27 Agustus 2011

Silence - 4 - Connection

“Kenapa kau?”

Aku mengangkat wajahku dari meja. Kupandangi Seiji yang berdiri di hadapanku itu dengan ekspresi kosong. Ya, kosong. Seluruh ekspresi dan diriku—bahkan rasanya seluruh jiwaku—telah tercerabut sampai ke dasarnya akibat kejadian kemarin. Miyazaki Akina dan Akina-neesan yang disebut dalam buku Miyazaki-san, mustahil hanya kemiripan nama. Tapi, kalau tidak mirip, kalau itu memang orangnya, ini sungguh kelewatan kalau disebut kebetulan. Seperti ada seseorang atau sesuatu yang berusaha bermain-main dengan hidupku. Astaga.

“Kenapa diam, sih?” Seiji menarik sebuah kursi ke dekat mejaku dan duduk dengan dagu tertopang pada sandaran kursi. “Terjadi sesuatu?”

Aku menghela panjang, lantas kutatap dia sekali lagi. “Cubit aku.”

“Hah?”

“Aku ingin memastikan kalau aku tidak sedang bermimpi.”

Bukannya mencubitku, ia malah berdiri. Direbutnya sebuah buku tebal yang sedang dibaca seorang teman sekelasku tanpa memedulikan teriakan protes dari si pemilik buku. Ia menghadapku lagi, lantas menggunakan buku itu untuk menghajar kepalaku. Telak.

Masih kesakitan, aku ikut-ikutan berdiri. “Sakit! Untuk apa pukulan itu?! Aku kan bilang ‘cubit’ saja?!”

Seiji melemparkan buku itu kembali ke pemiliknya, sekali lagi tanpa peduli omelan yang diterimanya. Ia menatapku tajam. Seolah menyelidik. “Kau memang sudah sakit.”

“Apa aku kelihatan seperti orang yang sedang sakit?”

“Otakmu yang sakit. Kau ini benar-benar. Apa kejadiannya separah itu sampai kau jadi linglung begini, hah?”

Ya, memang separah itu. Semua yang terjadi akhir-akhir ini benar-benar keterlaluan kalau disebut kebetulan. Akhirnya, aku mengisyaratkannya untuk mengikutiku ke atap, tempat favorit kami kalau sedang ingin berdiskusi—lebih sering merencanakan sesuatu—secara empat mata. Sesampainya di sana, aku menceritakan semuanya. Tanpa terkecuali. Yah, di antara kami berdua memang tak pernah ada rahasia. Ia mempercayaiku dengan menceritakan segalanya padaku. Tentu aku harus membalasnya dengan kepercayaan yang sama besar, kan?

Begitu aku selesai bercerita, reaksi pertamanya adalah bengong. Ia menatapku dengan mata membulat dan mulut menganga. Oke, aku tidak suka ekspresi itu. Seolah-olah penjelasanku kurang jelas dan ia sedang berusaha keras untuk mencernanya. Apa harus kuceritakan dengan bahasa planet?

“Hikaru,” katanya setelah beberapa lama. “Apa kau selalu separah ini kalau berhadapan dengan perempuan?”

Aku hanya diam. Pertanyaannya sederhana, tapi lebih dari cukup untuk menohokku telak. Aku ingin sekali bilang tidak, tapi begitulah kenyataannya.

“Kalau begitu, datangi rumah sakit itu sekali lagi. Mungkin kau akan tahu apa gadis yang kautemui di taman itu benar-benar kakak Miyazaki-san atau bukan.”

“Kalau aku tak bertemu kakak Miyazaki-san?”

“Itu artinya, kalau keduanya memang punya hubungan, kau selamat.”

“Kalau keduanya memang punya hubungan dan kami bertemu lagi saat aku mengunjungi rumah sakit?”

“Itu deritamu.”

Apa?! Seenaknya saja bicara. Rasanya saat itu, aku ingin sekali menonjoknya. Tapi, Seiji kan sakit-sakitan orangnya. Meski kelihatan kelebihan energi begitu, sebenarnya dia sakit. Ah, hal itu membuatku hanya bisa mendengus dan menggerutu kalau ia mulai bersikap seperti ini.

Aku meliriknya sebentar. Setelah beberapa lama berpikir, aku memandangnya penuh-penuh. “Akhir minggu ini kau ada acara?”

“Tidak.”

“Bisa temani aku?”

Ia terdiam lama. Lantas, tanpa pemberitahuan, ia mengacak-acak rambutku. “Dasar pengecut.”

***

Dapatkah kautemu dalam puncak nuansa?
Keremangan fajar ini menantiku di antara bias-bias masa
Mungkin dalam kefanaan yang menghilang
Hidup kan terbenam demi baka yang menjelang

Aku bisa terima, karena baka itu nyaris menjemputku. Takkan lama lagi.

Dengan serangkaian kata tanpa tanggal itu, aku mendekam di bangku paling belakang sebuah bus menuju rumah sakit bersama Seiji. Rasanya, berat sekali ingin mengembalikan buku itu. Apa aku saja yang terlalu paranoid karena merasa bahwa jika buku itu kukembalikan, benang merah yang menghubungkanku dengannya akan terputus? Aku tidak tahu.

Kurasakan bus mulai melambat. Aku mengenali deretan pohon-pohon mahoni di pinggir sungai itu, pertanda bus akan segera sampai di pemberhentian. Pohon-pohon itu bergerak semakin lambat, deretannya juga jadi semakin jarang. Tidak sampai semenit, bus berhenti di dekat jembatan kuno yang menggantung di atas sungai itu. Kami turun.

Dari seberang jalan, palang merah besar sebuah rumah sakit sudah terlihat. Kami melewati bagian belakang rumah sakit yang dipenuhi pohon-pohon rindang alih-alih mengambil jalan dari gerbang depan. Suasananya menyenangkan karena masih terlihat asri. Jalan setapak yang sudah disemen itu, memudahkan siapa saja termasuk pasien berkursi roda, yang ingin berjalan-jalan. Saat kami memasuki kawasan pekarangan belakang rumah sakit yang dibentuk seperti taman, terlihat beberapa pasien berpakaian kertas duduk-duduk di bangku taman. Tentu saja dengan ditemani perawat.

Saat kupalingkan pandangan ke taman sebelah barat, nafasku tercekat tiba-tiba. Hanya berjarak sepuluh kaki dariku, seorang gadis bermata sayu duduk di bangku taman sambil menggenggam dengan lembut dandelion yang telah layu. Dandelion yang kutahu telah kuletakkan di mejanya beberapa hari lalu. Dia masih menyimpannya?

Apa yang harus kulakukan? Dia hanya sepuluh kaki di hadapanku, dan aku hanya bisa mematung di sini, tak sanggup bergerak. Cepat, kurasakan lesakan keras di perutku. Aku menoleh demi mendapati Seiji melirikku aneh. “Gadis itu Miyazaki-san?”

Aku mengangguk pelan. Tak lama, ia menepuk punggungku, mendorongku maju. Tapi, aku terpaku.

Hayakawa-kun?” Sebuah suara terdengar tak jauh dariku. Aku terlonjak tiba-tiba. Suara itu … bulu romaku langsung berdiri tegak.

Saat aku menoleh, sesosok paras yang cantik membentuk di hadapanku. Seorang gadis yang begitu mirip dengan Miyazaki-san. Gadis yang sama yang kutemui di taman beberapa hari lalu. Matanya yang hitam bulat menatapku menyelidik.

Ada apa? Kenapa kau terus memandangi adikku?

Adik?! Kenyataan itu menghantamku telak. Jadi, gadis ini memang seseorang yang dipanggil Akina-neesan oleh Miyazaki-san? Mereka memang mirip, tapi tak semirip saudara kembar. Jadi, ia pasti setahun atau dua tahun lebih tua dari adiknya.

Be—begini, aku—Aku tergagap. Masih syok dengan apa pun yang baru saja kutemui. Kalau kukatakan yang sebenarnya, apa ia akan marah? “Ha—hanya penasaran. Adikmu terus saja menggenggam dandelion yang sudah layu. Makanya....

“Oh, itu,” katanya. “Dandelion itu muncul tiba-tiba di kamar rawat Hana. Aku tidak tahu siapa yang menaruhnya, tapi sejak itu Hana tak pernah melepas dandelion itu dari genggamannya. Bunga itu sangat berarti baginya. Mengingatkannya pada seseorang yang dicintainya.” Ia berhenti sejenak, lalu tertawa kecil tak lama kemudian. Ditelengkannya kepalanya padaku. “Aneh ya? Saat kita pertama bertemu, kau juga menanyakan tentang dandelion. Bukan kau yang menaruh dandelion itu di kamar rawat adikku kan?”

“Mana mungkin aku yang menaruhnya,” kataku berbohong. Ya, jelas saja. Aku habis kalau sampai mengatakan kebenaran padanya.

“Ada perlu apa ke rumah sakit?”

“Aku—” Sekali lagi, pertanyaan sederhana yang membuat lidahku kelu.

“Ah, itu karena aku.” Aku segera menoleh pada Seiji. Aku menatapnya bingung. Seolah mengerti kebingunganku, ia hanya tersenyum. “Kebetulan aku harus melakukan tes kesehatan. Kupikir fasilitas rumah sakit ini sangat bagus, makanya aku menyeret Hikaru kemari. Oh ya, aku Sumura Seiji. Douzo yoroshiku.”

Keduanya pun saling membungkuk. Sedangkan aku hanya terus menatap Seiji tanpa berkedip. Ah, dewa penolongku. “Terima kasih,” bisikku kemudian.

“Berterima kasihlah dengan menraktirku okonomiyaki di tempatmu kerja sepulang dari sini.”

Ah, bukan masalah besar. Hanya potong gaji sedikit untuk minggu ini.

***

Semilir angin menyapaku pelan, hangat sekali. Entah kenapa aku selalu suka angin musim gugur. Apalagi bersandar di pagar pembatas taman seperti ini. Aku seperti sedang menantang lautan luas di hadapanku. Belum lagi, suara musik akustik yang bergelayutan di telingaku saat ini, rasanya menenangkan.

Aku berbalik, menatap Miyazaki-san yang sedang memetik gitar di satu-satunya bangku tempat itu. Sesekali ia berhenti, lalu menuliskan not balok hasil petikannya di sebuah buku. Tak lama kemudian, ia sudah menyelesaikan seluruh lagu. Aku pun menghampirinya.

“Coba mainkan secara penuh.”

Miyazaki-san hanya tersenyum mendengar permintaanku. Tanpa mengatakan apa-apa, ia mengulang petikan gitarnya dari awal. Lagu yang bagus.

“Kau tak berniat menyanyikannya?” kataku setelah ia selesai bermain.

Ia hanya menggeleng. “Aku hanya lebih suka menangani musiknya. Bukan berarti aku tak suka membuat lirik lagu, lho.”

Aku mengangguk. Aku bisa mengerti perasaannya. Ini seperti aku yang lebih suka menggambar dengan pensil daripada melukis dengan kuas. Bukan aku tak suka melukis dengan kuas. Aku menyukainya, tapi rasa sukaku pada sketsa pensil lebih besar. Itu saja.

“Mungkin aku harus minta bantuan Hana. Dia pandai sekali bermain-main dengan kata.”

Nama Hana membuat rahangku mengeras seketika. Di saat aku ingin menghindari topik ini, kenapa Miyazaki-san malah mengungkitnya? Aku tidak bisa mundur lagi sekarang. Ia baru saja memicu rasa penasaranku lebih daripada sebelumnya. “Tentang adikmu … tentang seseorang yang berarti untuknya yang berkaitan dengan dandelion itu. Maksudmu siapa?”

“Kenapa kau ingin tahu?”

“A—aku—” Lama, mata kami saling mengunci secara aneh. Bagaimana mungkin aku bisa mengatakan padanya tentang hari-hari yang kuhabiskan untuk men-stalker adiknya? Bisa-bisa aku dibenci nanti.

Miyazaki-san menghela sebentar, lalu tersenyum tipis. Siapa pun yang memperhatikannya dengan seksama pasti akan paham bahwa itu adalah seringai kesedihan. “Namanya Sagawa Ryuuichi. Mereka tidak pacaran, setidaknya belum sempat. Sesuatu yang buruk terjadi sebelum Hana sempat menyatakan perasaannya.”

Ia terdiam sejenak. Bibirnya bergetar, matanya mulai berkaca-kaca. Ia melanjutkan lagi, suaranya terdengar sangat tegar. Aku langsung mengagumi kemampuan pengendalian diri gadis di sebelahku ini. “Mereka sedang berkendara menuju rumah sakit untuk memeriksa kesehatan Hana. Ah, adikku itu jantungnya memang lemah. Saat itu badai sedang melanda Tokyo. Hujan lebat, jalanan licin, belum lagi angin yang bisa mencerabut pohon sampai ke akarnya. Benar-benar naas, saat badai itu terjadi, sebuah papan reklame besar ambruk menimpa mobil Sagawa-kun. Hanya Hana yang selamat.”

Ia terdiam lagi. Kali ini lama. Terlalu lama. Aku melirik padanya. Matanya sudah merah, tapi ia tampak sedang memaksa diri untuk tidak menangis. Mata itu pun masih tetap tajam. Apa yang harus kulakukan? Gadis ini benar-benar mirip Okaasan. Kelihatannya saja kuat, tapi sebenarnya di dalamnya dia sangat rapuh. Tapi, entahlah. Mungkin itu hanya perasaanku.

Akhirnya, aku mengulurkan tanganku. Kuraih punggungnya dan menepuknya pelan. Hal yang biasa Okaasan lakukan tiap kali menenangkanku yang tengah sedih atau takut. Dan tampaknya tak sia-sia, karena aku mulai bisa melihat seuntai senyum darinya. Meski tipis saja.

Tiba-tiba ponselku berdering, mengejutkan kami berdua. Aku minta maaf padanya dan menyingkir sebentar. Saat kuperiksa, ada telepon dari Arthie. Lagi? Apa terjadi sesuatu? Jangan-jangan dia bikin masalah lagi dengan Ojiisan. Tanpa menunggu lagi, aku segera mengangkatnya.

“Apa?”

“Oh, Boy. Kaupikir aku takkan tahu apa yang terjadi selama ini? Kau benar-benar dalam masalah besar sekarang.”

Suara yang berat dan dalam itu … Ojiisan. Aku membeku di tempat. Suara panggilan Miyazaki-san tak kupedulikan. Kini, hanya suara dari negeri di ujung Eropa itu yang menggema di telingaku. Meskipun nada suaranya datar dan terdengar biasa, aku tahu ia marah. Aura mengancam itu bahkan sampai membuatku sesak. Aku pun segera tahu … takkan lama lagi, badai besar akan menyongsong aku dan Otousan.


Klik di sini untuk baca kelanjutannya :)
Share:

0 komentar:

Posting Komentar