29 Agustus 2011

[Cerpen] Memories of Her

Baik, ini adalah kisah fiksi dengan setting dan peristiwa yang nyolong kejadian nyata. Ah, bahkan nama tokohnya nyolong nama saya sendiri (gak kreatif ah) *plak 

--------------------------------------------------------------------------


She had always been there, valiantly challenging the light.
I had always been here, watching her from my pitch black hiding place.

Aku ingat saat kali pertama melihatnya. Hari itu adalah hari terakhir Studi Laboratorium dan Keakraban (SLK) yang diselenggarakan Jurusan Pendidikan Fisika dalam rangka penyambutan mahasiswa baru. SLK diadakan selama seminggu penuh, lima hari di laboratorium jurusan dan dua hari di Kaliurang.

Saat itu kami tengah outbound, sembari menikmati pemandangan menakjubkan di lereng Gunung Merapi. Saat kami berhenti di pos pengujian ketangkasan, kelompokku antri di belakang kelompoknya. Dan saat itulah aku melihatnya. Gadis manis bertubuh mungil itu tengah menceritakan sesuatu kepada teman-teman kelompoknya, hingga membuat mereka tertawa lebar. Aku yang duduk tak jauh dari kelompok itu pun ikut-ikutan tertawa. Bukan karena ceritanya yang ternyata tidak terlalu lucu, melainkan karena ekspresi yang dibuatnya saat ia berkisah. Mata hitamnya berbinar cerah. Dan mimik wajahnya kerap kali berubah, lebih sering di momen yang tak tepat. Mungkin itulah cara ia mencairkan suasana. Yang sontak pula membuatnya jadi pusat perhatian. 

Aku berbalik, kembali ke kesibukan kelompokku sendiri saat kelompoknya mendapat giliran melapor ke pos. Aku berusaha membaur, menyimak diskusi kelompokku mengenai sesuatu. Tapi, seperti yang sudah-sudah, lagi-lagi tak seorang pun memedulikan kehadiranku. Saat aku mencoba menimpali diskusi, tak seorang pun menanggapiku. Tidak apa-apa. Toh, aku sudah terbiasa diabaikan. Untuk bisa benar-benar memiliki teman, mungkin hanyalah mimpi bagiku. Karena penghalang yang ada di antara aku dan mereka terlalu tebal dan tinggi. Hal itu membuatku telah menyerah sejak lama.

Seusai outbound, kami harus segera berkumpul di aula untuk makan siang sekaligus bedah film yang akan dilakukan oleh salah seorang dosen. Setelah mengambil jatah makanan, aku segera meninggalkan tenda menuju aula. Aku pergi sendirian, meninggalkan kelompokku yang masih sibuk bergosip tak jelas. Toh, mereka juga takkan kehilanganku.

Sesampainya di aula, kulihat suasana masih lengang. Tikar-tikar telah digelar, tapi hanya ada beberapa saja yang sudah datang, semuanya laki-laki. Aku memutuskan untuk mengambil tempat di pojok belakang, di mana aku takkan jadi gangguan bagi yang lain. Setelah aku merasa nyaman, aku membuka kardus makan siangku. Ada nasi, sayap ayam, lengkap dengan lalapan dan saus sambal di dalamnya, mewah benar. Makan siang kali ini pasti dipesan dari katering. Tumben, biasanya seksi konsumsi memasak sendiri selama dua hari ini.

Suara-suara sudah mulai terdengar berisik di luar sana, pertanda anak-anak yang lain telah mulai berdatangan. Beberapa laki-laki masuk dan bergabung dengan sesama mereka. Begitu pula dengan perempuan. Entah bagaimana, ada aturan tak tertulis selama SLK bahwa tempat duduk perempuan dan laki-laki sewajarnya dipisah. Itulah yang kusaksikan sekarang. Kuperhatikan banyak yang lebih memilih duduk di tengah agar tak terlalu di depan hingga berhadapan langsung dengan dosen dan tak terlalu ke belakang hingga kesulitan menangkap apa yang dikatakan dosen. Mungkin, hanya ada aku seorang yang akan duduk di belakang.

“Misi, Mbak.”

