8 April 2011

,

[Cerpen] Bintang Penjaganya

Baik, ini adalah cerita tantangan dari situs penulis kemudian.com. Cerita ini dibuat berdasarkan lirik lagu yang berjudul Every Heart versi bahasa Inggris, yang dinyanyikan oleh BoA. Lirik lagunya seperti ini...


Tell me babe, how many do I shed my tears?
Every Heart, Every Heart is not a gentle yet

Shall I do? I can never say my loneliness
Every Heart, doesn't know so what to say oh what to do
was afraid of darkness cause I felt that I was left alone
So I prayed for help to the distant million stars
Round & round the planets revolve round the sun
And we always seek after love and peace forever more
Growing growing woe baby we can work it out
Look up at the sky every heart is shining all today

Show me now, What kind of smile do I come across
Every heart, every heart can take a step towards the dreams

All of us, what to take a lasting happiness
Whenever you feel sad, I wanna hold you
& give you a sound sleep

Someday every hearts, gonna free and easy
We have peace of mind
Someday all the people find the way to love

Goes & goes the time goes on we are not alone
We live on together and we will find some precious things
Sometime we will smile sometime we will cry somehow
Don't forget believing yourself - Tomorrow's never die

There is the warm heart places on my mind
In my earlist day's there and it's so sweet
There are many stars they have talk with me so kind
They say yes always time's friend of mine so shine

Round & Round the planets revolve round the sun
And we always seek after love and peace forever more
Growing growing woe baby we can work it out
Look up at the sky every heart is shining all today

Goes & goes the time goes on we are not alone
We live on together and we will find some precious things
Sometime we will smile sometime we will cry somehow
Don't forget believing yourself - Tomorrow's never die

Dan ceritanya seperti ini... 



Rui terduduk di padang rumput di sisi desa. Tempat kesukaannya kala ia ingin sendiri. Ia melihat lentera bundar di atas sana bercahaya sabit menaungi bumi yang telah dilumuri kegelapan. Terkecuali padang rumput ini dimana puluhan pelita kecil beterbangan di sekelilingnya. Begitu indah, hingga membuatnya tak mampu berlama-lama kehilangan senyuman. Pun senyum itu tak mampu mengeringkan sungai yang telah mengalir di wajahnya sedari tadi.

Ia tergugu. Apakah arti sebuah kematian? Mengapa harus ada kehilangan? Di saat-saat seperti ini, tak seharusnya ia berada di sini. Seharusnya ia di sana kan? Bersama mereka mendoakan jasad sang pemilik mata teduh itu. Seharusnya ia di sana kan? Untuk bisa berucap perpisahan terakhir kepada orang itu. Kepada seorang lelaki yang senantiasa mengobarkan kembali pelita yang hampir redup di hatinya sejak ia kehilangan sosok seorang ibu. Seperti bintang di langit sana, yang mengobarkan kembali lentera sabit yang tak mampu menyinari seluruh malam sendirian. Seperti bintang di langit sana, yang menjaga bulan agar tak meredup cahayanya. Dan sekarang, ia kehilangan bintang lagi. Ataukah lelaki itu sudah berada di atas sana bersama bintang-bintang lain? Ia melihat bintang yang teramat terang dengan sudut matanya, jelmaan lelaki itukah?

Sayup-sayup, Rui mendengar sebuah nada pilu dari kejauhan. Irama yang kerap kali lelaki itu lantunkan untuk mengantarnya terlelap. Rui menoleh ke arah sumber suara demi menemukan sesosok anak laki-laki yang bermata kelabu persis dengan lelaki itu berdiri tak jauh darinya. Anak lelaki bernama Aras itu memandangnya pilu, meski lagu itu tak berhenti didendangkan. Saat Aras duduk di sisinya, rambut perak mereka berpendar indah tertimpa cahaya yang sama seperti yang menimpa padang rumput ini.

Perlahan, Aras mengayunkan tangannya. Formasi indah yang tak pernah mampu ditandingi oleh Rui itu mengundang embun-embun bekas hujan petang tadi. Membuatnya berkumpul menyelimuti mereka, dan melayang bagai dinding air yang mengitari keduanya. Lalu, alunan nada itu berhenti. Rui menoleh seketika. Aras hanya membalas dengan sekulum senyum. Kalau diperhatikan baik-baik, itu adalah seringai kepedihan. Sama seperti senyuman yang menghias wajah Rui sekarang.

Aras mengangkat tangannya pelan-pelan. Ia meraih kepala Rui dan membelainya lembut. Bukannya membuat Rui tenang, sentuhan itu justru membuat airmatanya menderas. Sedetik berikutnya, Aras melesakkan Rui ke dalam pelukannya. Rasa hangat mengaliri sekujur tubuh Rui seketika.

“Menangislah sepuasmu,” bisiknya lembut. “Aku akan di sini. Aku akan selalu ada di sini. Untukmu.”

“Kita akan selalu bersama?” isak Rui. Ia mencoba menarik nafas, tapi udara justru mencekatnya. “Kau takkan meninggalkanku seperti Ayah?”

Rui bisa merasakan anggukan pelan Arash di balik bahunya. “Kita akan melewati ini bersama.”

Kata-kata yang indah, paling tidak bagi Rui. Karena ada janji yang tersirat begitu dalam, membuat harapannya membuncah. Menyadarkannya bahwa ia tak sendirian. Meski ia kehilangan mata teduh ayahnya, meski ia kehilangan suara kasar yang selalu melagukan alunan itu untuknya, ia tetap tak akan sendirian kan?


Aras melepas dekapannya, lantas menyeringai pada Rui. Mata kelabu yang mengabut itu tak mampu tertutupi senyuman Aras, membuat Rui tambah ingin menangis. Aras menggerakkan tangannya lagi, membuat embun-embun yang tadinya menyelimuti mereka mengumpul di telapak tangan kanannya. Tangan kirinya memainkan angin di atas kumpulan embun itu, mengeraskannya, lalu membentuknya. Rui tak tahu apa yang tengah dibentuk oleh Aras, maka ia menengadah. Hanya seutas senyum yang diperolehnya.


Arash meraih tangan Rui, lalu menaruh kumpulan embun yang telah mengeras itu di atasnya. Rui menunduk, menatap sebuah kristal es berbentuk bintang yang berkilau keperakan. Kilau yang sama seperti rambut mereka. Bentukannya masih kasar, tapi anak umur 7 tahun mana yang bisa membuat kristal es yang lebih baik dari ini? Bagi Rui, kristal es ini indah sekali.

“Mulai sekarang, biarkan aku menjagamu ya, Dik?” ucap Aras lirih.

Rui menengadah. Sorot mata kelabu Aras yang sayu itu membuatnya tak mampu untuk menjawab. Di hari-hari biasa, ia akan sebal sekali mendengar panggilan ‘Dik’ keluar dari mulut Aras. Toh, Rui hanya lahir beberapa menit lebih akhir kan? Tapi sekarang, Rui tak ingin mempermasalahkannya lagi. Karena Arash akan di sini bersamanya. Sampai kapanpun takkan meninggalkannya. Dan ia takkan dibiarkan sendirian lagi. Pada akhirnya, Rui tertawa kecil. Tapi ia juga makin menangis. Hasil dari pembauran kesenangan dan kesedihan di dalam hatinya. Kebahagiaan yang perih. Aras pasti juga merasakan hal yang sama. Dengan ini, batin mereka terikat makin erat.

Ayah, apakah pelitamu itu kauwariskan juga pada bocah lelaki di hadapanku ini? Apakah aku bisa menemukan bintang penjagaku di dalam dirinya, Ayah?

Perlahan, angin hangat menyepoi menyelubungi mereka. Mengusir dinginnya malam yang menghantui padang rumput ini. Rui merasa seolah ayahnya sedang merengkuh mereka berdua, kembar dampit kesayangan ayahnya. Dan mereka pun tertawa bersama, seperti di masa-masa lama.

Link asli cerita ini di kemudian.com
Share:

0 komentar:

Posting Komentar