20 Agustus 2011

[Cerpen] Proyek Eksperimen LCDP: Rahasia Putih

Dia menatapku penuh. Aku juga menatapnya dengan cara yang sama. Mesin motor yang barusan kunyalakan itu pun kumatikan lagi. Aku mendekat pelan, sambil menjaga kontak mata. Kira-kira sepuluh langkah lagi. 

Sembilan langkah…. Delapan langkah…. Aku terus mendekat. 

Saat jarak kami cuma tinggal kurang dari lima langkah, dia bangun dari duduknya, tersiaga karenaku. Aku berhenti. Kepingin rasanya cepat-cepat di dekatnya, tapi aku takut kalau dia kabur lagi. Itu selalu terjadi kalau aku terlalu dekat. Akhirnya, kuputuskan tetap di tempatku. Tidak mendekat, juga tidak menjauh. Aku berjongkok, sambil memandangnya lekat. Sepertinya dia tahu aku takkan mengganggunya. Makanya, dia kembali pada kegiatannya semula: menjilati seluruh bulu di tubuhnya yang putih bersih itu. 

Aku pertama kali melihatnya sebulan lalu di sini, halaman depan rumahku. Banyak kucing yang menjadikan halaman depan rumahku jadi semacam tempat singgah. Tapi, cuma kucing putih ini yang rutin datang tiap hari. Mungkin suasana di sini memang nyaman dijadikan tempat istirahat. Soalnya, ada begitu banyak tetumbuhan dan pepohonan yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat berteduh. Apalagi ibuku tidak jarang memberi makanan pada mereka, kucing mana yang tidak kerasan?

Aku langsung menyukai kucing putih itu. Pertama kali mendekatinya, dia kabur begitu saja. Juga beberapa hari berikutnya. Tapi, lama-lama dia terbiasa melihatku. Dia memang masih terus kabur kalau aku terlalu dekat. Tapi, paling tidak, dia takkan ke mana-mana kalau aku jaga jarak. Kurang dari lima langkah—rekorku sejauh ini. Mungkin suatu saat aku akan bisa membelainya.

Tiba-tiba, tasku bergetar. Aku tersentak. Aku menoleh cemas pada kucing putih itu, untungnya dia tidak terganggu. Aku pun mengambil HP-ku dari dalam tas. Ada SMS. Waktu kubuka, ternyata dari salah satu anak HIMA.

Km dmn? Ngampuz g? Klo y, k hima donk. Bth bntuan ngurusin backdrop bwt seminar. Ank2 dh kmpul. Bls cpt.

Balas? Duh, pulsaku tinggal satu digit. Mana bisa balas SMS. Aku menghela panjang. Memang sudah tiga minggu aku tidak punya pulsa. Mau mampir ke counter pulsa, kok malas sekali. Toh, aku juga jarang SMS atau menelepon orang.

Aku bangkit dan beranjak menuju motor. Kunyalakan mesin, memakai slayer untuk menutup hidung dan mulut, lalu memakai helm. Aku sudah pamit pada Ibu dan Bapak. Jadi, tinggal berangkat. Sebelum pergi, kusempatkan menoleh pada kucing putih itu. Melihatnya yang sudah tertidur pulas, aku cuma nyengir. Akhirnya, kulajukan motor menuju kampus.

***

Matahari sudah turun saat aku sampai di rumah. Kucing putih itu sudah tidak di tempatnya lagi. Wajarlah. Dia pasti balik ke rumah majikannya. Ngomong-ngomong, sampai sekarang aku tidak tahu siapa majikannya. Biarlah, yang penting kami sudah memperlakukannya dengan baik saat dia bertandang ke rumah kami.

Setelah memasukkan motor ke dalam rumah, aku keluar lagi. Kuhampiri gerbang dan menutupnya. Ketika aku mau masuk, sesuatu di bekas tempat kucing putih tadi tidur memancing perhatianku. Sesuatu yang tidak semestinya ada di sana. Aku tidak melihatnya tadi. Aku pun menghampirinya.

Kupungut benda berbentuk bando itu. Warnanya hitam. Ada telinga kucing terpaut padanya. Aku tergelak. Memangnya di dekat sini ada yang hobi jadi cosplayer?

Aku celingukan ke sana-kemari. Sepi. Tak seorang pun lewat. Tak seorang pun kelihatan. Apakah orang-orang ketularan aku yang betah sekali berlama-lama di dalam rumah?

Akhirnya, kubawa bando ini masuk, takut kalau-kalau bando ini jadi kotor kalau didiamkan di sana. Lagi pula, kalau ada yang mencari, pasti akan bertanya ke sekitar tempat bando ini jatuh atau hilang.

Sampai di kamar, aku menaruhnya di atas mesin jahit rusak yang kugunakan sebagai meja. Menyedihkan, memang. Tapi, daripada nganggur tidak jelas, ya kumanfaatkan saja jadi meja.

Kuambil sebuah buku dan membacanya. Tapi, pikiranku selalu tertuju pada bando kuping kucing itu. Dari tadi aku terus saja meliriknya. Akhirnya, kutaruh lagi buku yang sedang kubaca dan beranjak menuju mesin jahit. Kuambil bando itu lantas memandangnya lekat. Kepingin pakai. Pasti aku akan kelihatan aneh kalau punya kuping kucing seperti ini. Ingin tahu jadinya seaneh apa. Tapi, bando ini bukan milikku. Tidak etis memakai punyanya orang lain tanpa izin. Meskipun aku memungut dan menyimpankannya, tapi memakainya? Itu masalah lain. 

Rasanya tidak sopan, tapi aku benar-benar ingin tahu. Ya, kadang-kadang rasa penasaranku itu bikin kesal. Rasa penasaran yang terlalu besar biasanya bisa menjerumuskan seseorang ke dalam masalah. Hal semacam itu sering sekali terjadi padaku. Tapi, masalah apa yang bisa diakibatkan oleh sebuah bando? Ah, aku mulai parno lagi. Mana mungkin ini jadi masalah, kan? Akhirnya, kupakai juga bando itu.

Kupandang diriku sendiri di cermin bundar di atas rak buku. Aku langsung terbahak. Ternyata memang kelihatan aneh. Setelah puas tertawa, kucoba melepaskannya. Tapi, entah kenapa rasanya susah sekali. Bando ini tidak mau lepas, seolah sudah terkait begitu erat di kepalaku. Lalu, entah bagaimana, aku tidak bisa merasakan keberadaan bando itu di kepalaku. Seolah menghilang begitu saja. Aku menyentuh kepalaku untuk memastikan. Memang benar sudah tidak ada. Kucari di seluruh kamar, tidak ketemu. Akhirnya, aku kembali ke rak buku, siapa tahu jatuh di dekat sana. Sekilas, kulirik cermin dan langsung membeku saat mendapati kuping kucing itu masih di tempatnya.

Kuraih kepalaku, bando itu benar-benar sudah lenyap. Tapi, kuping kucing itu? Tanganku pun bergerak ke atas, memang ada kuping kucing di sana. Anehnya, terasa bukan tempelan, terasa hidup. Kucubit kuping kucing itu. Sakiiiit! 

Saat tanganku kugerakkan turun, aku tidak menemukan apa pun di tempat seharusnya telingaku berada. Baik, ini mulai terasa horor. Aku pasti berhalusinasi.

Saat kudapati rambutku menghilang dan berganti dengan bulu-bulu hitam lebat yang bahkan mulai tumbuh di wajah, tangan, dan kakiku, ini sudah kelewatan. Belum lagi, sesuatu bergerak-gerak aneh di pantatku. Firasatku mulai jelek. Jangan bilang! Pokoknya jangan bilang!

Aku memutar tubuh takut-takut. Pelan, kuarahkan mataku ke bawah. Sesuatu yang hitam dan panjang menempel di sana. Goyang-goyang, pula. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi ini. Aku nyaris tidak bisa bernapas. Ini gila! Sekarang, aku cuma tahu satu cara untuk menyingkirkan rasa aneh dan ngeri ini, yang pada akhirnya berhasil kulakukan … aku pingsan dengan sukses!
 
***

Hal pertama yang kusadari waktu aku bangun: aku berada di bawah tumpukan kain yang berat. Saat kucoba bangun, aku tidak bisa berdiri dengan benar—kedua tanganku tidak mau tidak menyentuh lantai—kalau kujauhkan tangan dari lantai, keseimbanganku goyah. Mataku bisa melihat jelas—padahal tidak pakai kacamata. Tingkat sensitivitas hidungku yang sudah tinggi, malah makin bertambah—bisa kucium bau tikus-tikus busuk yang selama ini tidak pernah tercium hidungku. Semua benda di kamarku seolah membengkak jadi besar sekali. Sejak kapan aku punya kamar sebesar ini? Sejak kapan langit-langit kamarku setinggi itu? Dan jendela? Bahkan, dengan berdiri—meski harus berpegangan pada tembok—aku masih tidak bisa meraihnya. Apa-apaan ini?

Bulu-bulu hitam pekat di sekujur tubuhku…, kumis di wajahku…, lalu ekor! Ya Tuhan, apakah Kau baru saja mengubahku jadi binatang? Aku tercenung. Dosa besar apa yang sudah kulakukan?

Yang paling membuatku shock … aku tidak pakai baju. Kuhampiri pakaianku yang tergeletak di lantai. Kucoba memakainya. Tapi, ini sih seperti memaksa mengenakan baju raksasa.

Percuma, sekarang kamu itu kucing.”

Suara itu membuatku memekik tertahan. Aku celingukan, tidak ada seorang pun yang masuk kamarku. Pintu masih tertutup. Apa itu cuma suara di kepalaku saja?

Di sini.”

Suara itu lagi. Rasanya suara itu datang dari arah belakang. Aku pun berbalik demi mendapati seekor kucing putih sedang bertengger nyaman di jendela. Tadi itu … dia yang ngomong?! Aku pasti sudah gila.

Kucing putih itu bangkit dan turun menujuku. Gila! Kok dia jadi besar sekali?! Bahkan, sedikit lebih tinggi dan lebih besar dariku. Apa katanya tadi? Apa benar aku sudah jadi kucing?

Ternyata benar,” katanya sambil menyeringai. “Awalnya aku nggak paham kenapa manusia laki sering bilang kalau manusia perempuan itu cantik. Sekarang, bisa kulihat. Manusia perempuan sepertimu, ternyata bisa jadi betina yang menarik.”

Lagi-lagi aku shock. Seumur-umur tidak pernah ada orang yang menyebutku ‘menarik’. Sekalinya dipuji, kenapa oleh kucing? Dia juga menyebutku ‘betina’?! Nasibku tidak akan jadi lebih buruk lagi, kan? 

Kamu mau jadi betinaku?”

Baik, sekarang aku tahu, nasibku jelas akan jadi jauh lebih buruk lagi. Ini mulai menyeramkan. Bagaimana tidak? Aku dirayu oleh kucing! Dirayu oleh manusia saja bikin aku agak bergidik, apalagi kucing. Aku berubah pikiran. Aku sama sekali tidak menyukai kucing putih itu.

Kucing putih itu berjalan mendekat. Refleks, aku menggeram cepat. Tunggu, menggeram? Ya ampun, tindakanku sudah mulai tidak manusiawi.

Kucing putih itu terhenti, sikapnya berubah waswas. Mungkin dipikirnya aku akan menerkamnya—yang sebenarnya memang iya kalau dia coba lebih mendekat lagi.

Kucing putih itu berbalik dan melompat ke jendela. Dia menoleh padaku. “Lebih baik cepat keluar dari sini. Kamu gak mau kalau induk lakimu yang antikucing itu menemukanmu, kan?

Dia membuatku kesal, tapi dia benar. Beda denganku dan Ibu, Bapak sama sekali tidak suka kucing. Melihat para kucing berleha-leha di halaman rumah, masih okelah. Tapi, kalau sampai ada kucing masuk rumah, Bapak pasti langsung mengambil sapu. Aku tidak mau jadi korban ketidaksukaan Bapak selanjutnya. Maka, kuputuskan keluar. Tapi, jendela itu tinggi sekali. Apa bisa kulompati?

Aku tersentak saat mendengar suara ketukan di pintu kamar.

“Ama, Bapak pinjam STNK ya, Nduk?”

Suara Bapak! Aku gelagapan. Bagaimana ini?! Perlahan, terdengar suara gagang pintu yang coba dibuka. Aku makin panik. Aku menatap ke jendela. Kucing putih itu memandangiku tajam lalu mengisyaratkanku untuk cepat-cepat lompat. Akhirnya, kuambil ancang-ancang.

Aku lari. Dengan sekali entakan, aku melompat. Nyaris tidak sampai. Aku bergelantungan dengan kedua tangan—eh, maksudku, kedua kaki depanku—di bibir jendela. Kucing putih itu sudah melompat keluar. Menyebalkan! Dia bahkan tidak mau membantuku. Dengan payah-payah, akhirnya aku berhasil mengangkat tubuhku dan melompat keluar tepat di saat Bapak masuk ke kamarku.

Aku mendarat dengan mulus. Padahal, tinggi bibir jendela itu tidak kurang dari 2 meter. Dengan tubuh miniku ini, aku masih bisa selamat? Apa ini artinya aku sudah mulai terbiasa dengan gerak refleks kucing? Entah harus senang atau sedih.

Kutatap jendela dengan pandangan sayu. Kuharap Bapak bisa menemukan STNK-ku. Untunglah kutaruh di tempat biasa, jadi Bapak tidak akan kebingungan mencarinya.

Kudengar seruan tidak jauh dariku. Aku menoleh. Kucing putih itu mengisyaratkanku untuk mengikutinya. Aku mengejarnya. Lagi pula, tidak ada yang bisa kulakukan di sini. Kalau kuingat-ingat lagi, bando kuping kucing itu tergeletak di tempat biasanya kucing putih itu mendekam, kan? Bagaimana pula dia tahu kalau aku adalah Ama? Dia pasti tahu sesuatu.

Hei, tunggu!” Ini gila! Aku bicara pada kucing.

Namaku bukan ‘Hei’. Namaku Shiro,” katanya tanpa menoleh.

Shiro? Ah, nama yang tepat. Pemiliknya pasti tahu bahasa Jepang.

Tahu bando yang tadi ada di halaman, gak?

Shiro berhenti, aku pun ikut berhenti. “Bodoh, Seharusnya jangan dipungut.

Apa?!

Bando itu koleksi majikanku yang jatuh saat tadi menjemputku. Aku tahu benda itu bahaya buat manusia. Kamu bisa lihat efeknya sekarang. Makanya, aku buru-buru ke sini. Gak tahunya udah telat.

Gimana aku bisa jadi manusia lagi?

Majikanku punya ramuan yang bisa bikin bando itu lepas dari kepala.

Serius?

Shiro diam. Aku tidak tahu seperti apa sikap biasanya seekor kucing, tapi dia kelihatan aneh. Sebelumnya, mana pernah terlintas gagasan bahwa kucing itu aneh. Tapi, setelah jadi kucing, entah kenapa aku merasa kucing itu tidak beda. Ada juga yang gelagat dan sikapnya aneh, Shiro misalnya. Kapasitas otaknya sepertinya lebih besar dari kucing biasa. Tapi, mungkin itu cuma perasaanku. Yang jelas, sepertinya aku bisa kembali jadi manusia lagi. Hal itu sudah lebih dari cukup untuk bikin moodku berubah bagus.

***

Shiro, yakin kita gak salah jalan? Kok gelap amat?

Bisa diem, gak? Nanti kedengaran si Tua Bangka itu.

Si Tua Bangka?

Bulldog piaraan salah satu manusia laki di dekat sini.

Mendengar kata Bulldog membuatku bergidik. Dalam keadaan biasa, aku mungkin tidak akan merasa setakut ini. Tapi, sekarang aku adalah kucing. Aku tidak tahu bagaimana jadinya kalau malam-malam begini mesti berhadapan dengan anjing. Jadi, aku tidak membantah lagi. Aku cuma berusaha lebih keras menyeimbangi langkah Shiro.

Kami terus berjalan cepat sampai ke ujung gang yang berakhir di jalan beraspal yang cukup besar. Kendaraan masih berseliweran di kedua sisi jalan. Di trotoar pun, masih banyak orang berjalan kaki. Dengan cepat, kami menyusup melewati kaki-kaki itu ke arah utara. Di depan sebuah toko kecil dengan lampu redup yang berpendar lewat jendela kaca yang besar, kami berhenti. Aku menengadah. Dari sampel yang dipajang di balik jendela kaca, ini pasti toko aksesoris.

Aku menoleh pada Shiro, “Kamu tinggal di sini?

Bukannya menjawab, dia hanya berkata sambil lalu, “Lewat pintu belakang.”

Kami berputar ke samping toko, melewati gang sempit menuju belakang toko. Belum sampai kami di sana, sesosok yang gelap dan besar muncul di hadapan kami. Aku tak terlalu jelas melihatnya, tapi dari geraman Shiro, aku tahu bahwa yang berada di hadapan kami ini tidak bersahabat.

Kamu bawa seekor lagi, Shiro?” kata sosok besar itu. “Kali ini sungguhan atau jadi-jadian?

Aku tidak mengerti, tapi Shiro masih tetap menggeram. “Mundur, Terry.”

Sosok besar itu terbahak lalu menggonggong. Sekarang aku tahu apa yang sedang kami hadapi. Saat sosok itu berjalan menuju arah cahaya, seekor Bulldog mewujud di hadapan kami. Aku menatapnya ngeri. Diakah si Tua Bangka itu?

Ia mengitari kami. Shiro pun mengimbanginya agar selalu berada di antara aku dan Bulldog itu. Apa Shiro mencoba melindungiku?

Bulldog itu bersiap maju, begitu pula Shiro. Dalam satu entakan, keduanya bergumul. Tak perlu diragukan lagi siapa pemenang pergumulan itu. Dalam satu gerakan cepat, tubuh Shiro sudah berada dalam rahang Bulldog itu. Aku memekik seketika. Dalam satu kibasan, dilemparnya tubuh Shiro ke tumpukan tempat sampah di ujung gang. Mata tajam Bulldog itu beralih padaku. Aku membeku, terlalu takut dan gemetar untuk bisa bergerak.

Larilah. Kucing lembek sepertimu tak cukup berharga bahkan hanya untuk dijadikan mainan.”

Setelah ia berlalu pergi sambil menggonggong puas, setelah aku punya nyali untuk bergerak kembali, aku menghampiri Shiro yang kesadarannya masih sayup-sayup itu. Kalau saja aku manusia, aku pasti sudah menangis. Melihat seseorang—dalam kasus ini, seseekor—celaka hanya gara-gara aku, rasanya seluruh beban bumi ditanggungkan di bahuku. Perasaan bersalah dan berhutang itu sungguh berat. Dulu, aku pernah berhutang uang. Aku tahu bagaimana beratnya mengembalikan hutang itu. Karena itulah, aku benci berhutang. Apalagi hutang budi, bagaimana caraku mengembalikan hutang semacam itu? Kalau tak bisa kubayar, itu akan jadi bebanku seumur hidup. Sekarang, aku berhutang nyawa pada seekor kucing. Kalau Shiro tidak di sini, mungkin akulah yang akan diterkam Bulldog itu. Meskipun pada akhirnya ia melepaskanku karena menganggapku tak berguna, tapi tetap saja. Bagaimana aku membalasnya?

Lihat apa, kamu?

Aku tersentak mendengar suara lirih itu. Aku mendongak, menatap kelopak mata yang berkedut itu.

Aku belum mati, jangan pandang aku dengan tatapan menyedihkan begitu.” Perlahan, dia mulai bangkit. Dijilatinya luka akibat gigitan Bulldog di dekat lehernya. Ada bagian yang tak terjangkau, maka aku membantunya. Memang terasa risih, tapi kuanggap ini sebagai ‘mengangsur pembayaran hutang’.

Kenapa kamu berdiri di antara aku dan Bulldog tadi?

Karena kamu betina dan aku jantan, kalau kamu tahu maksudku.”

Aku tak bertanya lagi. Aku cukup tahu maksudnya. Bahkan, di dunia binatang sekalipun, insting pria selalu tergerak untuk melindungi wanita. Wajarnya begitu, sih. Kenyataannya, tak jarang dalam dunia manusia, pria main kasar pada wanita, bukannya melindunginya. Aku jadi makin miris. Apakah akhlak binatang lebih mulia ketimbang manusia?

Tiba-tiba, pintu belakang toko terbuka. Seorang pria keluar dari pintu itu sambil membawa sebuah buntalan besar, sepertinya sampah. Ia berjalan menghampiri kami dan berhenti seketika saat melihat kami. Ia segera menaruh buntalan itu di tumpukan sampah lalu buru-buru mendekati Shiro. “Ya ampun, Shiro, kamu berantem sama Terry lagi? Cuma Bulldog tua itu yang bisa bikin kamu luka-luka begini.”

Pria itu mengangkat Shiro pelan. Lalu, ia menoleh padaku sambil menyeringai aneh. “Ah, kamu bawa teman? Ayo ikut, kucing hitam. Waktunya makan malam.”

Nyaaaw.” Ah, ingin hati bilang ‘ya’, apa daya cuma suara macam begitu yang bisa keluar. Aku pun mengikuti mereka masuk.

***

Entah kenapa, Pemilik toko cepat-cepat menutup tokonya, padahal masih ada beberapa pelanggan. Pemilik toko segera menuju dapur di bagian belakang toko, menyiapkan bahan-bahan untuk makan malam.

“Akhirnya, makan daging.”

Aku celingukan ke sana-kemari, menjelajah dapur. Tak terlihat satu pun daging. Tak ada ikan, daging ayam, daging sapi, atau daging yang lain. Jadi, Pemilik toko itu mau makan daging apa?

Gak semestinya aku bawa kamu ke sini.”

Aku menoleh pada Shiro yang berjalan menghampiriku. Aku segera mendekatinya. “Kamu gak apa-apa? Apa masih sakit?

Dia diam saja, sambil menatapku aneh. “Pulanglah.”

Aku terbengong. Kenapa dia tiba-tiba menyuruhku pulang? “Apaan, sih? Bukannya kamu bilang di sini ada ramuan yang bisa bikin aku balik jadi manusia lagi?

Aku bohong.”

Apa?!

Gak ada yang namanya ramuan.”

Aku terlalu terkejut untuk bisa marah. Belum sempat aku mengatakan apa pun, tiba-tiba badanku menjauh dari lantai. Aku menoleh demi mendapati Pemilik toko mengangkatku dan meletakkanku di atas meja. Ia memaksa membaringkanku sambil mengambil pisau pemotong yang sangat besar. Aku membeliak seketika. Apa ia bermaksud menyembelihku? Kucari-cari mata Shiro dan menemukannya di dekat lemari dapur. Tapi, ia menghindari tatapanku. Tanpa bisa kutolak lagi, sebuah pemahaman baru melintas di benakku. Sebuah pemahaman yang membuatku bergidik ngeri. Tidak! Tidak mungkin. Shiro tak mungkin sengaja membawaku ke sini untuk dijadikan santapan majikannya, kan?

Aku mencari matanya lagi. Kali ini, Shiro balas menatapku. Aku berusaha mencari penyangkalan dari mata itu, tapi tak kutemukan. Tatapan itu tak berusaha menyangkal. Tatapan itu seolah membenarkan pemahamanku. Aku shock. Bagaimana mungkin setelah aku mulai bisa membangun kepercayaan kepadanya, dia sanggup menghancurkannya begitu saja? Bagaimana dia bisa mengkhianatiku semudah itu? Atau sejak awal memang itu niatnya?

Aku tak peduli. Kemarahanku pada Shiro sudah cukup untuk menggerakkanku berontak dari tangan Pemilik toko. Dengan beberapa cakaran dan gigitan, aku berhasil lolos dari meja. Aku berlari ke arah pintu, tapi Pemilik toko menghalangi. Ia mau menangkapku lagi, tapi sesuatu dengan cepat menubruk lengannya. Tubrukan itu membuat Pemilik toko kaget hingga membuatnya terjatuh. Kupandangi sosok putih yang sedang bergumul dengan Pemilik toko.

Di sela-sela kesibukannya mencakar dan menggigit, Shiro menoleh padaku. “Cepat lari! Aku gak akan bisa menahannya lebih lama lagi!

Aku tak menunggu. Aku segera kabur lewat lubang kucing di bagian bawah pintu belakang toko. Aku lari, tak sanggup sejenak pun berhenti. Aku tak peduli lagi pada Shiro yang tengah bergelut dengan Pemilik toko. Mungkin saja dia akan menemui ajal di sana. Ajal?! Aku terhenti seketika. Aku menoleh ke arah toko. Shiro … apa dia akan baik-baik saja?

Lalu, semburat merah yang menghiasi langit di atas kawasan sekitar toko aksesoris itu mengejutkanku. Apa itu? Aku disergap ragu. Seharusnya aku pergi sejauh mungkin dari toko. Seharusnya aku tak perlu kembali. Tapi, keempat kakiku mengkhianatiku. Keempat kakiku membawaku kembali ke tempat terkutuk itu. Kenapa mereka tak mau mendengarkan otakku?

Aku tertegun saat kulihat mobil pemadam kebakaran melewati jalan beraspal itu. Jantungku berdegup kencang sekali. Rasanya ada palu besar yang memukul dadaku tanpa henti. Tanpa ampun. Firasat ini … apa yang terjadi? Shiro….

Aku langsung lari ke arah toko. Saat sampai, para petugas pemadam sedang berusaha memadamkan api yang melahap seluruh isi toko. Aku tak peduli. Saat ini, yang kupedulikan hanyalah keberadaan Shiro. Aku mencarinya ke mana-mana, tapi tak ketemu. Aku memucat. Tak sedetik pun benakku kubiarkan berpikir bahwa dia tak sanggup lolos dari toko. Yang kubicarakan ini Shiro. Entah bagaimana, dia pasti bisa lolos. Firasatku bilang begitu.

Benar saja. Tak jauh dari toko, sosok kucing putih berjalan terseok. Tubuhnya tak lagi putih bersih, kali ini lengkap dengan goresan merah gelap, hitam, juga kelabu. Tak lama, dia ambruk. Aku segera berlari menujunya. Shiro tak sadar, tapi aku tahu dia belum mati. Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah menjilati luka-lukanya.

***

Kutatap para polisi yang keluar-masuk rumahku. Beberapa bicara dengan Bapak, sedangkan Ibu hanya menangis di samping Bapak. Ini sudah seminggu. Pencarian para polisi belum menunjukkan hasil. Aku hanya tertunduk sedih. Andai saja mereka tahu bahwa seseorang yang tengah mereka cari tidak pernah menghilang ke mana pun. Orang itu selalu di sini, menanti di depan rumah. Menanti dengan rasa sakit tiap kali melihat sepasang suami-istri itu mulai menangis memikirkan putri mereka. Seandainya aku manusia, aku pasti sudah menangis.

Aku janji, kita akan temukan cara untuk mengubahmu jadi manusia lagi.”

Aku berbalik, memandang nanar kucing putih di hadapanku. “Jangan terlalu berharap. Aku gak pernah bilang sudah percaya lagi padamu.”

Aku terpaksa. Kalau aku gak bawa kamu, aku sendiri yang bakal dimangsa majikanku.”

Udah berapa kucing yang kamu bawa ke mautnya sendiri? Belasan?

Pu-puluhan, mungkin. Aku gak ingat.

Aku memandang jijik padanya. Bisa-bisanya dia menjadikan spesiesnya sebagai tumbal demi keselamatannya sendiri. Bisa-bisanya juga dia menjebak manusia untuk dijadikan tumbal.

Lalu, kenapa kamu gak biarin aku dimangsa sekalian?

Shiro diam, sepertinya berpikir. “Mungkin, karena ucapanku saat pertama kali aku melihatmu sebagai kucing. Mungkin karena aku terlalu serius dengan ucapanku waktu itu.”

Aku bergeming. Aku tak perlu tanya ucapan yang mana. Aku sudah tahu, tapi aku tak peduli. “Majikanmu sudah mati. Kamu bebas. Jadi, berhenti membuntutiku.”

Boleh aku terus di sisimu?

Gak! Jauh-jauh, sana!

Dia menatapku pilu. Tapi, aku terlalu marah untuk bisa melihat kesedihan dan penyesalan yang mungkin ada di balik matanya itu. Aku berbalik. Kutatap lagi wajah-wajah sedih orang tuaku. Hal itu sudah lebih dari cukup untuk membuat jantungku tertikam hebat. Saat ini, aku ingin menangis untuk mereka. Tapi, apakah kucing memiliki air mata? Aku belum tahu. Mungkin, setelah beberapa lama lagi menjadi kucing dan bisa lebih beradaptasi, aku akan tahu.

Sejak saat itu, mungkin hingga berbulan-bulan, mungkin juga bertahun-tahun, Shiro tak pernah sedetik pun meninggalkan sisiku. Meski sudah ratusan kali aku kabur atau mengusirnya, dia tak pernah pergi. Benar-benar kucing putih yang naïf. Dengan pengkhianatannya, kuanggap hutangku padanya sudah lunas. Sekarang, gilirannya yang berhutang kepadaku. Hutang kepercayaan. Asal tahu saja, hutang semacam itu, terkadang nilainya terlalu besar untuk bisa dibayar, terlalu mahal dan mewah untuk bisa dikembalikan.      
Share:

0 komentar:

Posting Komentar