Perhelatan sengit di benakku buyar seketika saat kudengar suara merdu itu. Sontak aku menengadah. Gadis manis bertubuh mungil itu telah berdiri di hadapanku sambil membawa kardus makan siangnya. Ia tersenyum padaku. Dilihat sekilas saja, aku segera tahu kalau senyum itu tidak dibuat-buat.

“Boleh duduk sini?” katanya lagi. “Tadi ada urusan kecil, aku jadi kepisah dari kelompokku. Makanya, boleh duduk sini?”

Aku terlalu terkejut untuk bisa bereaksi. Apa barusan gadis itu bicara padaku? Dia benar-benar bicara padaku? Tapi, aku berada di pojokan. Tak ada orang lain lagi yang duduk di samping atau di belakangku. 

“Boleh, gak?”

Aku menggeleng cepat, menyingkirkan segala pikiran buruk dari kepalaku. Aku memalingkan wajahku darinya, dan segera mengangguk kaku. Begitu ia sudah duduk di sana, segera saja mahasiswi-mahasiswi lain yang datang terlambat menyusul duduk di belakang.

Akhirnya, bedah film dimulai. Selama dua jam kami disuguhi sebuah film yang telah dipilih panitia. Dan ternyata mereka memilih “The Core”, sebuah film tentang perjalanan sekelompok orang ke inti bumi demi menggerakkan kembali aliran mantel yang terhenti, hingga mengakibatkan hilangnya selimut medan magnet yang melindungi bumi dari radiasi matahari. Benar-benar menyenangkan, karena aku mendapatkan pengetahuan baru lagi. Apalagi setelah dosen kami menerangkan hubungannya dengan teori bumi dan antariksa, diskusi jadi makin menyenangkan.

Perlahan, aku melirik ke arah gadis di sampingku. Ia tengah sibuk berkicau bersama mahasiswi-mahasiswi lain di sekelilingnya, tentu saja membahas film tadi dan menghubungkannya dengan spekulasi-spekulasi yang terdengar mustahil. Dari caranya bicara, dari tata bahasa yang digunakannya, dan dari argumen-argumen yang diutarakannya, aku segera tahu bahwa gadis itu sangat cerdas. Aku kagum padanya. Aku yakin sekali kalau tadi dia sama sekali tidak mengenal para mahasiswi yang diajaknya berdiskusi. Tapi, hanya dalam waktu dua jam saja, mereka sudah seintens itu berdiskusi. Gadis itu benar-benar cepat beradaptasi. Ia juga sangat bagus dalam berkomunikasi dengan orang yang baru dikenal. Sungguh berkebalikan denganku. Entah bagaimana, aku merasa sedikit iri.

Saat diskusi mereka selesai, gadis itu menoleh padaku. Ia tersenyum lagi, lebih lebar dan lebih manis dari sebelumnya. “Hei, kita lupa kenalan ya? Namaku Rin. Kamu?”

***

She kept on running forward till she was no more than an image, drifting away further and further beyond my reach.
Yet I stayed, watching her small back while brushing away drops of sweat. 

“Dya!”

Seruan itu membuatku berbalik. Kulihat Rin berlari menghampiriku. “Hei, udah rampung ngerjain rangkuman, Dy?”

Aku mengangguk kecil padanya. Hari ini memang ada kuliah Sejarah Fisika. Kami diberi waktu seminggu untuk meringkas biografi belasan tokoh-tokoh fisika. Sungguh melelahkan, apalagi sebagian besar referensinya berbahasa Inggris. Meski bahasa Inggrisku masih kacau, aku tak punya pilihan lain kecuali menerjemahkannya sesuai dengan kemampuanku sendiri.

“Punyaku kurang Galileo dan Newton,” celetuknya. “Nyontek ya?”

Aku mengangguk lagi. Biografi Galileo Galilei dan Isaac Newton memang panjang sekali, sehingga agak susah untuk meringkasnya. Sejurus kemudian, aku membuka tas dan mengambil sebundel folio. Aku mengeceknya sekali lagi. Setelah puas, kuserahkan bundel itu pada Rin. Ia akhirnya tersenyum lebar. Entah kenapa, dadaku terasa hangat melihat senyuman itu.

“Makasih, Dy,” katanya sambil berlari ke gedung kuliah.

Aku tercenung. Barusan, aku tidak salah dengar kan? Ini, untuk pertama kalinya ucapan terima kasih ditujukan oleh seseorang padaku. Rasanya aneh, mungkin karena aku terlalu terbiasa disalahkan atas apa pun yang kulakukan di rumah. Rasanya janggal, mungkin karena aku terlalu terbiasa dianggap tidak ada. Atau mungkin juga karena ini ‘pertama kali’?

Aku melangkahkan kaki menuju ruangan kuliah. Masih sepuluh menit lagi sebelum kuliah Sejarah Fisika dimulai. Apa Rin punya cukup waktu untuk menyalin ringkasan kedua tokoh itu?

Saat aku masuk ke dalam ruangan, rupanya bangku di bagian tengah dan belakang telah terisi penuh. Namun, itu tak masalah bagiku karena bangku favoritku ada di pojok depan dekat jendela. Sebelum duduk, aku melirik sebentar ke arah kerumunan di bangku bagian tengah. Rin sedang menyalin pekerjaanku sambil dikitari oleh teman-temannya. Mereka sedang membicarakan sesuatu, meksi aku tidak tahu apa. Dan hebatnya, meski sedang dikejar-kejar waktu, Rin masih bisa meladeni obrolan teman-temannya dengan sangat baik. Dalam keadaan terjepit seperti itu, ia masih bisa berakrab-akrab dengan teman-temannya. Kekaguman dalam hatiku makin menjadi, begitu pula dengan rasa iri yang tumbuh mengimbanginya. Aku juga ingin bisa akrab dengan orang lain.

Aku memeriksa jam dinding di ruangan itu, sudah jam tujuh. Sebentar lagi pasti dosen masuk. Aku melirik cemas pada Rin, apa dia belum selesai juga? Dan benar saja, aku mendengar suara pintu kelas yang ditutup. Saat aku menoleh, dosen sudah masuk dan mulai meletakkan buku-buku yang dibawanya di atas meja.

Sentuhan kasar dari arah belakang membuatku tersentak. Saat aku berbalik, Ina menyerahkan sebundel folio yang kusadari kemudian sebagai rangkumanku. “Dari Rin,” katanya. Aku hanya mengangguk pelan padanya sambil tersenyum tipis. Berharap dalam hati agar ia mengerti ungkapan terima kasih semacam itu. 

Saat aku membuka bundel itu, ada lipatan kertas yang terselip. Aku tahu kalau itu dari Rin, karena namanya tertulis di muka lipatannya. Saat kubuka lipatan itu, aku menemukan sebuah pesan.

Thanks, Dy.

Hanya itu. Tapi, aku sangat menghargainya. Ia selalu baik padaku. Aku senang bisa sekelas dengannya. Tapi, mungkin memang hanya sebatas teman sekelas, seperti yang sudah-sudah.

***

I couldn't run after her, not brave enough to hope the slightest either.
But before I knew it, she came back to me, with the same sincere smile.

Hari ini adalah persiapan akhir menjelang pembukaan SLK besok pagi. Aku dan beberapa panitia lain memang sengaja kerja lembur demi mempersiapkan pembukaan. Dekorasi hampir jadi. Setelah ini, aku hanya harus fokus untuk membantu urusan perlengkapan. Aku berbalik demi mendapati tumpukan jatah makan malam di atas meja. Sebagian besar telah raib bersamaan dengan suara berisik jauh di depanku. Mereka sedang berkumpul di sana sambil makan dan mengobrol. Rin ada bersama mereka, masih tertawa-tawa seperti biasanya.

Kuraih sebuah bungkusan dan berjalan ke luar. Aku hanya merasa kalau keberadaanku di sekitar mereka juga tidak akan berdampak apapun. Mereka telah memiliki lingkaran mereka sendiri. Aku hanyalah orang luar, tidak etis rasanya kalau memaksa masuk ke dalam lingkaran itu.

Aku berjalan menelusuri beranda lantai dua gedung kuliah tempat pembukaan SLK akan dilangsungkan. Tak ada satu bangku pun di dekat sini. Jadi, kuputuskan untuk pergi ke arah tangga, ada bangku panjang di dekatnya.

Begitu aku duduk, aku terperangah pada pemandangan di hadapanku. Langit malam ini sangat cerah. Bulan yang sedang purnama itu membuat malam ini makin indah. Dari pandanganku yang terbatasi oleh atap gedung kuliah itu, rasi Orion tak terlihat utuh. Tapi, aku masih bisa melihat Betelgeuse yang kemerahan dan dua di antara tiga bintang di sabuk Orion.

Aku membuka bungkusan makanan di pangkuanku. Rupanya menu malam ini adalah nasi pecel. Aku memang tak terlalu menyukainya, tapi bukan berarti aku tak bisa memakannya. Aku kan tetap harus bersyukur pada tiap rezeki yang kuperoleh. Apalagi, makan malam ini masuk ke anggaran panitia. Jadi, aku tak perlu bayar serupiah pun.

Seusai makan, aku berjalan menuju tempat sampah di tepi tangga. Setelah kubuang bungkusnya, aku sadar kalau tadi aku lupa mengambil botol air mineral. Kutepuk dahi dengan sebelah tanganku, dasar ceroboh. Aku memutuskan untuk kembali ke dalam ruangan dan mengambil botol mineral. Tapi, langkahku terhenti tiba-tiba. Aku tersentak oleh botol mineral yang diarahkan padaku. Aku menengadah demi mendapati Rin tengah berdiri tegap sambil mengarahkan botol mineral itu padaku. Ragu-ragu, aku mengambilnya. “Terima kasih.”

Rin hanya menggeleng cepat. “Kamu ini … selalu ngilang gitu aja.”

“Eh?”

“Aku nyariin dari tadi,” sahutnya. “Kupikir kamu pulang duluan. Tapi, tasmu masih ada, jadi aku tahu kamu masih di sini entah di mana.”

“Maaf….”

“Ngapain sih ngilang terus?”

Aku terdiam. Aku hanya tak mau mengganggu mereka. Kalau yang kulakukan bisa membantu—seperti bergabungnya aku di kepanitiaan SLK ini—tidak apa-apa. Tapi, mana mungkin aku bisa mengatakan hal semacam itu padanya.

“Anak-anak udah mulai kerja lagi, tuh,” tukasnya sambil tersenyum lebar. “Ayo masuk.”

Aku mengangguk pelan, lantas mengekor di belakangnya. Ketika kulihat punggung kecil yang berjalan di depanku itu, aku tertegun sendiri. Mungkin, gadis manis bertubuh mungil itu telah berhasil mendobrak penghalang yang membentengiku dari dunia luar. Apakah sekarang ini ia benar-benar sudah bisa menerobos dunia sunyiku? Aku penasaran. Kesunyian dan kesendirian sudah jadi bagian dalam hidupku. Meski begitu, aku benar-benar sudah lelah. Mimpi untuk membuang jauh kedua hal itu … bisakah kuraih?

***

When she held her hand out for me, I felt like hope had returned.
In the end, could I stretch my hand out to reach her?

Lima hari yang menyiksa sekaligus menyenangkan akhirnya datang. Dekorasi dan persiapan dokumentasi di gedung kuliah sudah beres, begitu pula dengan persiapan di laboratorium. Tinggal pelaksanaannya saja yang membuat dadaku berdebar kencang. Semoga tak ada satu pun kesalahan yang kubuat.

“Dya!”

Aku menoleh ke arah suara yang amat kukenal itu. Rin tengah berlari kecil ke arahku sambil membawa tumpukan kertas entah apa, mungkin petunjuk teknis atau dokumen milik seksi acara.

“Di lab lantai dua belum ada satu pun anak dokumentasi tuh,” katanya kemudian. “Semuanya ngumpul di Lab Fisika Dasar sih. Untung kamu bawa handycam, ayo ke atas.”

“Tapi … di sini aku belum rampung….”

“Gak apa-apa. Toh, di lantai satu kan udah ada camdig. Di lantai dua belum ada dokumentasi apa pun. Ayo!”

Inilah repotnya jadi orang yang kedapatan tugas menangani satu-satunya handycam pinjaman milik jurusan. Dari sembilan anggota seksi dokumentasi, delapan orang yang lain mengurusi kamera digital. Dengan kata lain, hanya aku yang sibuk berlarian dari satu tempat ke tempat lain untuk memastikan seluruh acara telah terekam dengan baik. Seperti itulah dari hari ke hari. Tak berubah. Di hari kelima, setelah Studi Laboratorium berakhir, beberapa dari panitia harus menuju Kaliurang untuk mempersiapkan tenda, aula, panggung depan, dan segala yang dibutuhkan untuk Malam Keakraban selama dua hari ke depan. Dan sudah diputuskan bahwa aku dan Rin termasuk dalam rombongan yang berangkat awal.

Kami bekerja sampai malam. Seusai menyelesaikan urusan dekorasi, kami mulai memasang puluhan tenda di tanah bertingkat yang mirip terasering itu. Di tengah-tengah pekerjaan, Rin menyelaku. “Ke dapur, yuk. Anak-anak konsumsi bawa mie instan banyak banget. Kita bantu masak.”

Aku menyapu sekitarku. Anak-anak lain yang sedang mendirikan tenda tampak begitu kelelahan. Benar juga, mereka pasti kelaparan. Aku berpaling lagi kepada Rin, lantas mengangguk pelan. Maka, aku berjalan mengikutinya. 

Kami melangkah melalui jalan setapak yang menanjak. Remang, juga sepi. Masih belum banyak penerangan yang dipasang sehingga cahaya bulan menjadi satu-satunya yang menerangi jalan setapak. Meski purnama telah lewat, tapi cahayanya masih bisa membuatku melihat jalan yang kulalui.

Rin berhenti tiba-tiba, membuatku ikut-ikutan berhenti. Saat ia berbalik, wajahnya terlihat dingin. Ia tak tersenyum kali ini. “Ngapain kamu jalan di belakangku?”

Pertanyaan itu membuatku tergugu. Apa maksudnya?

“Kenapa kamu gak pernah mau jalan di sebelahku?”

“Eh? Aku—”

“Bukannya kita teman?”

Teman? Selama ini, ia menganggapku teman?

“Tau gak? Kamu tuh selalu menghindari semuanya termasuk aku. Kamu membenciku?”

Aku segera menggeleng cepat. Benci? Aku tak pernah sekali pun membencinya. Aku menghindar mungkin karena semua orang juga menghindariku. Tapi, kalau kupikir-pikir, tak pernah sekali pun Rin mencoba menghindariku. Apakah aku sudah melakukan kesalahan? 

“Aku gak pernah membencimu. Cuma ya … aku terlalu terbiasa … sendirian. Aku mungkin … gak begitu cocok …berteman.”

“Maksudnya … kamu gak pernah nganggap aku teman?”

Pertanyaan itu menohokku, tapi aku tak bisa berbohong. Perlahan, aku menggeleng.

Rin hanya mendesah cepat. Lalu, ia tersenyum. Tapi, senyuman itu sama sekali tidak manis, bahkan terlihat ganjil. “Oke, aku ngerti.”

Ketika Rin berbalik dan pergi, aku menyadari sesuatu. Mungkinkah Rin salah paham? Aku segera mengejarnya. Saat aku telah meraihnya, kupaksa ia bertatapan denganku. “Tapi … aku pengin temenan sama kamu.”

“Hah?!”

“Biasanya aku bakal nyerah untuk bisa temenan sama siapa pun. Tapi … kalau orang itu Rin … gak tahu kenapa, aku gak pengin nyerah.”

Kami terdiam lama. Setelah beberapa saat yang membuatku tegang, sebuah gelak tawa meledak di hadapanku. “Kamu ini … aneh! Kukasih tau ya, kita emang udah jadi teman, Dy. Emangnya selama ini kamu anggap hubungan kita ini apa?”

“Umm … teman sekelas?”

Ia tertawa lagi. Setelah puas, ia memelukku. Aku tersentak karenanya. Agak canggung, aku berusaha melepaskan diri. Tapi, dekapannya justru makin erat. Mungkinkah seperti ini rasa dekapan seorang teman? Rasa hangat menyelubungiku rapat seolah melindungiku dari serangan angin malam yang dingin. Aku tidak tahu sampai kapan pertemanan ini bertahan. Tapi, aku akan mempertahankannya selama aku bisa.

Finally, I could reach her....
Share:

0 komentar:

Posting Komentar