9 Februari 2011

Sejatinya Cinta

Hmmm ... sudah bulan februari ya? Bulan yang penuh dengan nuansa cokelat dan bunga dan pink. Ketika kaum hawa sibuk mencoreti tanggal demi tanggal sembari berdegup menanti tanggal 14, iklim romansa telah begitu kuatnya menyelusupi udara-udara bulan februari. Sampai sesak rasanya. Tak dinyana, ternyata para muslimah pun tak lepas dari sihir tanggal 14, tanpa mau tahu tentang histori Valentine itu sendiri.

Oh, ayolah. Itu hanya peringatan tentang hari kematian seorang pendeta katolik yang kabarnya banyak menulis surat cinta pada putri seorang sipir penjara selama masa penahanannya. Kenapa umat muslim harus ikut tergiur untuk merayakan peringatan macam begitu. Oke, anggap kalau itu bukan pendeta katolik. Tetap saja, tak satu pun kematian yang pantas dirayakan. Terutama karena itu bukan perayaan umat Islam.

Mungkin pembicaraan mengenai itu terlampau berat. Kita kembali saja ke pembahasan tanggal 14. Banyak yang mengobral kata cinta tanpa mau memahami lebih jauh mengenai maknanya. Cinta itu tak semestinya hanya diartikan dalam lingkup rasa saja. Sejatinya, cinta itu hanyalah sebuah kata kerja yang tak pantas hanya berada di hati dan mulut saja. Tanpa tindakan, cinta bukanlah apa-apa. Lantas, tindakan semacam apa? Apakah tindakan yang melibatkan rangsangan kulit dua insan berlawanan jenis yang nyata-nyata keabnormalannya? Ataukah tindakan yang jauh lebih elegan dan beradab menurut Islam? Saya sih lebih memilih yang kedua.

Saya pernah baca majalah Elfata edisi 2 volume 11 tahun 2011, bahwa ada 4 macam cinta yang perlu kita ketahui. Apa saja? Pertama, Cinta kepada Allah SWT. Cinta yang semacam ini agaknya masih belum berdasarkan tuntutan syariat. Karena kecintaan model ini belum bisa menyelamatkan seseorang dari adzab neraka. Orang-orang musyrik, yahudi, dan para penyembah salib pun amat mencintai Allah SWT. Hanya saja jadi tidak berguna karena tidak adanya petunjuk dari Rasulullah SAW.

Kedua, Cinta yang dicintai Allah SWT. Model cinta inilah yang memasukkan kita ke dalam Islam dan mengeluarkan kita dari kekufuran. Ketiga, Cinta karena Allah SWT dan di jalan Allah SWT. Menurut saya, cinta semacam ini yang paling sulit kita capai dan paling riskan. Kenapa? Karena cinta pada taraf ini menuntut kita agar mencintai apa yang dicintai Allah SWT dan membenci apa yang dibenci Allah SWT. Bisakah kita mencapai taraf itu? Tentu saja bisa, yang penting kan niat dan tindakan kita apa sudah mengarah ke sana atau belum. Yah, praktek memang tak selalu segampang teori. Mengucapkannya jauh lebih mudah daripada melaksanakannya. Kalau boleh jujur, saya juga belum bisa mencapai tahap ini. Tapi, ayo kita berusaha sama-sama.... ^_^

Terakhir nih yang paling berbahaya, Kecintaan bersama Allah SWT. Cinta semacam ini bisa masuk kategori cinta syirik. Lah, kok? Yah, soalnya kecintaan model ini membuat seseorang mencintai sesuatu sebanding dengan kecintaannya kepada Allah SWT. Ingat, lho… Barang siapa yang mencintai sesuatu bukan karena Allah SWT, tidak pula mencintainya di jalan Allah SWT, maka sesungguhnya dia telah menjadikannya sebagai tandingan bagi Allah SWT. Inilah cintanya orang-orang musyrik.

So, berhati-hatilah mencintai sesuatu atau seseorang. Sudahkah rasa itu melibatkan Allah SWT di dalamnya? Ataukah rasa itu hanya berdasarkan hawa nafsu dan emosi semata? Jawaban ada pada diri kita masing-masing. Ingat, cinta itu kata kerja, maka berbuatlah sesuatu. Tidak bisa dikatakan kalau kita cinta kepada Allah SWT jika kita tak mau sholat, tak mau puasa, tak mau zakat, dan tak mau menjalankan syariat. Berbuatlah, Kawan. Semoga Allah SWT kan menambah kadar cinta kita kepada-Nya hingga melebihi apapun. Yakinlah, lalu berbuatlah.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar