25 Agustus 2011

Silence - 3 - Dandelion

Kulangkahkan kaki dengan gontai, hampir bengkak rasanya. Sudah sejak pagi aku terus berjalan. Satu tempat lagi. Kukuatkan diriku dan melangkah kembali menuju bangunan yang kutuju. Awalnya hanya terlihat kecil, lama-lama mulai menampakkan wujudnya. Simbol palang merah yang sangat besar terpampang di bangunan depan. Aku berhenti tepat di depan gerbang dan menghela nafas dalam-dalam. Lelahnya....

Aku tak tahu lagi sudah rumah sakit keberapa yang saat ini tengah kukunjungi sejak tiga hari lalu. Ya, sejak aku tahu bahwa dia berada di rumah sakit, aku mendatangi semua rumah sakit di kota ini. Sudah beberapa rumah sakit kudatangi, tapi aku tak bisa menemukan tanda-tanda keberadaannya. Sejak itu, aku selalu berharap bahwa Miyazaki Hana yang sedang dirawat di rumah sakit, bukanlah orang yang kucari. Aku selalu berharap bahwa dia baik-baik saja di luar sana, tidak mengalami kesakitan apa pun.

Kudatangi meja resepsionis dan menanyakan apakah gadis itu dirawat di sana. Perawat yang berjaga di meja resepsionis itu mulai mencari daftar pasien. Selama menunggu, aku berdebar. Aku terus berdoa agar jangan dia yang dirawat. Jangan dia.

Aku berusaha bersikap sopan dan tersenyum. Bah, kenapa lama sekali mencarinya? Akhirnya, perawat itu selesai mencari dan mulai bicara padaku. Aku masih berusaha tersenyum.

“Maaf menunggu. Pasien bernama Miyazaki Hana....

Jangan katakan kalau dia di sini.... Jangan katakan kalau dia sakit....

“...dirawat di lantai 3 ruang 302 di sayap kanan gedung.”

Senyumku lenyap seketika. Setelah mengucapkan terima kasih, aku bergegas naik ke lantai 3. Selama berada di dalam lift, aku terus berdoa. Jangan dia.... Jangan dia....

Begitu angka di lift menunjuk angka 3, pintu terbuka dan aku keluar. Aku melangkah menuju sayap kanan gedung sambil melihat angka-angka yang tertera di depan tiap pintu kamar. Lalu, akhirnya aku tiba di depan pintu yang terpasang plang bertuliskan angka 302. Bagian tengah pintu itu terpasangi kaca, seperti umumnya pintu-pintu rumah sakit, sehingga keadaan di dalam ruangan bisa terlihat tanpa harus membuka pintu.

Aku mengintip dari balik kaca pintu sambil terus berharap agar jangan dia. Kulihat ada seseorang terbaring di tempat tidur, sendirian. Tak ada seorang pun menjaganya. Apa dia tidak kesepian?

Kuamati orang itu. Rambutnya panjang sebahu, tapi wajahnya tak terlihat karena ia berbaring menyamping membelakangiku. Dilihat dari postur tubuhnya, dia perempuan. Tentu saja, mana ada orang tua yang menamakan anak laki-laki mereka dengan nama Hana.

Ayo berbalik.... Berbaliklah agar bisa kulihat wajahmu.

Akhirnya, setelah selang beberapa lama, gadis itu berbalik untuk mengambil sesuatu. Pada saat itulah, dadaku seperti dihantam sesuatu dengan sangat keras. Sesak, rasanya. Rasanya tidak percaya mengetahui bahwa gadis yang dulu hujan-hujanan di halaman tengah gedung itu, sekarang tengah terbaring lemah di hadapanku. Dia sakit apa?

Aku ingin masuk. Aku ingin menemaninya yang tampak kesepian itu. Apa ini? Apa aku mencoba untuk mengasihaninya? Bukan. Bukan itu.

Lagi. Seperti waktu itu. Kakiku tidak mau berkompromi dan tetap terpaku seperti ini. Lemah!

Aku duduk di bangku depan ruangan itu. Menyesali diriku yang lemah dan pengecut ini. Kubuka ranselku dan mengeluarkan buku kecil itu dari dalamnya. Seharusnya sekarang sudah bisa kukembalikan. Aku tinggal masuk ke ruangan itu dan mengembalikan buku ini. Tapi, entah kenapa rasanya berat sekali.

Kubuka lagi buku itu dan membacanya....

14 Maret 2009. Bunga Dandelion, bunga yang selalu ia berikan untuk menyemangatiku. Akhirnya jadi kesukaanku. Waktu dua tahun terasa terkurung di dalam bunga itu. Mungkin, aku tak perlu menunggu lebih lama lagi. Aku akan menyusulnya, takkan lama lagi. Aku tahu vonis dari dokter telah menghancurkan hati Oneesan. Tapi, entah kenapa aku tidak merasa takut. Aku hanya terkejut dengan cara yang sama sekali berbeda. Keterkejutan yang melegakan. Dua tahun, sesingkat itu hidupku yang sesungguhnya terbungkus. Seperti juga kemunculannya tiga tahun lalu dalam kehidupanku. Dua tahun yang membuatku merasa hidup, hingga dia diambil dariku. Apakah jika waktuku tiba nanti, ia akan datang menjemputku? Satu-satunya alasanku untuk tetap bertahan hanyalah Akina-neesan. Aku takut meninggalkannya.

Vonis? Apa maksudnya? Apakah dia divonis oleh dokter akan.... Ah, tidak. Aku tidak boleh memikirkan hal semacam itu. Siapa tahu itu bukan apa-apa. Tapi....

Hari berikutnya, aku datang lagi. Seperti biasa, aku hanya mengintip dari balik kaca pintu ruangan sambil melihatnya yang tengah tertidur. Aku berpikir sejenak. Tidak apa-apakah jika aku masuk saat ia tengah tertidur begitu? Mungkin tidak apa-apa. Setidaknya, ia tidak akan melihatku.

Perlahan, kubuka pintu ruangan itu dan menutupnya hati-hati. Aku bisa melihatnya lebih jelas, kali ini. Di antara dua matanya yang terpejam, hidungnya yang mancung tegak di tempatnya. Di bawahnya, terlukis sesimpul senyum dari bibirnya yang tipis dan mungil. Semua itu terbingkai oleh wajah ovalnya, dengan perpaduan yang pas. Wajahnya terlihat sangat pucat, tapi damai. Dadaku terasa hangat seketika. Refleks, aku tersenyum.

Kuraih ranselku dan merogoh isinya. Kukeluarkan secarik kertas dan menulisinya.

Jangan mendahului nasib, Miyazaki-san. Mungkin kau sulit menghargai hidupmu sendiri, tapi kau perlu tahu bahwa dirimu amatlah berarti bagi orang-orang di sekelilingmu.
Jangan menyerah, ya?

Hanya itu. Semoga apa yang ingin kusampaikan menyentuh hatinya yang telah menyerah untuk terus hidup itu. Kuletakkan kertas itu di atas meja di samping tempat tidur. Kuraih kembali ranselku. Sebelumnya, aku telah mampir ke taman untuk memetik setangkai dandelionsebenarnya ada larangan memetik bunga di taman, tapi untung saja tidak ada yang lihat. Kuambil bunga dandelion itu dan menaruhnya secara hati-hati di atas kertas yang baru kutulisi.

Aku hanya bisa berharap bahwa ia bisa mensyukuri hidupnya sekarang, dengan mengingat waktu-waktu yang berlalu bersama dandelion kesukaannya itu.

***

Aku tidak tahu kenapa tempat ini begitu menenangkan. Sebuah taman kecil di dekat laut dengan sebuah bangku panjang teronggok di dekat tepiannya yang berpagar. Aku duduk di bangku itu. Taman yang dipenuhi bunga dandelion itu membuat dadaku terasa agak sesak. Aku sendiri tidak tahu kenapa. Mungkin karena kenangan Miyazaki-san? Entahlah.

“Maaf, bolehkah aku duduk di situ?”

Suara merdu itu membuatku berpaling seketika. Seorang gadis—yang entah bagaimana, aku merasa kalau dia mirip sekali dengan Miyazaki-san—berdiri di hadapanku. Rambutnya sebahu, dengan poni yang tertata rapi. Matanya tengah menyorot tajam padaku, padahal ia sedang tersenyum. Ah, mungkin matanya memang seperti itu. Ia juga bawa sebuah tas besar, entah apa isinya. Aku pun mengangguk karena memang tak ada bangku lain lagi di tempat itu.

Setelah gadis itu duduk, ia mengeluarkan isi tasnya. Aku langsung membeliak. Sebuah buku musik? Masih kosong, pula. Apakah ia ingin mengarang lagu?

“Kau komposer?”

Ia menoleh padaku, lalu menggeleng pelan. “Bukan. Ini untuk tugas kuliah.”

“Kau mahasiswi Seni Musik?”

Ia hanya mengangguk. “Tempat ini bagus untuk mengumpulkan inspirasi.”

Tempat yang bagus untuk mengumpulkan inspirasi? Tapi, kulihat ia tidak hanya sedang mengumpulkan inspirasi. Ia membuka buku musiknya, bukankah itu artinya ia hendak sekalian mengarang lagu? Tapi, aku tak lihat ada alat musik bersamanya. “Tanpa mendengarkan musik, kau bisa langsung menuangkannya dalam not-not balok?”

Ia tak menjawabku, hanya tersenyum. Aku anggap itu ‘ya’.

“Kau sendiri sedang apa di sini?”

Aku tercenung. Benar. Sedang apa aku di sini? Apakah karena dandelion? “Sedang berpikir tentang dandelion.”

“Dandelion?”

“Kau tahu apa makna bunga itu?”

“Aku pernah mendengarnya dari seseorang. Dandelion itu lambang harapan dan sifat pantang menyerah. Lihat saja, bunga itu selalu diburaikan angin, kan? Tapi, bunga-bunga kecilnya selalu bisa tumbuh lagi ke mana pun angin meniupkannya.”

Pada saat itu, angin meniup bunga-bunga kecil dandelion ke arah kami. Dadaku langsung terasa hangat. Tak lagi sesak. Mungkin, senyuman gadis itu yang sudah menyibak kesesakan di dadaku. Senyum itu … senyum yang sama seperti senyum seorang wanita yang kukenal begitu hangat. Mungkin ia sedang melihatku dari atas sana, tersenyum. Tanpa kukehendaki, kerinduan itu menyeruak begitu saja dalam diriku. Ini pertama kalinya sejak beberapa minggu ini aku bisa merindukan wanita hangat itu lagi. Ibu, maafkan aku.

“Siapa namamu?”

“Apa?”

“Namamu.”

Ah, bodohnya. Tentu saja, namaku. “Hayakawa Hikaru.”

“Hayakawa-kun, kau sering ke sini?”

Aku menggeleng cepat. “Ini pertama kalinya, tapi mungkin aku akan sering ke sini nantinya.”

“Kalau begitu kita akan sering bertemu. Aku Miyazaki Akina." Ia mengangguk pelan sambil membungkuk sedikit sebagai tanda salam. "Douzo Yoroshiku.”


Klik di sini untuk baca kelanjutannya :)
Share:

3 komentar: