24 Agustus 2011

Silence - 2 - Memory

Malam itu sungguh pekat, bulan tak tampak. Bahkan bintang gemintang yang biasanya ramai bertebaran, seolah kehilangan cahayanya. Awan hitam bergulung-gulung. Satu-satunya penerangan yang tampak hanyalah kilasan cahaya yang beberapa kali muncul, diikuti bunyi gemuruh yang menakutkan.

Ketika itu, aku selalu berharap bahwa sebaiknya hujan turun. Suasana seperti itu terasa mencekam tanpa diiringi suara hujan. Betapa menyenangkannya orang-orang yang terlindung di dalam rumah masing-masing, dengan diterangi cahaya lampu.

Dengan hanya bermodal jaket yang tak begitu tebal, aku mengarungi jalanan menuju rumah seorang teman demi tugas sekolah. Berusaha menembus udara tipis yang makin mendingin ini. Nafasku makin sesak karena jalanan yang menanjak.

Sebentar lagi sampai. Aku hanya berusaha menyemangati diri sendiri. Refleks, tanganku menyentuh saku dalam jaketku. Tiba-tiba saja kakiku enggan melangkah lagi.

Kurogoh saku jaketku dan mengambil sesuatu yang sedari tadi menggangguku. Buku kecil lusuh itu masih belum bisa kukembalikan kepada pemiliknya. Bukan karena tidak mau, tapi karena tidak bisa. Satu-satunya cara yang kutahu untuk mengembalikannya hanyalah pergi ke tempat itu lagi. Tapi, walaupun selama seminggu ini aku terus mendatangi tempat itu, aku tak pernah lagi melihatnya.

Buku itu ada padaku, tapi tak pernah sedetik pun aku punya niat untuk membaca isinya. Itu privasi orang lain, aku hanya coba menghargai privasi itu. Walaupun, makin lama makin aku ingin membacanya. Kugenggam erat buku itu, sambil terus berjalan. Entahlah, aku hanya merasa tidak boleh menghilangkannya.

Akhirnya, aku tiba di rumah yang kutuju. Begitu aku selesai mengetuk, pintu terbuka. Seorang anak laki-laki 17 tahun membukanya. Sosok Sumura Seiji masih sekurus biasanya. Dengan piyama yang kedodoran begitu, ia bahkan tampak lebih kurus.

“Ah, jadi datang, ternyata,” katanya. “Tunggu sebentar, Hikaru. Kuambil dulu catatanku.”

Selang beberapa lama, Seiji kembali dengan membawa sebuah buku. Diberikannya buku itu padaku sambil mengingatkan agar lusa tidak lupa dibawa. Setelah mengucap terima kasih, aku pamit padanya. Kutelusuri lagi jalanan yang tadi kulewati. Gelap, sepi, dan kosong. Dingin pula.

Begitu sampai di asrama, kulemparkan buku catatan Seiji ke atas meja belajar. Kukunci pintu kamar, lalu meringkuk di atas dipan dengan berbalutkan selimut tebal. Hangat dan nyaman. Lalu, terdengar suara rintik-rintik dari luar. Gerimis, akhirnya. Membuatku teringat kembali pemandangan di halaman tengah gedung itu di suatu pagi yang nyalang. Kurogoh kembali saku dalam jaketku dan mengeluarkan buku itu. Nama itu masih tertera di sana, di halaman pertama. Sampai saat ini, nyaliku selalu lenyap begitu muncul keinginan untuk membuka halaman berikutnya. Tapi, kali ini aku ingin membukanya.

Hanya setitik keberanian yang kubutuhkan untuk membuka halaman kedua. Selama ini, titik kecil yang kubutuhkan itu tak pernah muncul. Toh, pada akhirnya aku punya nyali untuk membukanya.

Halaman kedua. Berisi tanggal dan berbaris-baris tulisan. Sepertinya, ini adalah buku harian.

31 Desember 2008. Dalam beberapa jam, tahun ini akan habis. Apakah semuanya akan berakhir seperti ini? Semarak tahun baru menggema ke seluruh negeri. Semua orang merayakannya, semua orang menyiapkan beribu kembang api untuk dilesakkan ke angkasa. Sungguh pemborosan yang tak perlu. Di bawah, kudengar seruan Akina-neesan agar aku ikut keluar merayakan tahun baru. Untuk apa? Aku sudah nyaman dengan dunia sunyiku, karena memang takkan ada yang bisa masuk ataupun memaksaku keluar dari duniaku. Walaupun tahun akan berganti baru, toh aku akan tetap sama. Untuk sekarang, ataupun selamanya.

9 Januari 2009. Salju deras bertaburan dari langit, seperti juga hari itu, tepat setahun yang lalu. Di sini, di bawah gundukan tanah yang berlumuran salju tebal ini, segala milikku berada. Segalanya, kini takkan bisa kuraih lagi. Akina-neesan yang seharian ini menemaniku ke tempat ini, hanya tertunduk khidmat sambil terpejam. Apa yang sedang didoakannya? Aku, seperti biasa, hanya bisa diam.

Kubuka lembar demi lembar. Semua hal yang ditulis dalam buku itu hanya membuatku merasa miris. Mungkin, gadis itu menjalani hari-hari yang berat. Lalu, aku tiba di sebuah lembaran yang tampak lebih tebal dari yang lain. Saat kuamati lebih teliti, ternyata itu adalah dua lembar yang direkatkan jadi satu. Kucoba membukanya dengan hati-hati. Begitu terbuka, beberapa bagiannya terlumuri noda gelap. Hanya tanggalnya dan baris-baris terakhir yang bisa terbaca.

14 Februari 2009.
...ngkin karena itulah banyak orang menggunakan istilah Bloody Valentine ya? Aku benci hari ini. Tebaran salju di luar hanya mengaburkan pandangan saja. Bahkan dari dalam kamar ini, aku bisa mendengar suara tawa para kekasih yang tengah melintasi jalan depan. Bukan salah mereka, tapi itu membuatku semakin membenci hari ini.

...lu kuraih ponsel. Kubuka memo suara yang takkan pernah bisa kuhapuskan itu. Tapi, suaranya hanya membuat kelenjar air mataku semakin meleleh. Sudah sejak pagi, Akina-neesan menceritakan lelucon yang dulu selalu membuat kami tertawa terbahak-bahak. Tapi sekarang, tampaknya oneesan pun mulai menyerah. Karena aku sudah lupa bagaimana caranya tertawa. Yang bisa kulakukan sekarang, hanyalah menangis dalam diam.

Masih ada beberapa lembar lagi yang berisi tulisan. Tapi, kuputuskan untuk membacanya lain kali. Kuhampiri rak dan menyimpan buku itu baik-baik di sana. Dari lacinya, kuambil notebook milikku. Begitu kunyalakan, aku mulai menjelajah internet. Kubuka situs-situs pencari dan mengetikkan nama Miyazaki Hana. Bahkan kucari di semua jejaring sosial yang kutahu. Hasil yang didapat banyak sekali. Tapi, sebagian besar tidak relevan sama sekali. Ada beberapa yang cocok, tapi begitu kugali lebih dalam, ternyata bukan yang sedang kucari. Di jejaring sosial pun, ada beberapa yang cocok. Aku meng-add semuanya. Berharap salah satunya adalah yang sedang kucari.

Tak lama, ponselku bergetar. Dari ritme lampu LED yang berkedip-kedip, itu pasti telepon. Siapa yang meneleponku malam-malam begini? Kuambil ponselku dan memeriksanya. Seketika, aku mengangkat sebelah alisku. Arthie?

“Hello, Arthie. What’s wrong?”

“Aaaaah, Hikaru! Thanks, God. Finally, you pick up the phone.”

Finally? Apakah dari tadi ia meneleponku?

“Ada apa? Suaramu kedengaran panik.”

“Since when you talking to me with that Japanese….”

“With that Japanese what?”

“Er—nothing. Okay, okay. Daijoubu yo,” katanya cepat-cepat. Tak lama, terdengar suara helaan napas dari seberang sana. “Grandpa, Hikaru. Dia menemukanku. Dan tak lama lagi, dia akan mencium jejakmu juga.”

“Apa dia bersamamu sekarang?”

“Grandpa sedang pergi. Tapi, anak buahnya berjaga di luar. Aku tidak bisa kabur. Tinggal tunggu waktu sampai aku diseret pulang. Dalam waktu dekat, mungkin Grandpa akan terbang ke Jepang. Kau berhati-hatilah. Begitu tahu kau juga kabur sepertiku, Grandpa marah besar. Hari ini saja sudah dua kali dia ribut dengan ayahmu di telepon.”

Aku mengerti. Aku cukup mengerti situasinya sekarang. Grandpa yang disebut Arthie barusan itu adalah ayahnya mendiang ibuku yang orang Inggris. Ya, aku memang pergi dari rumah tanpa pamit pada Otousan. Ada sedikit masalah yang terjadi waktu itu antara aku dan Otousan. Itu hampir 3 tahun lalu. Kenyataan bahwa Ojiisan baru saja mengetahui kalau aku pergi, membuatku sedikit terkejut. Apakah Otousan selama ini menyembunyikan kenyataan kaburnya aku dari Ojiisan? Entah bagaimana, dadaku jadi terasa berat.

Aku akhirnya meminta Arthie tenang dan jangan bertindak bodoh. Menghadapi Ojiisan yang sedang marah seperti sedang membangunkan singa dari tidurnya. “Arthie, turuti apa mau Ojiisan untuk sementara ini. Tidak usah macam-macam.”

“Aku tahu—ah, he’s home—be careful, Hikaru.”

Arthie pun menutup teleponnya. Aku menghela panjang. Dalam waktu dekat ini, Ojiisan akan ke Jepang? Ah, masalahku tambah banyak saja. Aku hanya bisa berharap bahwa Ojiisan akan membiarkanku menyelesaikan masa SMA-ku di sini. Setelah itu, terserah kalau mau membawaku pulang.

***

Beberapa hari berselang, aku sudah melupakan masalah Ojiisan. Tak ada waktu untuk itu, biarlah nanti akan kuhadapi langsung saat Ojiisan datang. Saat ini, aku harus cari tahu tentang gadis itu. Aku tak bisa mengembalikan buku ini kalau aku tak tahu apa-apa tentangnya.

Kuperiksa lagi accountku di salah satu jejaring sosial. Ada tiga orang yang meng-approve­ permintaanku. Yang pertama, anak kelas 5 SD, jelas tidak mungkin. Yang kedua, seorang ibu rumah tangga berusia 34 tahun, tambah tidak mungkin lagi. Aku berharap-harap cemas pada yang terakhir ini. Jantungku berdebar-debar. Berusaha tidak menggantungkan harapan terlalu tinggi, aku mulai memeriksanya. Pertama dari usianya. 18 tahun, lebih tua setahun dariku. Tapi, dilihat dari perawakannya, sepertinya usianya memang sekitar itu.

Saat kuperiksa info-info lainnya, ia tidak mencantumkan apa pun. Bahkan tidak ada foto. Gadis 18 tahun mana yang membuat account dalam jejaring sosial tanpa mencantumkan apa pun? Bahkan tanggal lahir disembunyikan. Yang bisa kulakukan hanyalah mengecek statusnya saja.

Aku terlonjak seketika begitu membaca status terbarunya. Rasanya ada batu besar yang menjepit dadaku.

Aku ingin pulang. Tidak enak makan, tapi tetap tidak bisa mengeluh ya? Makanan rumah sakit memang tidak pernah enak.


Klik di sini untuk baca kelanjutannya :)
Share:

2 komentar:

  1. wkwkwk, sabar, Bu.
    Saya bakal ngepost cerita ini pelan-pelan kok *plak
    Semoga bisa tiap satu hari post satu cerita ... makasih banget sudah baca :D

    BalasHapus