sungkan minta tolong padanya. Belum ada yang terlalu dekat. Aku jadi rindu rumah.

Tak lama, ponselku berdering. Entah kenapa, deringnya membuat kepalaku makin pening. Duh, aku harus mengubahnya jadi mode silent.

Ah, SMS. Darinya—maksudku, dia yang tadi kubilang kos kami jaraknya dari ujung ke ujung.  
  
           + Dah sarapan? 

Hah? Cuma itu? Ini anak benar-benar aneh. Akhir-akhir ini dia suka sekali SMS pendek-pendek begini hanya untuk menanyakanku hal-hal sepele. SMS-nya bahkan lebih intens daripada ibuku sendiri.

            = Belum. Gak punya tenaga buat cari makan. 

            + Kenapa? Kamu sakit? 

            = Aku gak apa-apa. 

Lama menunggu, dia belum membalasku juga. Ah, benar juga. Mungkin lebih baik seperti ini, aku tidak mau merepotkan orang lain.

“RINA!”

Seruan itu membuat perutku makin sakit. Rasa lapar jadi makin melilit. Suara itu … aku hafal betul suara cempreng itu. Aku pun merangkak dengan enggan. Sampai di beranda, aku melirik ke bawah. Ah, aku lupa bilang. Kamar kosku di lantai dua.

“Apa?” kataku sambil menatap lemah lelaki jangkung berkacamata tebal bernama Doni itu.

“Hah? Kamu ngomong sesuatu?”

Ah, kumohon jangan tanya lagi. Aku terlalu lemas untuk mengatakan apa pun.

“Ada apa?” kataku lebih keras. Sial, kepalaku pening lagi. Refleks, kupejamkan mata untuk menahan rasa sakit sambil memegangi ubun-ubunku. Saat perlahan kubuka mata, Dani sudah menghilang. Ah, anak itu selalu saja begitu. Datang-pergi macam angin.

Perlahan, sesuatu yang hangat menerpa dahiku, lama. Aku menoleh seketika. Lelaki jangkung itu sudah berjongkok di depanku sambil memegangi dahiku. Aku hanya membelalak padanya.

“Kamu sakit, Rin?”

Aku langsung membenahi posisi dudukku, lantas menggeleng.

“Udah makan?”

Aku mengangguk, berbohong. Sudah kubilang aku tak mau membuat orang lain repot.

Tak lama, Doni merogoh isi tasnya dan mengeluarkan sebotol air mineral yang sudah habis setengahnya. Disodorkannya air mineral itu padaku.

“Nih, buat kamu. Air galonmu kayaknya habis tuh.”

Perlahan, kuambil air mineral itu darinya. Ah, biar sajalah. Aku benar-benar haus juga. Mungkin nantinya juga bisa mengatasi rasa laparku.

“Aku cabut dulu ya, Rin. Bentar lagi ada kuliah. Aku mampir ke sini cuma mau liat kamu sebelum berangkat, kok.”

Baik, apa pula maksudnya itu? Aku menengadah seketika. Doni hanya tersenyum lebar seperti biasanya. Mampir cuma untuk melihatku? Dia benar-benar aneh. Sejak pertemuan pertama kami dua bulan lalu, dia makin sering mendatangiku. Lebih sering mendiskusikan tentang novel inilah, novel itulah. Kami sudah akrab sebelumnya, karena sering ngobrol di dunia maya di sebuah grup facebook.

Aku hanya menatap punggungnya saja saat ia berlalu pergi. Ah, sebenarnya aku juga ada kuliah hari ini. Tapi, dengan kondisi begini, mana bisa aku berangkat. Kalau boleh jujur, tadi itu, bukan Doni yang kuharapkan datang ke sini. Aku merangkak lagi masuk ke dalam kamar. Setelah meminum habis air mineral dari Doni, aku menyandarkan diri di dinding kamar, beralaskan kasur. Kuraih ponsel yang tergeletak di atas kasur dan memeriksanya. Dia tidak membalas SMS-ku. Aku langsung tersenyum kecut. Bodohnya, jam-jam segini dia pasti masih kerja.

Akhirnya, aku tiduran kembali. Kutatap dinding polos di hadapanku dengan pandangan kosong, sekosong perutku saat ini. Kalau saja dia ada di sini, meski lapar, aku akan baik-baik saja. Anggap saja kalau melihatnya sudah membuatku kenyang. Ah, tidak. Tidak, itu berlebihan. Pokoknya, kalau dia di sini, aku akan merasa baik-baik saja.

***

Bau ini … bau yang begitu menggelitik hidungku ini … bau apa? Bau ini seperti membuat cacing di perutku menari-nari, makin melilit rasanya. Aku lapar lagi. Eh, bukankah dari tadi aku sudah lapar?

Aku membelalak seketika, kemudian terbangun. Sehelai kain terjatuh di pangkuanku. Dari mana datangnya kain ini? Saat aku menyentuhnya, terasa agak basah. Refleks, aku menyentuh dahiku sendiri. Basah. Aneh, aku tidak merasa pernah mengompres dahiku dengan apa pun. Belum lagi … selimut? Aku tidak merasa pernah memakai selimut, tadi. Apa yang terjadi?

Perhatianku pun segera tertuju pada sumber bau yang sedari tadi mengganggu hidung dan perutku. Sumber bau itu pun segera kutemukan di meja, tepat di samping laptop. Aku segera merayap menuju bungkusan plastik putih itu. Kubuka bungkus plastik itu dan menemukan bungkus nasi dan teh hangat di dalamnya. Ini bukan ulah Doni, kan?

Saat kuambil bungkus nasi itu, di bawahnya ada kertas yang tadinya tertindih. Aku segera mengambilnya. 

Jangan suka menyembunyikan sakitmu dari orang-orang di sekelilingmu. Pada akhirnya, semua orang bakal repot juga. Pokoknya, kalau ada apa-apa, bilang. Meskipun kos kita jaraknya dari ujung ke ujung, aku akan langsung datang. 

Hanya itu. Ya, hanya itu. Dia tak mencantumkan nama. Tapi, aku langsung tahu siapa yang sudah mengompresku dan membelikanku makanan dan minuman. Aku langsung tertawa kecil. Saat ini, meskipun aku belum memakan makanan yang dia belikan, aku merasa baik-baik saja.



Share:

2 komentar:

  1. hmm ini indah ao, kayak kisah nyata aku waktu sakit di kosan.. T_T jadi kangen dia nih ao... #curcol

    BalasHapus
  2. Ah, ini terinspirasi temen yang sakit dan ditinggal sendirian di kosan -_-a
    sabar, Yu >_<

    BalasHapus