23 Agustus 2011

Silence - 1 - Scenery

Ketika hujan deras mendera di halaman tengah gedung itu, orang-orang lalu lalang dalam ketergesaan mencari tempat berteduh. Tapi, seseorang masih di sana, seorang gadis yang mematung dalam diamnya, seolah pasrah menerima air mata langit yang ditumpahkan ke bumi. Waktu lama berselang, satu jam, dua jam, hujan semakin menderas. Gadis itu masih di sana, berdiri teguh selama dudukku di bangku ini. Tak lelahkah ia?

Tak kuasa kuelakkan rasa iba ini. Entahlah, mungkin bahkan gadis itu tak butuh rasa ibaku. Dan aku mulai merasa bahwa ia tak butuh orang lain. Posturnya yang mungil, sulit kujelaskan kenapa ia bisa bertahan di tengah hujan deras begitu. Kepalanya menengadah, matanya terpejam seolah tengah menyimak alunan melodi sang hujan. Melihatnya seperti itu, dadaku terasa hangat. Sejak pertama kali.

Ah, bicaraku melantur. Apa waktu sarapan tadi, aku salah makan? Daripada memikirkan orang lain, mungkin lebih baik jika aku memikirkan diriku sendiri dulu. Aku terjebak di gedung ini, menanti hujan yang entah kapan akan berhenti. Salahkulah karena tak memperhatikan ramalan cuaca di berita pagi. Salahku pulalah karena tak membawa payung di musim seperti ini.

Hawa dingin yang makin lama makin menusuk ini membuat beku suasana pagi yang tengah menjemput puncak matahari. Bangku-bangku di sekitarku beku. Halaman beku. Aku beku. Apa ini? Aku bertingkah seperti perempuan—cengeng!

Seseorang berlari menghampiriku sambil berseru dan memainkan payung yang dibawanya. Sepertinya ia membaca pesan dariku yang kukirim ke ponselnya dua jam yang lalu. Tak kusangka ia datang. Jika mengingat ia yang jarang membaca pesan apapun yang mampir ke ponselnya, tentu harapanku tipis. Tapi, ia datang. Dan aku akhirnya bisa pulang.

“Hayakawa-kun, maaf,” katanya terengah. “Aku baru baca pesanmu sepuluh menit yang lalu.”

“Aku yang harusnya minta maaf karena selalu membuat Takeno-senpai kerepotan begini.”

“Aah ... bukan masalah, ayo pulang.”

Aku tidak menjawab. Entah refleks, entah apa, aku menoleh kembali ke halaman tengah. Ke satu-satunya tempat di gedung itu yang terlapis dinding air yang tumpah dari langit, tempat gadis itu masih berdiri. Tak akan apa-apakah dia?

Aku beranjak mengikuti panggilan Takeno-senpai. Tapi, pemandangan di halaman tengah pagi tadi telah mengusikku. Ragaku telah berada di perjalanan menuju asrama, tapi benakku masih berenang menyusuri jejak waktu yang kutinggalkan. Menjelajahi jalanan sempit di pinggiran kota menuju sebuah gedung mungil di antara transisi kebudayaan kuno dan peradaban modern, menelisiki koridor-koridornya, hingga menembus halaman tengah di mana hatiku telah tertinggal.

Beberapa hari berselang, aku pergi ke tempat itu lagi. Karena sejak hari itu, sejak pertama kali aku melihatnya di tengah guyuran hujan di tempat itu, otakku tak bisa berkompromi lagi dengan nuraniku untuk tidak pergi. Walaupun hari itu tidak hujan, aku hanya bisa menggantungkan harapanku di awan yang tipis di atas sana, yang bisa lenyap kapan saja.

Kuhampiri bangku yang sama yang kududuki di hari itu, dan duduk di sana. Banyak orang berseliweran di halaman tengah. Walaupun begitu, tepat di tempat ia menjejakkan kaki kecilnya untuk menerima limpahan hujan di hari itu, kulihat ia di sana sedang menggenggam sebuah buku kecil. Masih berdiri dalam diam. Apakah ia tak pernah beranjak dari sana sejak hari itu? Konyol. Itu tidak mungkin.

Ketika hujan tak menyelimutinya lagi, aku bisa melihat lebih jelas. Dia begitu rapuh, dengan pandangan mata sayu milik seseorang yang seolah telah kehilangan alasan untuk tetap hidup. Ia begitu sunyi. Entah bagaimana, rasa iba yang kurasakan di hari itu telah berubah menjadi sesuatu yang tidak kumengerti.

Perasaan itu mendorongku mengambil sesuatu dari dalam ranselku. Sebuah buku sketsa dan pensil. Ingin rasanya kuabadikan ia tidak hanya dalam memoriku, tapi juga dalam goresan pensilku. Aku mungkin memang bukan seniman, tapi aku menggambar dengan perasaan. Itu lebih dari cukup.

Tepat setelah aku menyelesaikan gambarku, tiba-tiba ia beranjak pergi. Inilah hal terbodoh yang mungkin pernah kulakukan. Aku tetap diam dan duduk termangu sambil menatap punggungnya yang makin lama makin menjauh. Meski benakku menyuruh untuk mengejar, kakiku tak mau tunduk. Sejak kapan aku menjadi begini lemah?

Begitu ia telah menghilang, kakiku baru mau berkompromi. Aku beranjak menuju tempat ia tadi berdiri. Bahkan dari tempat itu pun, aku tetap saja kehilangan jejaknya. Aku menyerah dan berniat pulang. Baru selangkah aku beranjak, kurasakan sesuatu yang terinjak kakiku. Saat kulihat, sesuatu itu adalah buku kecil yang tadi digenggam erat gadis itu. Mungkinkah terjatuh?

Kuambil buku itu. Ada sebuah nama tertera di dalamnya.

Miyazaki Hana.

Apakah itu adalah namanya? Kugenggam buku itu erat-erat. Mungkin, kami masih akan dipertemukan kembali. Sampai saat itu tiba, aku tidak ingin berhenti berharap. Setipis apa pun kesempatan yang ada.


Klik di sini untuk baca kelanjutannya :)

Share:

2 komentar:

  1. narasinya indah ragil.. :) aku mau simpan dulu lanjutannya buat istirahat siang nanti. kalau sempat, komentari karya-karyaku juga ya di blog. salam.

    BalasHapus
  2. makasih :)
    Oke, nanti saya baca karyanya yang di blog. Salam. :D

    BalasHapus