27 Juli 2011

,

Apa Salah Komik?

Apa sih kesan yang pertama kali muncul dari bacaan bernama komik? Bacaan anak-anak yang sederhana dengan gambar dan cerita. Ya, komik cenderung dikategorikan sebagai bacaan anak-anak untuk hiburan. Bahkan tidak sedikit orangtua yang menganggap komik tidak layak dikonsumsi anak-anak karena isinya yang sama sekali tidak mendidik. Tidak hanya itu, selain dicap buruk di masyarakat, komik juga merupakan bacaan terlarang berada di perpustakaan. Bahkan tidak jarang siswa dihukum karena membawa komik ke sekolah.

Sebenarnya tidak sepenuhnya benar seperti itu. Komik bukan hanya adalah bacaan anak-anak. Di Jepang, yang merupakan pengekspor komik terbesar di Indonesia, komik tidak hanya dikategorikan sebagai bacaan anak-anak saja, tetapi juga ada yang dikategorikan bacaan remaja hingga dewasa tergantung dari isi komik itu sendiri. Namun, setelah komik-komik tersebut masuk ke Indonesia, penyensoran dan pengkategorian komik menjadi berubah drastis. Ada komik untuk dewasa dikategorikan komik anak-anak, misalnya saja adalah komik Crayon Shinchan, hampir tak ada anak yang tidak mengenal komik yang satu ini. Padahal di Jepang, komik Crayon Shinchan dikategorikan sebagai bacaan dewasa. Itu adalah sedikit contoh bagaimana pengkategorian komik di Indonesia kurang berjalan baik.

Kembali ke permasalahan awal, komik tidak hanya berisi cerita yang hanya sekadar cerita. Sepanjang saya sendiri mengkonsumsi komik sedari kecil, di balik cerita-cerita dalam komik yang notabene sering diasumsikan tidak mendidik oleh kebanyakan orang, di sisi lain komik juga menyiratkan pesan moral. Antara lain tentang persahabatan, perjuangan hidup, prinsip, kesetiakawanan, konflik, kepahlawanan, bahkan sampai nasionalisme.

Sebagai contoh, komik yang saya sendiri sangat menyukainya karena pesan moral yang dikandungnya, adalah komik Whistle. Komik ini menceritakan tentang seorang anak SMP yang berusaha keras untuk menjadi seorang pemain sepakbola profesional. Padahal pada awalnya dia hanyalah seorang pemungut dan pembersih bola. Tetapi karena sangat menyukai sepakbola, dengan usaha yang dimulainya dari nol itulah akhirnya ia bisa merangkak naik sedikit demi sedikit menjadi pemain yang bisa diandalkan oleh timnya. Pengarang komik ini, Daisuke Higuchi, seolah ingin mengatakah bahwa seburuk apapun kemampuan seseorang dalam suatu bidang, asalkan menyukainya dan terus maju untuk menggapainya, tidak ada yang tidak mungkin.

Itu hanyalah salah satu dari sekian banyak komik yang beredar. Memang tidak dipungkiri bahwa ada komik-komik yang mengetengahkan tentang kekerasan, semisal komik Naruto, Dragon Ball, dll. Namun, di balik itu semua juga tersirat makna bahwa kebaikan selalu menang atas kejahatan.

Contoh di atas adalah jenis komik yang mengetengahkan tentang perjalanan kehidupan manusia. Namun, sekarang ini pun tidak sedikit komik-komik tentang pendidikan. Seperti komik hasil karya seorang fisikawan Indonesia, Prof. Yohanes Surya, PhD, yang dibawakan ala komik Jepang atau Manga dengan tokohnya Archi dan Meidy. Komik yang bertema tentang fisika ini menceritakan tentang sepasang anak kembar yang menjalani kehidupan sebagai anak sekolah dasar. Segala kejadian dalam kehidupan mereka di sekolah dan rumah, sesuai dengan konsep dari ilmu-ilmu dasar fisika. Petualangan yang terjadi juga diselingi dengan humor-humor segar. Merupakan media yang mengasyikkan sekaligus bisa mendidik anak untuk belajar Fisika.

Jadi, janganlah selalu menjadikan komik sebagai tersangka utama dalam kemalasan sang anak belajar. Bukan salah komik jika anak lebih suka membacanya daripada buku pelajaran. Peran para orangtua sendiri juga tidak bisa lepas dari permasalahan ini. Orangtua seharusnya dapat bertindak secara bijak dalam mendisiplinkan anak-anak mereka. Jangan selalu mengkambinghitamkan komik sebagai biang keladi.

Akhirnya, saya hanya dapat mengatakan bahwa kita harus lebih selektif dalam memberikan bacaan untuk anak. Jika hanya buku pelajaran saja, tentu anak akan bosan. Sekarang ini, komik-komik pendidikan dengan beragam topik bahasan sudah banyak beredar di pasaran. Tidak ada salahnya orang tua mengeluarkan dana lebih untuk komik-komik semacam ini. Cobalah memberi anak komik-komik yang bertema pendidikan. Anak-anak mendapatkan hiburan yang menyegarkan sekaligus dapat belajar dari komik-komik tersebut.

Mari kita kembangkan komik pendidikan. Mengemas pendidikan dalam bacaan menghibur seperti komik, tidak ada ruginya, bukan?
Share:

0 komentar:

Posting Komentar