1 Maret 2011

[Fanfic] I Hate Him

DISCLAIMER: Magic Kaitou © Aoyama Gosho


Malam ini gelap. Maksudku benar-benar gelap, secara harfiah. Karena lautan awan bergulung-gulung di langit Tokyo. Ditambah lagi mati listrik karena generator utama kota ini meledak satu jam yang lalu. Musababnya? Siapa lagi kalau bukan si maling brengsek itu. Gara-gara dia pula ayahku jadi sering telat pulang. Tidak terkecuali malam ini. Ia bilang, maling itu kirim surat peringatan lagi. Jadi, mungkin ayah bahkan tidak bisa pulang dulu. Semalaman ini aku akan sendirian di rumah.


Ah, apa ayah sudah makan malam ya? Aku jadi cemas.


Kulangkahkan kaki menuju bibir jendela yang memang sengaja kubuka. Memang benar-benar gelap. Cahaya bulan juga gagal menerobos benteng awan itu. Satu-satunya cahaya hanyalah beberapa lampu sorot besar dari kejauhan. Dari arah Museum Tokyo tempat pencurian itu sudah terjadi. Aku bisa mendengar raungan sirine mobil patroli polisi yang semakin mendekat.


Aku tersentak. Semakin mendekat? Apa jalur pelarian maling itu lewat sini? Aku bergegas ke meja belajar. Mencari senter. Semua laci kubuka dan menutupnya sekenanya saat tak menemukan apa yang kucari.


“Kutaruh dimana ya?” aku berpikir keras.


Pada saat itu, seberkas cahaya menyorot ke arahku dari belakang. Beriringan dengan suara seorang laki-laki.


“Mencari ini?” katanya, suaranya dalam, pelan, dan entah kenapa bulu kudukku berdiri seketika.


Aku segera berbalik dan mendapati sesosok tubuh di hadapanku. Memang seorang laki-laki. Berpakaian serba putih, mulai dari topinya, jubahnya, hingga sepatunya. Ia memakai kacamata monocle. Aku terlonjak saat mulai menyadari sedang berhadapan dengan siapa.


“K—K—Ki—Ki—”


Aku terlalu terkejut untuk segera bereaksi. Belum sempat aku berteriak, maling itu bergerak cepat membungkam mulutku. Aku memandangnya, setengah marah setengah ngeri.


“Psst … kalau kau berteriak, mereka akan tahu aku di sini,” bisiknya lembut. Meski selembut apapun ia bicara, aku tak peduli. Dia kriminal, barusan melakukan pencurian, dan sekarang membobol masuk rumah orang tanpa ijin. Kalau kedua tanganku tidak terkunci oleh sebelah tangannya dan kakiku tidak terpepet antara kakinya dan dinding, aku sudah menghajarnya. Apa boleh buat, aku benar-benar tak berkutik.


Mungkin ini hanya perasaanku saja, tapi dia seperti terengah-engah. Dan kunciannya padaku melonggar. Aku menatapnya lekat. Karena gelap, wajahnya tidak terlihat jelas. Tapi, ia tampak kesakitan. Setelah agak lama, ia benar-benar melepaskanku dan jatuh terduduk. Aku bisa saja langsung teriak saat itu juga, tapi sesuatu membuat niatku urung. Ada noda gelap di lengan kirinya, menodai kostum putihnya itu. Aku terkesiap. Bingung. Apa aku harus menelpon polisi sekarang? Atau mengecek lukanya.


Setelah pertarungan hebat di kepalaku, akhirnya pilihan kedua yang kuambil. Mungkin aku akan menyesalinya. Tapi, kalau dihadapkan dengan seseorang yang tengah terluka, aku bisa apa?


Kuhampiri dia, dan berjongkok di depannya. Aku memandangnya ragu-ragu.


“Apa itu luka tembak?” tanyaku. “Polisi yang melukaimu?”


“Hanya terserempet, tapi bukan polisi yang melakukannya.”


Bukan polisi!? Lantas siapa? Saat kutanyakan, ia hanya menggeleng. Tidak tahu. Aku menatapnya lagi, dan kusadari ia juga menatapku. Entah bagaimana, meski tak terlalu jelas, aku merasa sangat mengenal mata itu. Sekelebat, bayangan Kaito melintas. Buru-buru, segera kuusir bayangan itu dari benakku. Ah, tidak mungkin.


Pelan-pelan kubantu ia membuka jasnya. Kupandangi lengan kemeja birunya ragu-ragu. Kurenggut bagian yang sudah koyak dan merobeknya. Saat kulihat lukanya, aku bergidik. Meskipun dia bilang itu hanya terserempet, tetap saja bekasnya dalam. Dan ia sudah kehilangan banyak darah. Sepertinya, pelarian tadi benar-benar menguras energinya. Kuambil senter yang tergeletak di lantai dan mulai bergegas keluar kamar. Mencari kotak obat.


Aku menemukannya di dekat dapur, dan bergegas kembali. Begitu sampai, kesadarannya sudah mulai habis. Aku pias.


“Eh, jangan pingsan dulu,” aku benar-benar gelagapan sekarang. Panik. Luka seperti ini butuh jahitan. Minimal harus dibawa ke klinik. Kalau urusan jahit-menjahit kain sih, aku tidak terlalu payah. Tapi, jahit-menjahit kulit manusia? Aku ngeri membayangkannya.


Kuputuskan untuk memberikan pertolongan pertama saja. Kubersihkan lukanya dan membalutnya dengan perban. Aku benar-benar hanya bisa melakukan itu.


Aku menoleh padanya demi mendapatinya sudah tidak sadarkan diri. Atau mungkin juga hanya tertidur. Keringatnya banyak sekali. Kuambil sapu tangan yang selalu kubawa dan menyeka keringat di wajahnya perlahan. Pandanganku beralih pada kacamata monoclenya. Iseng, kugerakkan tanganku ke sana. Ingin sekali kulepas kacamata sebelahnya itu. Detik terakhir, tanganku terhenti. Aku mengernyit. Sebenci apapun aku padanya, rasanya tidak etis kalau kulakukan itu. Jadi, kuurungkan niatku.


Aku beranjak duduk di sebelahnya. Ribuan tanya menghampiri benakku usil. Untuk apa ia mendatangiku? Oke, dia memang sedang terluka. Mungkin tempat persembunyiannya terlalu jauh untuk dijangkau dalam kondisinya yang hampir kehabisan darah itu. Mungkin ia sudah putus asa, hingga memutuskan untuk singgah di rumah pertama yang dilihatnya. Tapi tetap saja, kenapa dia sepercaya itu padaku? Bagaimana kalau aku langsung melaporkannya ke polisi begitu melihatnya? Aku masih tidak mengerti.


Aku menoleh lagi padanya. Mengingat reputasinya, sepertinya aku memang tak perlu punya kemampuan analisa tingkat tinggi untuk tahu bahwa dia memang nekat dan tak bisa ditebak. Yah, dia kan memang maling gila. Mungkin tak ada yang bisa menduga apa yang akan diperbuatnya.


Aku menyerah berspekulasi. Lewat jendela, kutahu kalau keadaan masih serba gelap. Dan cahaya dari lampu sorot dari kejauhan itu belum dimatikan. Entah kenapa makin lama makin kabur. Bukan hanya lampu sorot itu saja, tapi segalanya kabur. Perlahan, kegelapan menyelimuti penglihatanku. Bahkan suara sirine sayup-sayup mereda. Disusul dengan kekosongan sempurna. Aku meninggalkan kesadaranku demi menyongsong alam mimpi yang tak terduga.


KRIIIIIINGGGG


Aku terbangun seketika. Kepalaku terasa pening. Jam wekerku masih ribut menghentak keheningan pagi. Aku langsung terduduk di atas tempat tidur. Eh? Bukankah semalam aku tertidur di lantai dengan bersandarkan tempat tidur. Apa aku masih bermimpi? Apa jangan-jangan kedatangan maling gila itu ke kamarku cuma mimpi? Kuusap wajahku kasar. Ayo bangun, batinku.


Dari sudut mataku, aku menangkap sesuatu yang tidak seharusnya ada di meja belajarku. Sebuah kartu dan… bunga mawar? Bingung, aku beranjak menghampiri meja dan mengambil kartu itu. Tak ada tulisan, hanya gambar. Gambar chibi wajah yang menyeringai dengan topi tinggi dan kacamata monocle. Kuremas kartu itu keras-keras. Aku tak peduli meski buku-buku jariku terasa sakit. Jadi, yang semalam itu bukan mimpi? Aku benar-benar sudah menolong maling brengsek itu? Dan sekarang dia sudah menghilang begitu saja. Kalau bertemu lagi, aku benar-benar akan menghajarnya. Aku menoleh pada bunga mawar yang tergeletak di atas meja. Aku mengambilnya dan melangkah menuju pojok kamar. Mencari tempat sampah.


Kubuang kartu dan bunga itu ke dalamnya. Aku berbalik, dan langkahku terhenti lagi. Aku tidak tahu kenapa. Ragu-ragu, aku berpaling lagi. Kuambil lagi bunga itu dari tempat sampah. Aku memandangnya lekat. Perlahan, kudekatkan bunga itu ke wajahku. Baunya harum. Tanpa sadar, aku memejam. Sambil menikmati aromanya, kurasakan angin sepoi dari luar. Sensasinya menyenangkan.


Aku beranjak menuju meja belajar. Dan meletakkan bunga itu hati-hati di dalam mug bekas yang kugunakan sebagai tempat alat-alat tulis. Tidak terlalu buruk. Refleks, aku tersenyum.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar