6 Februari 2011

Say No to "Pacaran"

Assalamu’alaykum Warrahmatullahiwabarakatuh
Wa’alaykumussalam Warrahmatullahiwabarakatuh

Barusan aku ditanya kakakku. Pertanyaan yang membuatku merasa sedikit aneh.
Apa?

Kok sudah umur segini masih jomblo saja sih? Apa gak laku? Mau Mbak cariin pacar po? Semacam itu. I’m silent suddenly =_=
Kenapa merasa aneh dengan pertanyaan itu?

Kenapa malah balik nanya!?
Tentu saja aku merasa aneh. Kok di masyarakat sekarang, pacaran itu seperti tradisi ya? seperti sudah melekat di darah daging setiap orang. Kalau gak punya pacar, dibilang gak laku. Kalau gak punya pacar, ke laut aja =_=
Padahal, aku berusaha keras untuk menjalankan agama dengan sebenarnya, tapi di mata mereka, salah lagi salah lagi.
Bukan kamu di mata mereka yang penting, tapi kamu di mata Sang Pencipta. Memang, sulit menghadapi umat muslim yang tanpa ilmu. Semakin dijelaskan, mereka akan semakin mementahkan perkataan kita dengan sesuatu yang tak ada dasarnya sama sekali.

Sebenarnya pacaran itu apa sih? Bikin pusing aja.
Menurut asal bahasanya, pacaran itu saling mengenal dalam rangka menuju jenjang pernikahan, kira-kira pengertiannya setara dengan ta’aruf. Tapi, sekarang ini, pengertian ataupun realisasi pacaran sudah dilencengkan jauh sekali menuju taraf kebobrokan. Pacaran bukan lagi suatu kegiatan saling mengenal dalam rangka menuju jenjang pernikahan, tapi sudah menjadi suatu hubungan antara laki-laki dan perempuan bukan mahram yang kegiatan dalam pacaran itu sendiri jauh dari ajaran Islam. Sekarang, bahkan anak-anak SD yang masih bau kencur sudah mulai mengenal pacaran dan tidak sedikit yang menjadi pelaku pacaran.

Hah? Anak-anak SD? Kok bisa?
Ya bisa. Seperti apa dulu lingkungannya? Apalagi dengan racun yang diberikan televisi dewasa ini. Tidak jarang orangtua, saudara, atau lingkungan sekitar ikut mendukung kegiatan rusak itu. Belum lagi, dengan kondisi bangsa Indonesia kita yang entah sejak kapan mulai berkiblat pada paham kebarat-baratan dan menghinakan dirinya sendiri. Memilukan, memang.

Memang benar. Dulu, mereka menjajah kita dengan kekerasan. Sekarang, mereka menjajah kita dengan sesuatu yang bisa meluluhlantakkan karakter anak bangsa dari dalam dirinya sendiri. Entah harus bilang apa.
Ya, tak hanya bangsa kita. Sekarang ini, mereka menyerang Islam dari luar dan dalam sekaligus. Dari luar dengan membombardir negeri-negeri Islam di timur tengah sana. Dari dalam dengan memasukkan paham kebarat-baratan ke dalam umat islam itu sendiri. Tinggal sasar saja umat muslim yang gak terlalu paham agama dan beribadah hanya dengan modal jadi makmum.

Salah satunya dengan pacaran itu ya?
Ya. Mana ada sih pacaran jaman sekarang yang terbebas dari pandang-memandang, berdua-duaan, pegangan tangan, pelukan, cipika cipiki atau ciuman yang lain, dan masih banyak yang lebih ngeri lagi. Oh ya, kita juga harus hati-hati tuh dengan HP kita, bisa-bisa bikin kita kena azab Allah Azza wa Jalla kalau tidak dipergunakan dengan bijak.

HP? Maksudnya Handphone? Apa hubungannya?
Sekarang aku tanya, apa kamu sering SMS-an atau telpon-telponan dengan lelaki yang bukan mahrammu?

Ya… sering, sih. Salah ya?
Memang sah-sah saja. Tapi berhati-hatilah dengan apa yang kalian bicarakan. SMS-an atau telpon-telponan itu termasuk bentuk lain dari berkhalwat (berdua-duaan tanpa disertai mahram). Dalam hal ini, chatting juga termasuk. Kenapa? Karena tak seorang pun selain kalian berdua yang ambil peduli dengan apa yang kalian bicarakan. Saat berinteraksi dengan lawan jenis lewat SMS, telpon ataupun chatting, seolah dunia milik berdua. Tak jarang kita jadi lupa waktu.

Astaghfirullah… yang begitu termasuk berkhalwat juga!? Memang, pembicaraan kami tidak melulu sekitar urusan agama ataupun hal yang kami anggap penting untuk dibahas. Tidak jarang itu hanya SMS atau telpon gak penting. Terus bagaimana? Sudah kepalang tanggung. Masak HP mau dijual biar gak usah SMS-an atau telpon-telponan lagi?
Ya gak perlu seekstrim itu. HP itu juga bisa kita pergunakan untuk hal yang baik kok. Misalnya saja dakwah. Jadi, kalau kita dapat gratisan SMS, kan sering tuh ada gratisan SMS dari kartu SIM yang banyak beredar sekarang, jangan kita gunakan untuk SMS-an gak penting. Mubazir, kan?

Lalu?
Kita bisa kirimi kutipan ayat-ayat Al Qur’an atau hadits-hadits Rasulullah atau nasehat-nasehat kebaikan ke orang-orang yang kita kenal. Yang seperti itu kan lebih bermanfaat dan bisa menjauhkan kita dari fitnah. Ini sesuai dengan kandungan isi surat Al Asr yang menyuruh kita untuk saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran. Iya gak? Dan kita akan bisa menghemat pulsa dan tidak boros. Gak lucu kan kalau uang saku bulanan kita terkuras hanya untuk beli pulsa? So, kalau kita bisa pergunakan HP dengan bijak, pahala-lah yang akan menanti kita, bukan dosa. Siapkah kamu bikin perubahan?

Yup. But, it’ll be a bit difficult. Gimana dong kalau temanku itu yang mulai memancingku untuk SMS-an dengannya? Kalau kubalas singkat-singkat, nanti dia kira aku marah. Kalau tidak kubalas, dia gak akan berhenti SMS.
Gampang. Tegaskan hubunganmu dengannya. Hanya teman. Sebatas teman, gak lebih. Jangan masuk ke kawasan TTM atau malah HTS-an, apalagi pacaran. Kalau tujuan dia SMS kamu masih belum kelihatan, tanyakan. Gak usah takut, kamu punya hak untuk tanya. Kalau memang tujuannya memang penting, segera tanggapi langsung ke pokok permasalahan, jangan bertele-tele dan jangan memancing dengan kata-kata yang memungkinkan dia untuk membalas SMS lagi. Kalau kepepetnya dia SMS lagi, lihat isi SMSnya. Kalau butuh dibalas, balas seperlunya. Kalau gak butuh dibalas, gak usah dibalas. Kalau setelah gak ada balasan darimu, tapi dia tetep ngotot SMS, biarin aja, nanti juga capek sendiri. Itu kalau ada tujuannya. Kalau dia SMS hanya untuk iseng dan isinya memang gak penting, biarin aja gak usah ditanggapi, buang-buang pulsa.

Lalu, gimana caranya agar kita gak terperosok ke kegiatan rusak semisal pacaran?
Ilmu. Kamu ngaku orang Islam? Pelajarilah ilmu mengenainya. Karena agama Islam bukanlah agama yang bisa dijalankan tanpa ilmu. Jangan sampai kamu jadi orang Islam yang hanya modal jadi makmum dan hanya bisa mengikuti apa kata orang tanpa tahu dasar dan dalilnya dengan jelas, atau kamu akan terperosok lebih dalam. Ingat! Ilmu tanpa agama itu lumpuh, sedangkan agama tanpa ilmu itu buta. Keduanya tak terpisahkan.

OK! Konkretnya?
Pertama, jaga pandangan. Jangan suka mengumbar pandangan ke hal-hal gak penting. Kalau berhadapan dengan lawan jenis, jangan ditatap lama-lama ntar keenakan (kalau pengen lebih aman, gak usah ditatap sekalian).
Kedua, tutupi aurat. Kalau yang ini udah ngerti kan?

Yup, kan sebelumnya sudah kita bahas. Terus apa lagi?
Ketiga, jangan berdua-duaan dengan lawan jenis. Ini berlaku bukan cuma waktu dua orang cowok cewek berduaan di  tempat gelap, tertutup, sepi, gak ada yang lihat. Bukan cuma itu. Boncengan, mojok di kelas, mojok di kantin, mojok di perpus, pokoknya segala yang mojok-mojok yang orang lain gak ambil peduli dengan pemojokan keduanya itu, itu termasuk berdua-duaan. SMS-an, telpon-telponan, chatting, surat-suratan (emang masih jamannya surat-suratan ya?), saling kirim e-mail, itu juga termasuk. Jadi, kamu musti super hati-hati dengan bentuk lain dari berdua-duaan, konotasinya ada banyak.
Terus, kalau bicara, gak usah dimanis-manisin, dilembut-lembutin, atau dibuat mendayu-dayu atau mendesah-desah (idih, emang apaan ya?). Kalau bicara, biasa aja kali. Gak usah lebay. Mimik atau ekpresi wajah saat bicara juga gak usah dibuat aneh-aneh. Buat gerakan seminimalisir mungkin.
Kalau jalan, jangan lenggak-lenggok kayak model catwalk (kucing aja kalau jalan lebih normal daripada model).

Terus?
Jaga diri, jaga hati. Terutama kalau kamu harus kerja bareng lawan jenis, cobalah minimalkan interaksi dengan mereka. Mungkin agak sulit, karena seringkali itu di luar kehendak kita. Yah, jaga hati kamu sajalah. Jangan mudah kepincut sama lawan jenis.
Jangan suka ngeliat, baca, atau dengar sesuatu yang bisa ngompor-ngompori kamu buat pacaran.

Waduh! Yang terakhir itu kayaknya agak susah nih. Itu sudah jadi penyakit parah terutama buat cewek. Cewek kan suka yang romantis-romantisan.
Makanya, hindari itu! Mungkin niat awal kamu cuma mau coba lihat. Duh, kok katanya sinetron ini ceritanya bagus ya? Terus kamu coba nonton. Yah, namanya juga sinetron, pasti bersambung kan? Ujung-ujungnya kamu jadi penasaran dan keterusan. Padahal, sinetron sekarang selalu berkitar masalah cinta-cintaan. Akhirnya, kalau iman gak kuat, kamu bisa tergoda buat pacaran. Iya gak? Baca buku juga sama aja. Kalau kamu gak pinter-pinter menyeleksi buku yang kamu baca, bisa-bisa kebablasan. Nonton film di bioskop juga musti pilih-pilih. Denger lagu juga jangan melulu yang temanya cinta-cintaan. Daripada itu, mending dengerin nasyid, atau puter aja murottal Al Qur’an di MP3 player kamu (kalau punya). Yang seperti itu jauh lebih banyak faedahnya. Bukankah Rasulullah menghimbau kita agar meninggalkan hal-hal yang sia-sia dan tak bermanfaat?

Wah, banyak ya?
Mungkin kesannya banyak, tapi setelah dijalani, gak kerasa lho! Coba aja.
Dan tentu saja, perbanyak mendekatkan diri pada Allah, perbanyak istighfar juga.

Kalau masih gak kuat? Kalau nafsu syahwat kita masih terlalu kuat? Bisa-bisa nanti tergelincir ke arah zina. Gimana cara menghindarinya?
Nikah.

What!? Aku tanya serius nih!
Aku juga jawabnya serius, kok.

Kenapa nikah?
Karena itu sunah Rasulullah. Bukankah Beliau pernah bersabda seperti ini? “Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kalian mampu, hendaklah menikah. Karena ia lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kehormatan.” (HR. Bukhari)

Kalau terbentur ijin orangtua? Apa jadinya kalau kita bilang ke ortu pengen nikah cepet? Nanti malah keluar macam-macam wejangan, tak jarang omelan. Entah kita masih muda lah, entah kita masih kuliah lah. Susah, nih. Lagian, kita juga gak boleh nikah tanpa ijin ortu kan?
Asal tujuan kita untuk nikah itu bener, gak cuma sebagai alat menghalalkan zina atau biar bisa dapet pacar yang gak haram dipacari, Allah sudah janji bakal nolongin kita kok.

Tahu darimana?
Rasulullah sendiri yang bilang: Tiga orang yang Allah wajib membantunya; orang yang menikah (karena) menghendaki kehormatan dirinya, budak yang hendak memerdekakan diri dengan membayar sejumlah uang kepada tuannya, dan orang yang berperang di jalan Allah.” (HR. Ahmad, Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Majah, Hakim)

Semoga ya?
Iya, kita yakini saja.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar