8 Juli 2011

, ,

Nyanyian Hujan

Satu demi satu iramanya mengguyurku
Di ujungnya kutemukan diriku
Dalam lantunannya yang merdu
Membeku membisu dalam deru
Bersama hasrat bumi 'tuk merengkuh
Air langit yang perlahan jatuh


Hujan. Ketika aku hadir dalam indahnya lantunan langit yang merinai jadi serbuk air, aku terbasuh. Hadirnya ketenangan itu membuat pelita kecil di hatiku membuncah ke seluruh diriku. Melebur jadi satu. Aku seperti memiliki duniaku sendiri. Dunia yang penuh dengan mimpi. Dan itulah makna hidup, untuk mau berani bermimpi.

Mimpi. Apa itu mimpi? Aih, aku ngomong apa sih? Kenapa dari ngomongin hujan, tiba-tiba beralih ke mimpi? Ah, sudahlah (gakjelas.com).

Yang jelas, aku merindukan hujan. Tiap suara rintiknya yang jatuh satu demi satu melumuri bumi ... seolah nyanyian. Aku seolah mendengar musik yang amat merdu, yang dinyanyikan langsung oleh langit. Untukku. Dan untuk semua orang yang mampu melengkungkan senyum menyambut hujan. Tapi, sepertinya langit belum ingin berdendang untukku. Ia masih begitu sabar menahan air matanya berderai ke bumi. Aih, belum saatnya. Kata-kata itu yang seolah senantiasa dibawa angin kepadaku.

Dan pada akhirnya, aku tetap harus bersabar. Demi lagu dari Yang Kuasa kepadaku. Dan demi ungkapan syukur yang biasa kuutarakan kepada-Nya. Tuhan, rahmatilah hamba-hamba-Mu yang tak pandai berterima kasih ini. Berkahilah kami ... meski tak jarang rezeki dari langit yang Kaulimpahkan disikapi dengan wajah-wajah kusam.

Hujan itu ... semoga aku selalu bisa mengucap Alhamdulillah sebagai ucapan salam kepadanya. Kepada dia yang juga punya caranya sendiri untuk bersujud kepada-Mu, yang dengan sukarela Kauturunkan dari singgasananya yang berarak di atas sana hanya untuk melebur bersama bumi. Karena dia tahu bahwa Kau akan membawanya naik kembali. Itulah roda takdir. Siklus kehidupan.

Ada kalanya di atas, ada kalanya di bawah. Ada kalanya berhasil, ada kalanya gagal. Tapi, selama mimpi masih melekat dalam diri kita, sesering apapun kita jatuh, kita akan selalu punya cara untuk bangkit. Entah bagaimana, selalu ada cara. Karena Tuhan tak akan pernah meninggalkan kita sendirian. Seperti halnya Tuhan yang senantiasa ada dalam tiap titik suara hangat sang hujan.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar